❄'𝚃𝚎𝚔𝚊𝚍.³²

55 10 0
                                    

༺𝐻𝒶𝓅𝓅𝓎 ❆ 𝑅𝑒𝒶𝒹𝒾𝓃𝑔༻

Kriett...

Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya. Beliau adalah Mrs Flare, ibu dari Blaze dan Ice. Sudah lama beliau tidak mengunjungi kamar anak sulungnya itu, dapat dilihat banyak area yang dilapisi debu.

Beliau duduk di ranjang milik putranya itu. Seketika itu juga banyak memori yang terputar dalam benaknya. Mulai dari saat beliau membesarkannya, sampai pada hari kecelakaan itu terjadi. Betapa terpukulnya beliau saat itu? Kehilangan putranya yang sudah dibesarkannya sampai sedemikian rupa.

Harapan seolah hilang dari dalam dirinya. Gejolak amarah membuatnya gelap mata, hingga hampir saja putrinya menjadi korban pelampiasan. Ralat sedikit, putrinya menjadi pelampiasan kekesalannya.

Memang sedari dulu, beliau ingin menyingkirkan kehadiran si bungsu. Namun, hal itu berhasil dicegah oleh si sulung. Bahkan saat dimana ia harus pergi, ia tetap berpesan hal yang sama. Permintaan untuk tetap menjaga adiknya.

Mrs Flare sendiri masih tak mengerti, sebegitu sayangnya kah anak sulungnya itu pada si bungsu? Bahkan setelah ia merenggang nyawa akibat berusaha melindunginya? Memang ya? Ikatan kakak adik itu tidak ada yang tahu.

Meski memegang permintaan si sulung, Mrs Flare masih tidak sudi jika harus mengurusi si bungsu. Maka dari itu sebagai imbalan, si bungsu harus bisa sempurna di mata setiap orang. Itu guna menutupi segala kelemahan yang dimilikinya. Gila? Oh sudah jelas.

Hingga akhirnya beliau menyadari, betapa banyak dosa yang ia lakukan terhadap putrinya itu. Kemarin, putrinya dinyatakan telah meninggal dunia. Ini semua akibat dari bencana yang menimpanya kala menjalani karyawisata.

Awalnya beliau enggan, bahkan hanya untuk sekedar menjenguknya. Hingga akhirnya, sosok teman putrinya itu mengatakan semua hal yang tidak beliau ketahui sebelumnya. Semua kenyataan pahit yang langsung menusuk hatinya.

Sebuah kebohongan besar yang selama ini dipendam oleh putrinya. Dibalik keheningan yang selama ini beliau ketahui, banyak sekali terdapat rasa sakit yang dipendamnya. Semua rahasia yang seharusnya ia ketahui untuk tetap menjaga hubungan keluarga mereka.

Sudah terlambat untuk beliau merubah sikapnya, bahkan saat beliau datang, putrinya sudah terlebih dahulu menutup mata.

༺❆༻

"Nak, kamu baik-baik saja?" Wanita paruh baya itu menghampiri anaknya yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit. Beliau duduk,mengelus pucuk kepala putrinya. Beliau tersenyum, sembari menahan tangisnya. "Mama disini untukmu, jangan khawatir."

Suami dari wanita itu, ikut mengelus tangan putrinya itu. "Ma, tangannya benar-benar dingin." Keduanya syok, tapi detaknya masih stabil. Wanita itu langsung mengecek nadi milik putrinya. "Denyutnya masih terasa, kok, Pa."

Kondisi Ice mungkin masih belum membaik. Tubuhnya masih belum bisa kembali ke suhu normal. Benar-benar masih sedingin ketika ia diselamatkan. Banyak luka disekujur tubuhnya, memang dalam kecelakaan ini ia tidak menghabiskan banyak darah. Namun, dengan tertimpa puing jembatan juga dapat membuatnya lebih buruk daripada hanya sekadar kehilangan darah.

"Maafkan kami, ya, Nak? Seharusnya dulu sekali, kami bisa lebih memperhatikanmu. Berusaha memahami kondisimu lebih banyak lagi. Pasti sulit, kan? Bertahan dengan kondisi seperti milikmu." Mrs Flare, tertawa sesekali sesenggukan. Beliau mengelus kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang. Berharap kehangatan kasih sayangnya itu bisa memulihkan kembali kondisi putrinya.

Mrs Flare beranjak berdiri. Beliau mengecup kening sang buah hati. Dulu itu adalah saat favorit sang putri. Kecupan sebelum tidur diselingi oleh dongeng pengantar tidur. Ah- memori masa lalu.

❄✧.*𝔇𝔯𝔢𝔞𝔪 .*✧❄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang