"EKSA!! Sini kamu!" Teriakan Ummi Eksa keluar terdengar sampai kamar Eksa.
"Iyaa, ada apa Baginda Ratu?" Eksa lalu menghampiri bundanya itu.
"Ummi, minta tolong beliin ini semua di toko." Sambil memberikan secarik kertas ke tangan Eksa.
"Oh, SIAP UMMI!" Sambil mengangkat tangannya di sekitar alisnya seperti dalam posisi hormat.
"Cuma ini kan, Ummi?" Tanya Eksa memastikan.
Umminya hanya menganggukkan kepalanya yang menandakan bahwa hanya itu saja yang Umminya butuhkan, "Udah cepet sana, Ummi lagi butuh bahan itu."
"Oke, Ummi. Eksa siap berangkat!" Eksa membalikkan badannya dengan semangat.
Setelah membeli semua barang yang Umminya butuhkan, waktunya ia kembali ke rumahnya.
This hit, that ice cold, Michelle Pfeifer that white gold.
This one, for them hood girls, them hood girls, straight masterpieces.
Stylin' wilin' livin' up in the city.
Kira-kira seperti itu lagu yang disenandungkan Eksa ketika dalam perjalanan, lagu Uptown Funk dari Bruno Mars dan Mark Ronson itu. Ia menyanyikannya sambil berjoget kecil.
"Don't believe me, just watch. Don't believe me, just watcha—" Eksa tetap melanjutkan nyanyiannya sampai akhirnya ia menghentikan secara tiba-tiba ketika melihat seseorang yang tidak asing baginya.
"Eh, itu Misel?" Eksa memfokuskan matanya untuk meyakinkan bahwa itu temannya. "Bener, itu Misel. MISEL!" Eksa teriak sambil melambaikan tangannya untuk memanggil Misel, tapi sang punya nama tidak mendengarkan panggilan itu.
"Apa gue samperin aja ya? Gue mau nanya masalah dia yang jarang ikut rapat." Eksa bermonolog dengan dirinya sendiri, ketika Eksa hendak menghampirinya tiba-tiba ia mengurungkan niatnya ketika ia melihat seseorang yang datang dihadapan Misel. Seseorang itu terasa asing baginya, "Itu, Nevan?" Dia menanyakan ke dirinya sendiri meyakinkan.
Pada saat Eksa bisa melihat wajah dari orang asing itu, Eksa terheran-heran dengan orang itu, sebab ia tak mengenalinya, "Ah, mungkin temen atau sepupu Misel aja kali—NJIR!" Eksa kaget ketika melihat orang itu mencium pipi Misel serta mengelus rambutnya.
Ketika melihat kedua orang itu hendak keluar dari rumah tersebut, Eksa langsung lari sembunyi supaya Misel tidak mengetahui keberadaannya, "Hah?! Beneran itu Misel? Tapi sama siapa dia?" Eksa berbicara sendiri dengan memelankan suaranya.
'Sayang, nanti kembali sini lagi ya.' Ucap Misel ke lawan bicaranya itu.
"Hah, Sayang?!" Eksa kaget dengan ucapan yang diucapkan dari mulut Misel. Dia nggak salah dengar kan?
'Iya, sayang. Boleh kok.' Balas orang itu sambil membenarkan anak rambut Misel lalu diselipkan ke belakang telinganya.
'Yaudah, aku pulang dulu ya. Bye-bye.' Akhirnya setelah Misel menjauh dari rumah itu, Eksa keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung kembali ke rumahnya.
"ASSALAMUALAIKUM, UMMI AKU PULANG!" Teriak Eksa setelah sampai di rumahnya.
"Kok, kamu lama banget sih belinya?" Umminya menghadang Eksa untuk memasuki rumahnya lebih dalam. "Kamu beli bahannya di Amerika? Kok sampe lama banget."
"Maaf, Ummi, hehe. Tadi Eksa ketemu temen di luar." Cemberut Umminya, "Nggak lagi-lagi deh Eksa lama. Habis beli Eksa langsung pulang." Bujuk Eksa untuk menghilangkan cemberut Umminya.
"Yaudah, awas kamu kalo diulangin lagi!" Perintah dari sang Umminya langsung di iyakan oleh Eksa, "SIAP BAGINDA RATU!" Lagi-lagi Eksa berpose seperti sedang hormat.

KAMU SEDANG MEMBACA
RAHSA
Teen Fiction"𝐑𝐀𝐇𝐒𝐀" "Mau permen gak?" "Lo nyetok berapa bungkus permen di rumah?" "Banyak sih. Kalo lo mau gue bisa bawain lo sebungkus besok." "Gila." 𝐈𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐤𝐮𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐡𝐚𝐬𝐢𝐬𝐰𝐚 𝐤𝐮𝐫𝐚-𝐤𝐮𝐫𝐚 𝐚𝐥𝐢...