Mengisahkan tentang seorang remaja perempuan yang awalnya ingin membantu temannya untuk menaruh surat cinta pada loker milik cowok idamannya. Siapa sangka surat itu jatuh pada orang yang salah. Membuat dirinya harus berurusan dengan cowok berandalan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading!
Arin melihat pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi dalam UKS. Benar kata pak Bambang, pipi kananya terlihat memar. Warna merahnya sangat kontras dibandingkan dengan pipi sebelahnya. Dia pun baru merasakan rasa nyeri yang sakitnya menjalar hingga ke kepalanya.
Tidak tahu lagi akan berbuat apa? Yang hanya bisa dia lakukan saat ini hanyalah menghela nafasnya dengan sangat berat. Kecewa pada teman kelasnya itu ada, tapi dia juga sangat kecewa dengan dirinya yang terbawa emosi. Hanya membuat masalah makin runyam saja.
Arin memutuskan untuk melepaskan ikatan rambutnya. Mencoba menutupi pipinya yang merah itu. Dia merasa malu dengan tampilannya saat ini. Dia ingin menghilang saja rasanya. Rusak sudah citra cewek ramah Arin dalam sekejap.
Ceklek
Arin melihat ramainya UKS dengan anak kelas cowoknya, yang beberapa orang itu merupakan teman dekat dari Jeha dan Jake. Duduk di sisi ranjang UKS yang penempatanya saling berdeketan. Dia tak melihat keberadaan Jeha berada. Hanya melihat Jake yang duduk di bersama yang lain di ranjang.
Saat berjalan mendekat ke arah mereka, para cowok itu tampak terkejut dengan penampilannya saat ini. Hingga termenung tak tahu bereaksi apa.
"Kotak P3K nya udah diambil?" tanya Arin mencoba memecahkan keheningan.
Dia pun menjadi ikut canggung dengan situasinya saat ini.
"Udah, Rin! Udah!" sahut Jake tergagap dengan yang lain ikut menyahut, seperti dia akan memarahi mereka saja.
Mungkin memang benar adanya. Secanggung yang dia rasakan saat ini, bisa berbeda sebaliknya dengan apa yang orang lain lihat dari ekspresinya. Pasti menampilkan masih adanya amarah dalam dirinya. Padahal, dia hanya merasa lelah dengan semua ini.
"Lu pada nggak peka apa gimana?" suara Jeha dari arah belakangnya.
Jeha datang entah dari mana membawa ice bag compress dan berdiri di sisinya. Arin bisa melihat lebih jelas darah yang mulai mengering di wajah Jeha.
"Kasih tempat buat Arin duduk! Kasihan malah berdiri," suruh Jeha pada beberapa anak cowok yang duduk di sisi ranjang. Bisa-bisanya tidak ada yang mau mengalah untuk memberikan Arin tempat duduk.
Merasa akan hal itu, mereka kompak saling bergeser untuk memberikan tempat agar Arin bisa duduk.
"Jake, kasih Arin kompres ini," bisik Jeha pada Jake memberikan kompresan berisi es batu padanya.
Jake menerimanya agak ragu. Beneran dia yang akan memberikan ini? Dia masih merasa tidak enak mengajak bicara Arin yang terlihat sedang dalam suasana hati yang buruk.
Jeha memberikan sinyal pada beberapa temannya yang lain untuk pergi meninggalkan Jake sendiri di sana.
"Duluan ya, Rin," pamit cowok - cowok itu yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya.