Langit telah berubah menjadi kelabu. Suara gemuruh terdengar jelas, disusul kilatan petir, membuat anak laki-laki itu langsung meringkuk ketakutan. Hujan turun deras, membasahi bumi. Suhu udara menjadi dingin, membawa hawa untuk tiduran atau meminum secangkir minuman hangat.
Afifa yang memang masih berada di rumah sakit langsung mendekati Luthfi dan mengusap pelan punggung mungilnya. “Sstt. Tenang, ya. Ada, mbak di sini,” bisik Afifa. Ia pun memberi pelukan hangat.
“Mbak, ayo, tolongin ibu,” bujuk Luthfi dalam pelukan.Bibir Afifa kelu untuk menjawab. “Ternyata, kamu ingat kejadian itu,” batinnya pilu.
Pelukan keduanya terlepas, setelah merasa keadaan Luthfi membaik.
Selanjutnya, Afifa duduk di kursi samping brankar. Kedua tangannya menggenggam erat tangan mungil Luthfi. Seulas senyuman tipis pun terbit. “Mbak, tiba-tiba ingat suatu cerita, nih. Mau dengar, gak?”
Untuk sejenak, adik kandung Wulan itu hanya terdiam, kemudian baru menganggukkan kepala. Mendapat respons positif, membuat Afifa senang. Ia kembali berucap, “Ini tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dan api.”
“Api?” sela Luthfi yang fokusnya kini sudah sepenuhnya beralih pada Afifa. Kerutan dahi dan ekspresi bingung terlihat jelas.
“Iya. Kisah Nabi Ibrahim dan api,” jawab Afifa yakin.
“Ayo, mbak buruan cerita. Luthfi, mau dengar.” Anak kecil berbalut baju pasien itu duduk menyila dengan tangan yang masih digenggam Afifa. Pupil matanya menatap penuh antusias.
“Saat itu, Nabi Ibrahim dilahirkan di tengah masyarakat jahiliah yang musyrik. Dan, membuat ia harus mengalami pengasingan ke hutan oleh orang tuanya. Lantaran, raja Namrud mengeluarkan peraturan untuk membunuh setiap bayi laki-laki.
Waktu terus berjalan. Nabi Ibrahim pun tumbuh dewasa. Beliau itu cerdas, makanya tahu kalau berhala yang disembah warga setempat bukan Tuhan yang sebenarnya.
“Berhala itu apa, Mbak?” tanya Luthfi sembari memiringkan kepala sejenak disusul kerutan kening.
“Luthfi, tahu patung ‘kan?”
“Patung?” Luthfi mengedipkan mata beberapa kali mencoba mengingat-ingat.Sesaat kemudian, ia menepuk pelan kasur brankar. “Oh ... itu! Yang dibuat sama kayak bentuk manusia ‘kan? Cuma bedanya patung itu gak hidup. Diem aja, gak gerak sama sekali.”
Mendengar kalimat akhir dari Luthfi, membuat Afifa terkekeh. Ia mengecup tangan mungil anak yang ada di hadapannya itu. “Bener banget! Uhhh, adik Mbak satu ini pinter banget, deh.”
“... jadi, Mbak, raja Namrud sama lainnya nyembah patung? Bukannya, itu buatan manusia, ya?”
Afifa menjentikkan jari. “Nah, makanya itu. Mbak, aja heran banget,” timpalnya, “makanya singkat cerita, Nabi Ibrahim mutusin buat hancurin semua berhala di wilayah raja Namrud.”
“Ha? Serius, Mbak?” tanya Luthfi untuk memastikan dan Afifa mengangguk.Decak kagum kemudian diperlihatkan oleh Luthfi kala mengetahui hal itu. “Wah, Nabi Ibrahim berani banget!”
“Iya. Kalau, Luthfi sama mbak kagum sama Nabi Ibrahim, beda banget sama raja Namrud. Ia yang tahu kalau berhala-berhala nya dirusak, raja Namrud itu akhirnya geram dan buat perintah untuk para tentaranya agar Nabi Ibrahim dihukum. Yaitu, dengan dibakar hidup-hidup.”
“Di-dibakar?”
Kepala Afifa mengangguk. Lalu, ia bertanya sembari mengusap pelan jemari mungil adiknya. “Luthfi, mau tahu apa yang terjadi selanjutnya pada Nabi Ibrahim?”
“Mau, Mbak. Tapi ... Nabi Ibrahim, gak terbakar ‘kan?”
Secara cepat Afifa menggeleng. “Ya, gak dong. Bahkan, Nabi Ibrahim santai saja. Beliau, justru ngomong gini, “Allah (Sendiri) sudah cukup bagi kami, dan, Dia adalah yang terbaik dalam segala urusan.
Habis ngomong begitu, mukjizat pun terjadi.”
Kedua manik mata Luthfi kembali menatap penuh tanya. “Mukjizat? Apa itu, Mbak?”
“Mukjizat itu semacam perkara luar kebiasaan yang dilakukan oleh Allah melalui para nabi dan rasul-Nya untuk membuktikan kebenaran kenabian dan keabsahan risalahnya.”
Bibir Luthfi membulat sejenak sebelum akhirnya kembali bertanya, “Jadi, mukjizat untuk Nabi Ibrahim apa, Mbak?”
“Mukjizatnya adalah ... Nabi Ibrahim gak bisa dibakar sama api.
... api yang tadinya berkobar langsung padam. Dengan santai, Nabi Ibrahim jalan keluar dari puing-puing pembakaran dan gak ada luka satu pun.”
“Masya Allah,” puji Luthfi saat mendengar akhir kisah tersebut.
"Dari cerita ini, Luthfi tahu apa inspirasi yang dapat ambil?” tanya Afifa sebagai penutup cerita.
“Gak, Mbak,” jawab Luthfi sembari mengerucutkan bibirnya.
“Intinya, semua rasa takut harus kita lawan dengan keyakinan yang kita miliki. Kalau misalnya nih, Luthfi merasa takut, cukup ngomong gini aja ....”
Sejenak, Afifa berhenti bicara. Diambilnya tangan mungil Luthfi lalu ditaruh di bagian jantungnya dan melanjutkan ucapannya. “HasbunAllah.”
“HasbunAllah,” ulang Luthfi mengikuti ucapan Afifa.
“Masya Allah, adik mbak Afifa sama mbak Wulan, pinter banget,” pujinya dengan mengacak pelan rambut hitam Luthfi.

KAMU SEDANG MEMBACA
NANTIKANKU DiBATAS WAKTU
Fiksi PenggemarSuasana dingin menyambut kedatangan Afifa yang baru saja sampai di negeri ginseng guna mengisi liburan akhir tahun sekaligus menghindari lamaran dari seorang laki-laki yang pernah menolongnya waktu peristiwa naas itu terjadi. Kemudian, Afifa berusa...