Part 18

11.2K 798 1
                                    

"Iya. Kamu pernah bilang kalau kamu menyukaiku. Tapi kamu mau jadi pacarku ngga?" Sahut Bian atas apa yang aku katakan.

Itu pertanyaan penting yang tidak aku ketahui jawabannya. Aku merasa senang dengan kehadiran Bian tapi tidak tahu apakah aku mau menjadi sedekat itu.

Melihat aku yang kebingungan, Bian melepaskan pelukannya kemudian mengangkat wajahku. Dia menatapku mendalam namun hangat. Tatapan seperti ini selalu membuatku canggung. Bian terlihat semakin tinggi meskipun awalnya memang sudah lebih tinggi daripadaku.

Perlahan-lahan dia mendekatkan wajah hingga nafas hangatnya dapat aku rasakan. Di saat yang sama, aroma musk Bian tercium samar namun merasukiku dengan kuat. Kedekatan ini membuat jantungku berdebar seakan ingin melompat keluar. Pikiranku langsung membayangkan bibir Bian melekat di bibirku.

Namun itu hanya bayanganku saja. Setelah menggoyahkan imanku, Bian malah menarik diri.

"Masih ada kerjaan yang perlu kita urusi. Nanti kita bicarakan lagi soal ini." Kata Bian yang kemudian menepuk kepalaku. "Hari ini ada tamu spesial. Nanti kamu yang akan meladeni mereka. Kamu perlu belajar melayani pelanggan." Lanjutnya.

Arahan Bian aku dengarkan dengan baik. Namun, aku tidak menjawab dan malah bengong beberapa lama. Jantungku belum bisa tenang karena tadi wajah Bian sangat dekat. Gara-gara itu otakku melambat dan tidak bisa bereaksi.

"Gimana? Jelas?" Tanya Bian.

Setelah ditanyai, barulah aku terhenyak dan mengangguk.

"Oke. Kalau udah jelas, kamu bisa bantuin Riska."

"Iya kak." Jawabku tapi aku masih belum beranjak. Bagaimana mungkin aku bisa beranjak? Barusan Bian nyaris menciumku. Setidaknya itu yang aku duga.

"Ada lagi?" Bian memandangiku karena aku masih berdiri di tempat.

Karena ditanyai, aku memainkan jariku kemudian bertanya balik. "Kak, gimana kakak bisa yakin kalau kakak mau pacaran dengan seseorang?"

Itu adalah hal yang paling membuatku bingung. Bagaimana caranya seseorang bisa yakin kalau ada orang istimewa di hati mereka? Menurutku wajar ketika seseorang merasa nyaman dengan orang yang dirasa baik dan tidak nyaman dengan orang yang dirasa jahat. Namun, bahasan soal cinta dan pacaran memiliki banyak definisi dan membingungkan untukku. Aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang membuatku jatuh cinta.

Pertanyaan itu tidak mengubah ekspresi Bian sama sekali. Dia masih terlihat santai seperti biasa. Akan tetapi dia bisa memberikan jawaban. "Kamu bayangin aja. Bayangin aja kamu jalan dengan orang itu, nonton film, makan malam, atau yang lain. Kalau di bayanganmu kamu senang bersama orang itu, mungkin sebaiknya kamu coba."

"Tapi yang di bayangan kita belum tentu sesuai kenyataan." Kataku tidak yakin. Aku takut tertipu khayalanku sendiri.

"Makanya perlu dicoba untuk memastikannya. Perhatikan juga apa yang terjadi ketika kalian bertemu. Apa kamu udah pernah berada di dekat orang itu? Gimana perasaanmu ketika di dekatnya? Apa kamu merasa nyaman atau ingin menjadi lebih dekat? Untuk pertanyaan-pertanyaan ini, cuma kamu sendiri yang bisa jawab. Kalau kamu punya keinginan untuk menyentuh lebih dekat, itu artinya perasaan itu mungkin ada."

"Mungkin? Apa ngga bisa dipastikan?"

"Ngga. Ngga ada yang bisa kita pastikan karena kamu punya kesempatan memilih. Kamu bisa memilih untuk mempertahankan perasaan itu atau membuangnya. Kamu juga bisa memilih untuk membangun hubungan permanen yang sehat atau hubungan yang sementara."

"Aku yang memilih? Bukannya itu tergantung pasangannya juga?"

Bian menarik nafas dalam sambil menerawang jauh sebelum menjawab itu. "Apa yang kamu rasakan, semuanya ada di dalam dirimu. Tetap saja kamu yang menentukan apakah kamu akan menemui kebahagiaan dengan orang itu atau malah sebaliknya."

***

Aku memikirkan apa yang dikatakan Bian sambil mengerjakan tugasku. Semakin aku memikirkannya, aku semakin yakin kalau aku ingin mencoba lebih jauh. Karena kepalaku dipenuhi oleh apa yang terjadi sebelumnya ketika bersama Bian, aku tidak lagi punya tempat untuk masalah lain di kepalaku termasuk masalahku di sekolah.

Selama membantu kak Riska, aku hanya mengerjakan hal-hal ringan seperti melipat tissue, merapikan bon, atau membawakan menu ketika ada yang berkunjung. Tidak banyak yang perlu aku katakan, hanya salam dan mempersilahkan pengunjung untuk duduk. Selain itu belum banyak yang berkunjung karena masih sore. Biasanya kafe ini akan lebih ramai setelah magrib jika hari kerja.

Ketika matahari sudah tenggelam, barulah Bian memanggilku untuk meladeni keramaian yang baru datang. Ada sekitar sepuluh orang pengunjung yang perlu diarahkan menuju tempat duduk di lantai dua. Mereka terdiri dari tujuh laki-laki dan tiga perempuan.

"Wah, ini toh yang di Inst*gr*m?" Seru seorang wanita yang menjadi bagian dari rombongan itu. "Lebih ganteng aslinya."

Setelah wanita itu, ada wanita lain dengan rambut potongan bob yang mendekat. "Dik, kamu udah punya pacar belum? Mau jalan sama kakak ngga?" Tanyanya. Aku agak kaget dengan semangat rombongan ini. Biasanya pengunjung akan sibuk di antara mereka dan tidak peduli pada waiternya jika tidak membutuhkan sesuatu.

Ketika mendengar apa yang dikatakan wanita dengan potongan rambut bob tadi, Bian memukul kepala wanita itu dengan buku menu. "Jangan ganjen sama pegawaiku! Ngga sopan!" Katanya.

"Alesan itu alesan!" Sahut yang lain setelah melihat apa yang dilakukan oleh Bian.

Melihat kelakar mereka, aku hanya tersenyum sesuai dengan pengarahan kemudian menunjukkan jalan. "Silahkan ikuti saya. Kita akan ke ruangan di lantai dua." Kataku sambil menunjukkan tangga dengan tangan kanan. Keramaian ini sebenarnya membuatku sedikit takut. Namun, mereka sepertinya adalah teman-teman Bian sehingga aku bisa menguatkan diri.

"Ngga perlu resmi gitu, dik!" Kata salah satu laki-laki yang ada di rombongan itu.

Meskipun dia mengatakan itu, aku tetap bersikap sopan sesuai dengan yang biasa aku lakukan. Bagaimanapun aku tidak tahu caranya bersikap santai di hadapan orang-orang yang tidak pernah aku kenal. Tanganku juga mulai terasa dingin ketika mereka berusaha mengobrol lebih dekat. Entah kenapa pengunjung yang tidak menganggapku ada, rasanya lebih menenangkan. Ketika aku menjadi sorotan seperti ini, rasa takut di hatiku lama kelamaan makin besar.

"Fokus. Meskipun mereka sebanyak ini, ngga ada yang berniat buruk. Jadi jangan takut." Bisik Bian di telingaku sambil memegang tanganku yang dingin dengan tangannya yang hangat. Rasa takutku sedikit berkurang dan tanganku menghangat lagi.

"Duh, gue ngga bisa liat ini. Kalian masih punya pelanggan di sini. Jangan mesra-mesraan dulu!" Teriak salah seorang teman laki-laki Bian sambil memukul-mukul buku menu untuk meminta perhatian.

"Gue udah bilang kan kalau jangan banyak ngoceh!" Sahut Bian setengah berteriak.

"Mana ada customer diatur-atur sama yang melayani. Gimana sih?" Protes orang itu.

Akupun menarik nafas kemudian mengambil tab untuk mencatat pesanan. "Jadi mau langsung pesan atau saya tunggu?" Tanyaku.

"Langsung pesan, dik. Kami udah lihat menunya online. Aku mau specialty di sini, Roasted Chicken with Lemon Fragrance. Tapi bukan yang paket ya. Minumnya green juice dan ngga pake nasi." Kata wanita yang paling pertama berusaha mengobrol denganku. Setelah pesanan itu, pesanan lainpun mengikuti.

Selesai mencatat semuanya, aku mengulangi pesanan mereka untuk memastikan tidak ada yang salah. Karena tidak ada di antara sepuluh orang itu yang mau menambahkan arahan lagi, aku segera undur diri.

"Mohon menunggu sekitar dua puluh menit. Terima kasih." Kataku sambil tersenyum kemudian berbalik pergi.

"Tunggu bentar. Kita foto dulu."

"Foto?" Tanyaku bingung.

"Iya. Kami mau foto sama kamu. Kapan lagi foto sama orang terkenal?"

"Terkenal?" Apa yang mereka bicarakan?

"Iya. Apa kamu ngga tahu kalau videomu udah rame? Bentar lagi pasti viral jadi kami mau minta foto sebelum kamu terlalu terkenal dan susah dimintai foto."

Aku belum tahu soal ini. Bukannya bahan-bahan sosial media baru diunggah tadi sore? Kenapa Bian belum memberitahuku?

***

RYVAN 1 - Ugly Duckling Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang