Afifa kini membereskan bekas camilan yang tadi dibelinya. Ia melirik sekilas jam yang menggantung di dinding.
"Mbak, aku pamit pulang dulu, ya. Sudah jam sembilan, nih," ujar Afifa yang lalu membuka kotak sampah dan membuang bungkus camilan.
"Oh, iya, ya." Wulan pun ikut melihat jam di dinding. Lalu menatap Afifa sekilas.
"Lo, mau pulang ke rumah dulu atau langsung ke restoran?"
"Kayaknya, aku pulang ke rumah dulu. Abi sama umi dari tadi nanyain terus," ungkap Afifa sembari mencuci tangan di wastafel.
"Haha. Namanya juga orang tua, Fa. Pasti protektif banget tentang anak-anaknya."
Gadis dari kakaknya Luthfi itu berdiri dari sofa lalu mengambil sepatu high heels miliknya yang tergeletak di dekat pintu dan menaruhnya di rak sepatu.
Dengan cepat Afifa mengangguk setuju. "Apalagi kalau anak perempuan," timpalnya.
"Bener banget!"
Gadis pemilik restoran ANR tersebut kemudian mengambil cadar di dalam tas. Langkah kakinya berjalan mendekati cermin.
"... Mbak, hari ini konser idol favoritnya, mbak Wulan, 'kan?" Setelah terdiam beberapa saat, Afifa memulai kembali pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan.
Wulan membalikkan badannya ke arah Afifa. Terlihat jelas di indra penglihatan miliknya, kini Afifa yang sedang merapikan cadarnya. Seulas senyuman ia perlihatkan. "Gue, harus jaga Luthfi, Fa. Kondisi Luthfi lebih penting! Masalah suami-suami halu gue, itu mah gampang," kekeh Wulan di akhir kalimat.
Kali ini Afifa yang sudah selesai memakai dan merapikan cadar, berbalik. Membuat, kedua gadis berbeda usia itu kini saling berhadapan. "Aku, 'kan, bisa jagain Luthfi, Mbak.
"Gue, gak mau bikin repot, lo," tolak Wulan cepat. Sesaat kemudian, ia berjalan ke arah sofa dan mendudukinya.
“Aku, ini juga ‘kan adiknya, Mbak Wulan. Adik perempuan yang terbaik. Mbak Wulan, sendiri tadi loh yang bilang.” Bibir Afifa mengerucut dibalik cadar. Ia juga bahkan bersedekap dada.
“Haha. Astaghfirullah, Afifa!”
“Kok malah ketawa, sih?!” rengek Afifa sembari menghentakkan kaki di lantai.
Untuk sejenak, Wulan mengatur deru napas agar stabil kembali. Setelahnya, ia berjalan mendekati Afifa dan mencubit gemas pipinya. "Kamu, tuh lucu banget!""Au ah! Aku, ngambek sama Mbak Wulan!"
Tingkah gadis di hadapannya ini benar-benar membuat Wulan tak habis pikir. Meski sudah berusia dua puluh satu tahun, sikap Afifa kini seperti kekanak-kanakan.
Tangan kanan Wulan sejenak terulur menepuk pelan kepala Afifa. "Gue, tahu lo itu sebenarnya sibuk ngurusin resto. Apalagi sekarang usaha lo lagi naik daun gini. Tadi aja, lo sibuk sama iPad buat omongin kerja sama, 'kan? Lo, kira gue nggak tahu, gitu?"
"Iya, deh, iya. Afifa Nahda Rafanda adik perempuan yang terbaik buat Adriana Wulan Garini," ungkap Wulan kemudian, karena melihat Afifa hanya diam saja.
Alis kanan Afifa terangkat. Tatapan penuh selidik, ia perlihatkan. "Beneran? Gak bohong, 'kan?"
"Iya, Afifa."
"Aaaa. Makasih, Mbak Wulan."
Gerakan Afifa yang tiba-tiba memeluk erat membuat Wulan tersentak. Sedetik kemudian, ia tersenyum dan memeluk erat balik."Ya, sudah. Aku, mau pulang dulu," beritahu gadis bercadar itu sembari melepaskan pelukannya.
"Hmm. Oke!"

KAMU SEDANG MEMBACA
NANTIKANKU DiBATAS WAKTU
FanfictionSuasana dingin menyambut kedatangan Afifa yang baru saja sampai di negeri ginseng guna mengisi liburan akhir tahun sekaligus menghindari lamaran dari seorang laki-laki yang pernah menolongnya waktu peristiwa naas itu terjadi. Kemudian, Afifa berusa...