Chapter Four: Bestie -8

403 73 29
                                    

"What the hell?"

.

.

.

.

.

"Kami baru pergi selama beberapa menit dan kalian sudah melakukan ini?"

Situasi mendadak canggung ketika tanpa mereka sadari Chaewon dan Minjeong sudah kembali. Duo rambut pendek itu menatap Yerim dengan sinis. Mereka menghina lewat tatapan, seakan-akan menggurui betapa murahnya kulit yang dipertontonkan oleh gadis itu.

"Kami hanya bermain kartu," klaim Beomgyu. Pemuda itu mencoba mencari pembenaran, namun sang kekasih justru menghadiahinya pukulan keras.

"Dasar mesum!"

"Bukan aku, Minjeong-a. Aku cuma melihat saja. Mereka bertiga yang bermain!" bela Beomgyu untuk dirinya sendiri.

Sementara itu, ketiga orang yang menjadi sasaran tuduhan tertawa tak acuh.

"Kau iri, ya?" tegur Bomin. "Kau bukan primadona lagi." Pemuda yang sedikit mabuk itu melemparkan hinaan. "Kalau kau takut pacarmu direbut, berusahalah lebih keras."

"Diam kau, Choi Bomin!"

Chaewon menghujani Yerim dengan cercaan, kataan hina seperti murahan dan lacur. Kecemburuan ditunjukkan terlalu jelas. Dia bahkan sampai gemetar, menghina tiada henti namun tidak membuahkan hasil. Orang yang dia tuju tidak peduli, dan sang pujaan hati justru mengabaikannya.

"Ayo bermain lagi," ucap Jeno, menyela si Chaewon. "Kalau kau tidak mau melihat, pergi saja."

Nyatanya Chaewon tidak mau pergi. Dia justru duduk di sisi Hyunjin, menggerayangi pemuda itu sampai dia risih.

Yerim lebih banyak diam saat Chaewon mengomel. Tetapi ajakan berjudi tetap menjadi tujuan utamanya.

"Sejujurnya, sunbae." Yerim menatap Chaewon. "Aku ingin memakai bajuku kembali. Tetapi ini permainan yang adil. Aku kalah, dan ini hukumanku. Lagipula, bajuku basah."

"Kau boleh telanjang juga kalau kau mau," tambah Hyunjin ke arah Chaewon. "Kau marah karena menurutmu dia menggodaku, kan? Kalau begitu goda saja aku seperti yang dia lakukan."

Hyunjin terkekeh keras seraya meneguk kembali bir dari kaleng kesekian. Dia menertawakan ekspresi Chaewon yang sangat buruk, menurutnya sangat lucu.

"Kau mabuk," omel gadis itu seraya merebut kaleng dari tangannya. "Ini masih sore dan kau sudah minum terlalu banyak."

"Kau berisik! Sebaiknya kau pergi saja. Kau tidak berguna!"

Yerim terpana ketika melihat seorang Bomin yang selalu terlihat tenang dan berwibawa itu dipukuli oleh Chaewon. Dia tidak melawan namun adu mulut terjadi mulus sekali. Tidak ada yang berkomentar, sepertinya hal itu terlalu sering terjadi.

"Hei," Hyunjin mengembalikan fokus Yerim dengan jentikkan jari. "Ayo bermain."

Permintaan Hyunjin membuat Chaewon berhenti mengganggu Bomin. Dia otomatis menoleh, menatap pemuda itu tidak percaya. "Bermain apa?" Dia cepat mengerti setelah melihat kartu berantakan di lantai. "Kartu? Judi? Berapa taruhannya?"

Pada titik ini Yerim malas melanjutkan judi. Dia memang ingin menaklukkan Hyunjin, tetapi Chaewon bisa merusak suasana. Saat ini dia harus berkaca pada permainan sebelumnya. Dia kalah jumlah. Semua orang pasti tidak mungkin memihaknya. Sama seperti saat bermain poker dengan elit pertama kali, 1 vs 6 tidak akan pernah menguntungkan, apalagi lebih.

"Bukankah kau tak suka bermain judi? Kenapa tiba-tiba mau bermain?"

Pertanyaan itu keluar dari mulut Chaewon, Yerim tidak bisa menghentikan ekspresi selidiknya. Seorang Hyunjin tidak suka bermain judi, padahal sang kakak pemilik kasino? Itu aneh. Belum lagi reaksi yang ditunjukkan pemuda itu begitu disinggung, sangat menarik. Dia kesal.

THE GAMBLER 2: Big League🔞 | TXT & EN-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang