4. Brother In Law ?

11.8K 853 6
                                    

illustration of Alza

----------------------------------------

Seketika Ann terdiam, ia baru sadar yang diserangnya bukanlah Alva tapi saudaranya, Ann gelagapan bingung harus berkata apa. Kemiripan dua saudara kembar itu membuatnya mengira ini adalah orang yang sama.

"Sayang, ada apa?" Suara sang Ibunda mengejutkan Ann, rasa canggung langsung memenuhi kepalanya, ia tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan ini, terlebih Alva meminta untuk menjadi fake partner dan tak mungkin ia membongkar rahasia itu.

"Nggak Bunda, nggak papa, cuman nyari udara segar aja, kok," jawab Alza berbohong pada sang Bunda.

"Gitu ya. Sudah, ayo kita masuk. Ann sayang ikut masuk, yuk! Di luar dingin, nanti masuk angin loh," ajak sang Bunda sembari merangkul dan mengusap kepala Ann lembut. Dengan perasaan canggung, ia hanya menurut berusaha menghindari kontak mata dengan Alza. Sial.

---

Ann diajak masuk ke ruang tengah. Di sana ia diminta duduk di sofa, menunggu sang bunda mengambil camilan yang sudah disiapkan, dan kini ia duduk disamping Alva. Ada Alza juga yang duduk di sana.

Ann terdiam tak ingin memulai percakapan. Ia masih sangat canggung karena menyerang orang yang salah. Tak lama, Xici datang dengan membawa 1 cup besar penuh dengan popcorn di tangannya.

"Xici sini," panggil Alza. Tentu Xici menurut dan langsung duduk di samping kakaknya. Ann melihat dari ekor mata. Dua orang ini sedang berbisik, tapi tak lama mereka memanggilnya.

"Kak Ann, kakak masih marah, kah?" tanya Xici dengan wajah manyun.

"Kami minta maaf soal tadi," tambah Alza menunduk sambil menangkup kedua tangan di depan wajahnya. Ann diam kebingungan. Seharusnya ia yang minta maaf karena sudah menyerang duluan.

"Ah tidak, aku yang harusnya minta maaf, aku nggak sengaja," balas Ann yang bingung dan canggung dengan situasi ini, sedangkan Alva hanya diam menatap tiga orang yang saling meminta maaf dan terus menyalahkan diri mereka sendiri.

"Duh ada apa, nih? Kok jadi canggung semua. Nih, Bunda bawain puding, semoga suka ya."

Sang Bunda datang bak malaikat penyelamat suasana tidak nyaman itu, ia memberikan puding pada masing-masing anaknya dan juga pada Ann. Tak lama, sang Ayah pun datang dan ikut memakan pudingnya.

Sang Ayah menghidupkan layar besar dan memutar sebuah film, semuanya langsung diam menonton. Ketika yang lain fokus menikmati film, Ann bingung apa lagi yang ia lakukan di sini. "Alva," panggil Ann berbisik dan yang dipanggil menoleh dan mencondongkan diri padanya. "sampai kapan aku di sini?"

Alva diam sebentar. "Sampai diizinin Bunda keluar."

"Buset, aku harus balik, besok aku kerja."

"Ambil cuti," sambung Alva dengan mudahnya dan kembali menatap layar film. Kesal, Ann langsung mencubit pinggang pria itu hingga sang empunya meringis kecil. "Nanti kuusahain," tambah Alva lagi mengusap bekas cubitan yang terasa nyeri.

Lama-kelamaan, Ann diam dan ikut terbawa film. Ia mulai menikmati alur film yang begitu emosional ini sambil terus memakan puding di tangannya. Ann terlalu meresapi adegan film itu hingga membuatnya beberapa kali menitikkan air mata dan tertawa kecil. Ann benar-benar merasa nyaman dengan posisinya. Tak sadar, kini ia sudah bersandar di dada Alva saat gusar mencari posisi yang nyaman. Film yang begitu panjang perlahan membuat rasa bosan muncul hingga tak sadar Ann tertidur, dan tak lama film selesai.

Xici berdiri merenggangkan badannya karena duduk terlalu lama di sofa. Tapi tak lama, perhatiannya teralihkan pada hal lain. "Bunda Bunda," panggil Xici sedikit berbisik.

I'm not Enigma [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang