Hai hai hai!
Jangan lupa votmen nya ya!
Bacanya pelan-pelan aja, jangan buru-buru, oke?
Happy reading!
***
Maguna merapatkan selimut yang membalut tubuhnya. Ia menyenderkan kepalanya ke pagar balkon kamar Gazie. Pandangan matanya menatap lurus ke arah kamarnya yang terlihat gelap gulita. Ya, rumahnya dan rumah Gazie memang berhadap-hadapan, tapi rumahnya itu sudah dua hari sepi karena penghuninya mengungsi di rumah sebrang.
Waktu sekarang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tapi Maguna masih asik duduk di balkon bersama Gazie yang kini tengah sibuk dengan kanvas kecilnya. Lelaki itu tengah melukis langit malam.
“Sshh.” Maguna meringis ketika denyutan di kepalanya semakin menggila. Matanya terpejam, jari jemarinya memijat pelan pelipisnya.
Gazie melirik sekilas Maguna sebelum kemudian berdiri dan masuk ke kamar. Maguna tidak peduli, ia masih terus memijat pelipisnya.
“Bunda, Magu sakit. Ayo rawat Magu lagi kayak dulu....” Setetes cairan bening turun dari sudut matanya. Segera Maguna menghapus air mata itu kala mendengar suara derap langkah kaki.
“Nih.” Gazie menyodorkan sebuah benda putih tipis yang sudah ia potong kecil menjadi dua kepada Maguna.
“Apaan?” Maguna mengerutkan dahinya bingung.
“Pake ini. Kepala lo pusing kan?” ujar Gazie yang di balas anggukan polos oleh Maguna.
“Yaudah pake! Jangan ngangguk doang anjir!” sentak Gazie kepalang sewot.
Maguna mengambil alih benda yang tak lain tak bukan adalah koyo cabe itu dari tangan Gazie. Bukannya di tempelkan ke permukaan kulitnya, Maguna malah memperhatikannya terlebih dahulu.
“Ini apaan?” tanyanya sekali lagi.
“Ya ampun Mag, Mag. Lo sebenarnya selama ini hidup di dunia mana sih?! Masa yang kek gituan aja gak tau!” Gazie benar-benar jengah dengan ketololan Maguna yang sekarang.
“Emang ini apaan? Gue biasanya pake minyak kayu putih atau gak fresh care,” balas Maguna yang membuat Gazie menghela napas panjang.
“Koyo cabe,” ujarnya datar yang kemudian fokus ke lukisannya. Ia bosan dengan Maguna yang kadang-kadang tololnya minta ampun.
Maguna mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Lelaki itu hendak kembali bertanya, tapi suara Gazie lebih dulu terdengar.
“Gak usah nanya lagi! Pake atau gue patahin leher lo!” ancam Gazie. Matanya menatap tajam Maguna yang menyengir lebar.
“Makasih.”
Kata yang keluar dari mulut Maguna itu membuat tubuh Gazie seketika membeku. Diam-diam, laki-laki itu tersenyum tipis. Jarang sekali Maguna mengucapkan kata itu padanya. Satu momen legenda dalam hidup Gazie.
“Ya.”
Namun hanya kata itu yang keluar dari mulut Gazie untuk membalas perkataan terimakasih dari Maguna. Entahlah, rasanya mulutnya terasa kaku untuk mengucapkan sama-sama.
***
“Lo beneran mau sekolah?” Gazie menyentuh kening Maguna yang masih terasa hangat.
Maguna mengangguk singkat. Lelaki itu kini tengah memakai sepatunya, sementara Gazie berdiri menjulang di hadapannya.
“Gak usah deh, lo gak usah sekolah.”
“Pala lo. Gue udah siap-siap kayak gini, males banget kalau harus di buka lagi, udah minggir sana!” Maguna mendorong kepala Gazie ke samping, hingga lelaki itu menyingkir dari hadapannya.
“Tapi badan lo masih panas, Magnum,” ujar Gazie yang mengikuti Maguna dari belakang.
“Awas aja kalau lo pingsan. Gak bakal gue gotong,” lanjut Gazie mengancam.
“Gue bisa terbang,” ujar Maguna ngawur. Wajah pucat lelaki itu terlihat datar.
Gazie tertawa kencang sambil memukul-mukul pundak Maguna, namun sedetik setelahnya wajah cowok itu berubah datar.
“Halu lo. Di pikir karpet aladin apa. Udahlah, lo gak usah sekolah Mag,” ujar Gazie.
Seolah tuli, Maguna tetap melangkahkan kakinya menuju motor miliknya yang terparkir di halaman depan rumah Gazie.
Gazie berdecak sebal melihatnya. Tanpa aba-aba, lelaki itu menarik kerah seragam Maguna dan menyeretnya menuju mobil.
“Bebal lo,” sarkas Gazie. “Masuk!” Gazie mendorong Maguna masuk ke dalam mobil.
Tanpa ada penolakan sama sekali, Maguna masuk ke dalam mobil. Di susul oleh Gazie yang juga masuk ke dalam mobil tepatnya di bagian kemudi. Diam-diam, Maguna tersenyum tipis. Gazie memang terlihat seperti orang yang suka marah-marah, tapi jauh dalam dirinya, Gazie hanyalah seseorang dengan rasa kepedulian yang tinggi namun tertutupi gengsi.
Maguna tau Gazie khawatir perihal kondisinya saat ini, tapi Maguna juga tidak mau di tinggal sendirian di rumah, jadi lebih baik ia berangkat sekolah.
“Nanti kalo semisalnya lo udah gak kuat, jangan maksain! Pergi ke uks,” ujar Gazie dengan fokus mata mengarah ke jalanan.
Maguna melirik sekilas. “Iya,” jawabnya.
***
Suka gak?
Votmen nya jangan lupa
Terimakasih sudah membaca💛
Pabay!

KAMU SEDANG MEMBACA
Maguna
Short Story'Hanya sebuah cerita dari sang penyembunyi luka yang begitu mencintai hujannya.' *** "Ra." "Apa?" "Lo tau. Lo itu ibaratnya hujan buat gue." "Kenapa hujan?" "Soalnya, gue tetep suka sama lo, meskipun lo bikin gue sakit berkali-kali." "....." •••••°°...