"A story i've never seen before".
Kalau saja akar pohon itu tidak kokoh mungkin akan mati dan tidak bisa bertahan lama.
"Haruskah bertahan?". Jawabannya sesuai bagaimana caramu memandang.
°°°
"Setiap hal yang dilihat melalui dua kepala yang berbeda...
"Maaf gagal bicara sama om Dira, andai aja kak Nophel gak datang pasti akan selesai,"
previous....
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
๑〜〜๑
Seakan ada kereta api yang melintas dengan desis gelombang udara yang mengganggu pendengaran keduanya.
Tak seharusnya Alma meminta maaf, semuanya memang terjadi begitu saja. Nophel pun tak salah, ia hanya berniat melindungi 'adiknya'.
"Mara coba dengerin baik-baik,"
"Gak mau nanti situ ngejokes, mana kalau nge jokes gak lucu lagi," ungkap Almara. Ia hanya bercanda demi mencairkan suasana.
"Nanti saya coba lagi kasih jokes yang bermutu."
"Hiyaa iya dah iya, coba mau ngomong apa tadi? ke distrac gak?," tujuannya mengalihkan topik supaya Ghaftan lupa, ah sayang sekali laki-laki itu tidak pelupa seperti dirinya.
"Semua yang kamu lakukan berharga, kalau aja kamu gak berani ketemu sama om Dira, sampai kapanpun saya gak akan pernah bicara dengan beliau,"
"Keberanian kamu menurut saya sudah seperti 1/0,"
"1/0? kalau gak salah semua angka gak ada yang bisa dibagi dengan nol, berarti gak bernilai dong?"
Suara hati Alma sempat bergemuruh kecewa padahal ia hanya menyimpulkan sendiri dari sudut pandangnya.
"1/0 hasilnya tak terdefinisi atau tak terhingga yang artinya semua bantuan kamu gak bisa di nilai dengan sebuah angka ataupun kata-kata, levelnya lebih dari itu, sekali lagi makasih," ungkap Ghaftan.
Awalnya Alma sempat tak biasa dengan sikap Ghaftan yang perlahan berubah menjadi orang yang sangat terbuka.
Sosok pria itu keseringan membuat suasana menjadi asing hingga Alma harus banyak bicara agar atmosfer yang tercipta diantara keduanya menghangat.
"Ghaf, lo tau kan kalau gue orangnya perasa banget? ucapan yang barusan lo bilang bikin gue merinding, makasih juga udah menghargai kelakuan gue,"
Alma menatap lekat bunga yang ia terima, "Maaf kalau gue gak pernah nanya tentang keadaan lo, selama ini lo yang selalu dengerin semua omong kosong, celotehan yang bahkan gak akan pernah ada efek sampingnya di hidup lo,"
Kini Almara tersadar betapa baiknya Ghaftan, peran dia benar-benar dibutuhkan dalam hidupnya.
Selama ini Ghaftan selalu meminjamkan telinganya dengan mendengarkan semua ocehan Almara. Kini giliran Alma yang membantu, meskipun resiko yang ia hadapi cukup sulit dan terkesan membahayakan.
"Mara, kamu harus tau kalau kamu itu penting, mungkin aja kalau gak ada kamu di kedai itu saya gak akan pernah terbiasa dengan semua hal yang terjadi, tanpa disadari kamu selalu membangun suasana yang menyenangkan,"