Gumitir (2)

27 8 0
                                    

Hari yang lain, Gumitir kembali menjadi sasaran perundungan oleh geng Mely, Lisa dan Rita. Di lorong yang sepi, Gumitir berjalan dengan plastik berisi makanan di tangannya, namun tiba-tiba dia diseret ke dalam WC siswi dan mulutnya langsung dibungkam dengan kaos kaki entah milik siapa, namun baunya setara terasi yang dapat dipastikan tak pernah menyentuh air dan sabun selama beberapa bulan. Gumitir merasa mual, bau kaos kaki itu sangat menyengat. Dia tak bisa bergerak bebas karena Lisa dan Rita menjegal tangannya.

Gumitir tak bisa melawan, selalu tak bisa melawan. Mentalnya sudah runtuh, sudah tertanam dalam pola pikirnya yang dia adalah bahan perundungan. Yang ada di pikirannya ialah tak bisa melawan mereka bertiga. Maka begitu ia kembali dirundung seperti ini, ia hanya bisa menunggu sampai mereka puas dan meninggalkannya. Ataupun berharap datang seorang juru penyelamat seperti di novel yang pernah ia baca, namun tak pernah datang dalam hidupnya. Gumitir ditinggal begitu saja, dengan tangis bisu yang selalu menyertai. Begitu mereka pergi, Gumitir membuka sumbatan di mulutnya dan langsung muntah. Dia kini merasa pusing, baju nya basah. Dia sempoyongan datang ke UKS. Hanya ada siswa yang sibuk mengobrol entah apa dengan syal palang merah melilit leher mereka. Mereka tak mempedulikan Gumitir dengan wajahnya yang pucat masuk ke dalam UKS. Gumitir sudah paham kalau UKS di sekolah ini tidak benar-benar difungsikan sebagai Unit Kesehatan, melainkan hanya tempat nongkrong anak-anak PMR.

Gumitir tertidur, mungkin karena semalam yang ia tak tidur cukup karena terlalu menyenangkan tenggelam ke dunia fiksi sampai lupa waktu. Dia terbangun dengan kepala pusing, bau kaos kaki busuk itu masih samar tercium di hidungnya. Sekarang sudah senja, sekolah terasa sepi. Dia harus pulang, atau gerbang sekolah ditutup dan ia tak bisa pulang. Sangat tidak beruntung Gumitir, saat keluar dari gebang, dia justru bertemu dengan geng Mely dan dua babu setianya Lisa dan Rita. Mereka yang melihat Gumitir jalan sendirian, segera saja menyeretnya layaknya sasaran empuk.

Membawa Gumitir di pembangunan gedung yang mangkrak dekat sekolah, seperti biasa mencari tempat sepi "hey Gendut, kau lapar? Aku baru saja beli seblak, kau mau? Cewek gembrot seperti mu sudah tentu menyukai makanan pedas kan?" Mely sumringah mendapat hiburan baru.

"Hey Gembrot, aku juga bawa botol brotowali, kau pasti suka. Ini menyehatkan!" seru Lisa. Sementara Rita dan Lisa memegangi tangan Gumitir hingga ia susah bergerak, Mely membuka bungkus seblak yang terlihat sangat pedas dan masih sangat panas.

"Cepat Mely, dia sudah tak sabar makan seblak, si Gembrot ini begitu suka." Rita membuka mulut Gumitir dengan paksa. Dan tanpa menunggu waktu lama, Mely menumpahkan seblak yang masih panas itu ke mulut Gumitir, mulut Gumitir terasa panas dan terbakar. Mereka hanya tertawa melihat Gumitir yang meringis kesakitan. Tak cukup sampai di situ, Lisa membuka botol yang berisi brotowali "nih minuman sehat, kamu pasti cepat langsing" mulut Gumitir kini terasa sangat pahit dan terasa sakit karena panas dari seblak tadi. Dia kembali terisak tangis karena kesakitan. Dan seperti biasa, dia hanya menunggu sampa mereka puas. Lagi-lagi dia hanya bisa menangis.

Selalu saja begini, dia selalu dijadikan bahan perundungan oleh geng Mely dan dua babu setianya. Gumitir meringis karena mulutnya terasa kebas terbakar, ia lalu memperbaiki ikat di rambutnya dan minum dari botol air yang ia keluarkan dari tas punggungnya. Gumitir tidak seperti remaja lain yang suka berdandan, Gumitir hanya mengikat rambutnya dan mengenakan baju sekolah tanpa modifikasi dan terlihat lebih longgar sehingga membuatnya jauh lebih gemuk dari yang sebenarnya. Wajah Gumitir pun gempal karena kebiasaannya yang hanya duduk menikmati novel dengan camilan manis, kulitnya lebih gelap karena keturunan dari ayahnya. Ibunya bahkan pernah mengatakan malu, karena mempunyai anak yang tidak mirip sepertinya yang tinggi, putih dan langsing. Gumitir pun tak pandai merias wajah, dia tak pernah merawat kulitnya dan tak pernah membawa makeup. Dia tidak tahu cara menggunakannya.

Hari sudah gelap, mungkin angkot sudah tidak muncul di jalan. Gumitir bangkit hendak pulang, kabar baiknya besok dua hari ke depan ialah akhir pekan, ia setidaknya mendapatkan dua hari yang tenang tanpa gangguan dari Mely dan dua babu setianya. Gumitir menatap langit penuh bintang, dia berpikir jika suatu saat ia menjadi bintang ia akan menabrakkan dirinya ke bumi dan menghancurkan semua manusia di bumi. Atau jika suatu saat ia berkesempatan menjadi pohon, ia akan tumbuh dengan tinggi dan menyebar lalu memusnahkan kehidupan manusia. Gumitir sering berandai-andai dan sering memikirkan pemusnahan manusia, walaupun tak benar-benar ia lakukan karena itu hanyalah pikiran ia yang terlalu banyak menikmati fiksi. Sebenarnya Gumitir tidak benar-benar ingin memusnahkan kehidupan manusia, dia bahkan tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Dia tidak berani bermimpi karena harapan sudah hilang dari hidupnya (selamanya), dia tidak memiliki tujuan pasti yang membuatnya jadi ambisius ataupun cita-cita akan kebahagiaan hidup yang lebih baik. Dia tidak menata masa depan, dia hanya berpikir jika setiap malam dia masih bisa membaca novel, dia merasa sudah cukup meski hidup serumit apapun yang perlu ia jalani.

Namun, sebagai manusia yang hampir tiap minggu dalam hidupnya diisi penderitaan, Gumitir sering kali memikirkan kehidupan yang lebih baik, walaupun dia yakin itu hampir mustahil. Setiap hari Gumitir memulai hari dengan mengutuk hidupnya dan manusia yang menyakitinya serta mengutuk takdir yang terlewat kejam padanya. Lalu menutup hari dengan tangisan dan berbagai emosi melalui novel. Namun, bagi Gumitir tak perlu ia mengharapkan apapun pada siapapun apalagi harapan itu terlampau tinggi, ia sudah kapok akan kekecewaan yang ia rasakan. Seperti hari ini, Gumitir kembali mendapat perundungan yang seakan tiada hentinya datang. Gumitir terseok menyusuri pinggir jalan Pilang Raya menuju ke rumahnya yang beratus meter ke depan. Ia memeriksa jam di gawai dan menunjukan pukul 20:31, ia tak mau memesan ojek online, itu akan mengurangi simpanan uangnya untuk membeli novel. Jika tidak ada angkot yang lewat, lebih baik ia jalan kaki.

Jalanan Pilang Raya Cirebon arah Kedawung cukup ramai, suara klakson kendaraan dan lampu nya yang menyorot membuat ramai serta orang-orang yang berlalu lalang. Gumitir berhenti untuk sesaat memandangi pohon yang menjulang tinggi yang tumbuh di pelataran gedung negara Cirebon. Dari sini hanya terlihat sebagian batangnya dan sinar lembut kuning keemasan yang keluar dari daunnya yang berbentuk kepingan pipih kerang dara. Gumitir sesaat tersenyum menikmati keindahan pohon yang bercahaya tersebut. Dia berpikir pasti di sana sedang ramai orang tengah melihat pohon itu dari dekat. Di sosial media ramai kalau wisata pohon itu dikunjungi saat malam oleh para pasangan. Tempat itu menjadi salah satu tempat yang romantis di Cirebon, apalagi saat malam. Gumitir belum pernah pergi ke sana, dia berpikir itu adalah salah satu tempat hits, sedangkan ia menghindari tempat hits— lebih tepatnya menghindari tempat yang kemungkinan ada Mely dan dua babu setianya.

Pandangan Gumitir turun kini beralih pada Kafe Kusuma yang tepat di serang jalan sana. Gumitir sering melihat kafe ini ketika ia pulang dengan angkot. Namun belum pernah ia mampir ke sini, lagi pula ia belum pernah mampir ke kafe manapun. Bagaimana cara memesan makan dan minum di kafe? Kafe itu cukup besar berlantai dua, berwarna putih dengan hiasan tanaman rambat di sana-sini serta papan dengan tulisan tangan dan visual cangkir kopi yang menguap dengan kapur. Di bagian atasnya nama KUSUMA terbuat dari lampu dengan aksen kopi dan cangkir. Gumitir lalu melihat salah satu barista yang mengenakan celemek coklat muda dengan kaos putih polos, rambutnya disisir rapi dan pendek tengah melayani pembeli dari jendela kafe yang lebar. Ia cekatan menggunakan mesin kopi, sesekali bercanda dengan pembeli dan menyampaikan entah apa pada rekan kerjanya. Gumitir tidak semudah itu jauh cinta, apalagi pada pandangan pertama. Dia hanya tak sengaja melihat lalu mengamati gerik pemuda yang sepertinya barista itu. Lalu dia teringat, ini sudah malam dan ia harus segera pulang. Ia kembali berjalan. Namun sesampainya di mini market, beru dua puluh meter dari kafe Kusuma, ia sudah nampak lelah. Masa bodo soal tabungan membeli novel, dia lebih memilih memesan ojek online. Sesekali menggunakan ojek online untuk memanjakan kakinya tidak masalah kan? Toh tabungan nya hanya berkurang belasan ribu. 

Cirebon dan Pohon Balas Dendam (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang