𓆩 NEGERI HANTU 𓆪10 Maret 1998; Sidang Umum MPR. Mahasiswa menolak terpilihnya kembali Presiden yang sudah berkuasa selama 32 tahun.
12 Mei 1998; Tragedi Trisakti. Empat mahasiswa Trisakti tewas, 681 orang luka-luka.
13, 14, 15 Mei 1998; kerusuhan terjadi diduga sebagai upaya pengalihan perjuangan mahasiswa untuk menuntut mundur Presiden dan kepemimpinan Orde Baru.
18 Mei 1998; para mahasiswa UI memutuskan melakukan aksi demonstrasi menuju gedung DPR RI dan bergabung dengan kelompok mahasiswa lainnya.
19 Mei 1998; aksi demonstrasi semakin besar, dengan jumlah demonstran dan aktivis semakin banyak.
21 Mei 1998; Presiden memutuskan mundur dari jabatan.
11 November 1998; Sekarang.
Hari itu, kota Jakarta terasa sunyi. Langit kelabu menyelimuti langit-langit gedung tinggi yang berdiri megah di sepanjang jalan Semanggi. Suasana masih terasa hening, beberapa orang sudah bangun untuk bersiap memulai aktivitas, beberapa masih mengumpulkan niat untuk mandi.
Hanya ada pria tua yang melintasi jalanan. Ia terlihat pucat dan lelah, bajunya compang-camping. Berharap dapat sesuatu untuk dimakan, ia rela memisah-misahkan sampah di pinggir jalan. Tak lupa juga ia ambil botol-botol plastik yang kemudian akan ia jual nantinya.
"Lho, baju bagus begini kok dibuang." Diangkatnya kain itu, dilihatnya dengan seksama. Bukan baju biasa, ternyata almamater.
Melihat ke langit, sebagian pandangannya terhalang oleh jembatan layang Semanggi, namun yang pasti matahari semakin naik. Ia dengar, hari ini mahasiswa mengadakan demo. Akan ada TNI, mahasiswa, dan pastinya keramaian. Ia tak suka keramaian, terasa melelahkan.
Maka pria tua itu bergegas mengambil apa yang ia perlukan, meninggalkan almamater itu-karena mungkin saja itu milik seseorang. Banyak yang hilang untuk memperjuangkan perubahan. Mungkin saja, pemilik almamater itu adalah salah satunya.
//
Saat itu, Damai dalam perjalanan pulang dari pasar ketika ia melihat sekelompok kecil anak bermain di jalanan. Mereka tertawa dan saling mengejar, tak menyadari kekacauan yang ada di sekeliling mereka.
Dalam momen itu, Damai merasakan kilatan harapan. Pemimpin yang telah lama menjabat akhirnya mengundurkan diri. Reformasi dan perubahan sebentar lagi akan terwujud. Ia mulai menjadi relawan di sebuah panti asuhan lokal, menghabiskan sorenya bermain dengan anak-anak dan membantu mereka mengerjakan tugas sekolah. Hari ini desas-desusnya akan ada unjuk rasa lagi, namun ia tak pergi. Kakaknya juga begitu. Ini adalah hari yang mereka dedikasikan untuk keluarga terutama sang Ibu. Untuk sekian lama, akhirnya rumah ini bisa terasa hangat.
Ketika senja mulai turun, Damai duduk sendirian di teras rumahnya, memandangi langit berwarna oranye. Ia merenung tentang masa lalu dan masa depan, tentang kebaikan dan kejahatan di dunia ini. Namun di antara semua itu, ada harapan yang masih tersisa, harapan bahwa tindakan kecilnya bisa menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.
Dengan hati yang dipenuhi oleh rasa, Damai menghembuskan napas panjang dan memandangi langit yang semakin gelap. Ia tahu bahwa perjalanan masih panjang dan sulit, namun ia berjanji untuk terus melangkah, satu langkah kecil demi satu langkah kecil, menuju dunia yang lebih baik.
"Damai!"
Sautan itu memecah kesunyian. Ada seseorang yang ia kenal-sehelai almamater di genggaman. Itu Aji.
Almamater? Almamater itu ... Almamater dengan tempelan stiker kelinci dan sebuah nama; Rino the Kid.
Dan semoga suaramu tetap terdengar,
Di hati setiap insan yang merindukan keadilan.THE END
© SUNFLUOUS , 2023
Open ending? 👀
Hehe terima kasih sudah mampir!
p.s, another work coming soon

YOU ARE READING
ii. negeri hantu, straykids✔
Narrativa Storica𝘃𝗶𝗶. 𝗮𝗻𝗼𝘁𝗵𝗲𝗿 𝗱𝗲𝗽𝗿𝗲𝘀𝘀𝗶𝘃𝗲 𝗲𝗽𝗶𝘀𝗼𝗱𝗲 Di mana sosok-sosok mudah menghilang; menghilangkan diri atau dihilangkan. !¡ contains mature themes, including violence, that may cause distress.