Jimin bertekad mencari manusia yang sudah menghancurkan hidupnya lima belas tahun yang lalu. Hingga akhirnya ia membangun sebuah firma hukum dibantu oleh Hae Mi dan teman-temannya.
Siapa sangka di tengah pencarian itu Jimin justru bertemu dengan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memory
.
.
.
"Kau mau kemana?" tanya Hae Mi sambil berlari mengejar laki-laki yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Tas ranselnya bahkan belum sempat ia sampirkan. Tanpa menghentikan langkahnya, Jimin menoleh kemudian tersenyum. "Aku harus segera pulang Hae. Hari ini hari ulang tahun ibu."
"Benarkah? Hari ini bibi berulang tahun? Aku boleh ikut?" tanya Hae Mi lagi dengan nafasnya yang tersengal. Jimin mengangguk, "Tentu saja. Ibu pasti senang."
Dua pelajar itupun berjalan beriringan menuju rumah Jimin.
"Bagaimana kalau kita membeli bunga untuk bibi?" Hae Mi tiba-tiba memberi Jimin sebuah ide ketika melihat sebuah toko bunga yang berada di sudut jalan. Dan Jimin mengangguk tanpa berpikir lagi.
Harum semerbak wangi bunga langsung menusuk indera pembau Jimin. Ia menghirup udara dalam-dalam. Satu ruangan besar yang dipenuhi oleh bunga dengan berbagai macam jenis dan wangi yang berbeda.
Setelah berdiskusi singkat bersama Hae Mi, Jimin memutuskan membeli satu ikat bunga mawar berwarna putih. Dengan satu kertas kecil yang tertempel disana bertuliskan 'selamat ulang tahun kekasihku.'
"Kau saja yang bawa bunganya," kata Jimin sambil menyerahkan buket bunga yang baru saja ia bayar pada Hae Mi. Dan Hae Mi menerimanya dengan senang hati.
"Bibi pasti suka," kata Hae Mi. Kakinya melompat-lompat kecil mengikuti langkah lebar Jimin. "Aku tidak sabar ingin sampai di rumah," sahut Jimin. "Ibu memasak banyak makanan enak hari ini Hae. Kau bisa makan sepuasanya," Jimin tersenyum senang membayangkan ibunya saat ini sedang bersiap menyambut kepulangan anak tersayangnya. "Apa malam ini kau mau menginap lagi di rumah? Nanti akan aku telpon paman Kim."
Belum sempat Hae Mi menjawab, keduanya dikejutkan oleh suara bising yang berasal dari mobil-mobil besar berwarna hitam yang melaju dengan sangat cepat.
"Wah, mereka seperti sedang mengejar penjahat," kata Jimin dengan tatapan kagum. "Keren."
"Kalau sudah lulus sekolah nanti, aku akan menjadi seorang polisi. Sepertinya keren mengejar penjahat di jalanan," kata Jimin dengan wajahnya yang ceria.
Hae Mi menanggapi cerita Jimin dengan penuh semangat, "Kau pasti bisa Jim! Aku mendukungmu." Ucapan Hae Mi yang tulus membuat Jimin tersenyum senang.
Keduanya tetap berjalan beriringan sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah besar berwarna coklat dengan pagar tinggi berwarna hitam. Rumah yang berada di sekitar kebun bunga yang lebat. Namun senyum di wajah kedua anak sekolah itu mendadak luntur karena mendapati gerbang besar di depan mereka roboh dan rusak.