Chapture 4

193 28 2
                                    


Hari mulai pagi, bahkan matahari mulai naik dan cahayanya memasuki celah-celah jendela milik seorang pria yang masih terlelap di atas ranjangnya.

" Sayang bangunlah!  Bukannya pagi ini kamu harus ke rumah love? "

" Ugh, jam berapa sekarang?"

"  Jangan tanyakan jam, tapi bangunlah! Love pasti menunggumu di rumahnya.  "  

Biu duduk seraya mengucek matanya lalu mengerjapkan matanya beberapa kali.    " Mama, nanti malam partynya love, aku tidak tahu kado apa yang akan aku berikan. "

" Berikan apa yang bisa dia pakai atau gunakan. Contohnya seperti baju, sepatu, atau semacam barang lain. "

" Dia memiliki baju dan sepatu yang banyak. "

" Lalu berikan saja apa yang menurutmu lebih dia butuhkan. Mama tidak terlalu tahu soal itu, kan kamu temannya. "  

" 1 tahun yang lalu aku melukis kita bertiga,      aku, nanon, dan love. Apakah itu bisa dijadikan hadiah?"

" Apa saja bisa di jadikan hadiah sayang."   Mama eliza yang berdiri di dekat jendela berjalan menghampiri putranya yang masih duduk malas di ranjang.    " Senyuman pun bisa dijadikan  hadiah. "  

" Benarkah? "

" Iya, ituitu benar. "   Mama eliza menepuk paha Biu pelan sambil tersenyum tulus.     " Bagi mama senyuman mu sebuah hadiah, mama tidak punya apapun kecuali kamu dan senyuman mu. Kau tahu apa saja yang mama harapkan sepanjang hari? "   Biu menggeleng      " Mama harap kamu selalu bahagia, jangan sakit, jangan rapuh.     Kau tahu betapa sedihnya mama ketika kamu tergores walaupun itu hanya seujung kuku? "    Biu mengangguk     " Kau harus menjaga dirimu untuk mama, jangan pernah sakit sakit seperti dulu lagi. kamu harus semangat demi diri kamu sendiri dan demi mama. "    Biu mengangguk cepat.     " Bisakah kamu berjanji untuk mama? "    Biu mengangguk seraya tersenyum lalu  mendekat dan memeluk mama eliza.

"  Aku akan berjanji ma, aku tidak akan sakit lagi, aku tidak lemah, aku akan berjuang untuk mama. "

Mama eliza memeluk putranya erat seraya meneteskan air matanya.  Dia tidak menyangka bisa melewati ini semua. Setelah sang suami meninggal  beberapa bulan kemudian Biu jatuh sakit,  perusahaan yang di tinggalkan suami telah terjual sebagian untuk biaya berobat putranya dan untuk membayar gaji karyawan.  Di saat dirinya merasa frustasi moodnya akan kembali full ketika melihat senyum putranya yang tetap memberikan kehangatan walaupun keadaan Biu saat itu sangat menyedihkan.

Biu melonggarkan pelukan di saat Biu merasakan tubuh mama nya bergetar. 
" Mama menangis? "

Mama eliza menggeleng sambil tersenyum.   " Ini senyum bahagia, mama bahagia bisa melewati ini semua. Ini karena kamu sayang, mama tidak tahu akan seperti apa jika tidak ada kamu. "

" Aku mohon jangan seperti ini, jangan menangis, aku tidak suka melihat itu ma. "     Mama eliza mengelus pipi putranya lembut seraya mengangguk sambil tersenyum.

" Ohhh iya ma....."     Biu memberikan ekspresi semangat sambil tersenyum.  Terselip niat di hati untuk mengubah topik, karena Biu rasa topik ini terlalu menyedihkan.      " Mama tahu kan kalau aku sangat pintar dalam melukis. "   

" Ya, mama tahu.."

" Apakah mama mau melihat lukisan ku? "

" Ya, tunjukan sama mama! "  

Biu menyingkirkan selimut nya lalu turun dari ranjang, kemudian berjalan menghampiri lemari.       Nah ini dia....!!!!!!"   Biu mengambil lukisan yang berukuran 12x5  dari dalam lemarinya         " Tapi aku belum membingkai nya. "   Kata Biu seraya memberikan lukisan itu kepada mama eliza.     " Jika aku memberikan itu untuknya apakah dia akan menyukai itu? "

Sweet Blood and Sweet Love [ 𝗦𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶 ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang