Jangan Menangis (2)

23 9 1
                                    

Gumitir segera mengambil tasnya di kelas dan berjalan hendak pulang dengan linang air mata yang terus saja mengalir meski ia usap berkali-kali. Meski dirundung sudah menjadi hal yang biasa baginya, namun tetap saja terasa menyakitkan. Menyakitkan bila mana ia membayangkan kehidupan yang normal lalu membandingkan dengan kehidupannya yang sekarang, menyakitkan bila mana ia teringat kehidupan bahagianya saat ayahnya masih hidup, menyakitkan bila mana ia mengharapkan kehidupan yang lebih baik namun tak kunjung datang. Semua itu benar-benar menyakitkan dan semua itu datang ketika ia dirundung. Ia tidak terlalu merasakan sakit ketika rambutnya ditarik Mely, ketika wajahnya diguyur air dingin ataupun ketika ia dijadikan bahan ejekan. Namun ia lebih sakit ketika dirundung lalu keinginan besar untuk kehidupan bahagia muncul begitu saja dan mengisi semua pikirannya.

Ketika ia diolok-olok oleh gurunya sendiri, ia membayangkan ia sedang dipuji akan kepandaiannya oleh guru. Saat ia dirundung oleh teman-teman sekelasnya, ia membayangkan ia bekerja sama dalam satu event yang menyenangkan di sekolahnya bersama teman-teman sekelasnya dan saat ibunya kembali merendahkan dirinya, ia membayangkan kembali bagaimana belaian ibunya sewaktu ia kecil dulu. Hal-hal seperti itu yang jauh lebih menyakitkan bagi Gumitir daripada hanya sekadar ditarik rambutnya atau diolok-olok satu kelas. Hal itu sudah biasa bagi Gumitir, sudah tidak terasa menyakitkan seperti dulu.

Saat Gumitir berjalan hendak membeli tisu di mini market, ia berpapasan dengan dua orang wanita dengan tampilan seperti model, tubuhnya bagus dan kulitnya cerah serta mengenakan pakaian yang mengundang lalat. Berpapasan dengan Gumitir yang basah, rambut lepek, wajah kusam kotor.

"Apa dia tidak pernah mengenal sisir?" ucap salah satu dari mereka ketika melirik Gumitir.

"Lupakan soal sisir, apa dia tidak pernah kenal dengan sabun?" lalu mereka berlalu begitu saja. Gumitir hanya diam seolah tidak mendengarnya.

Gumitir berpikir, manusia ialah makhluk yang paling rendah walaupun pencipta mereka mengatakan manusia ialah makhluk paling sempurna. Tapi Gumitir tidak menganggap demikian, Gumitir menganggap manusia adalah makhluk rendah karena betapa kejam dan busuknya manusia. Bagaimana bisa, saat dirinya bisa merasakan sakit justru menyakiti orang lain? Bukankah ia paham seberapa sakitnya itu? Kenapa manusia menusuk manusia lain padahal ia tahu seberapa menyakitkan ia ditusuk? Dengan kata-kata, manusia menebas satu sama lain, dengan kata-kata manusia mengutuk satu sama lain dan dengan kata-kata manusia membelah kaum mereka sendiri. Tidakkah itu perbuatan yang sama bodohnya dengan seekor hewan? Jika dipertimbangkan mungkin jauh lebih bodoh dari hewan. Lain itu, manusia begitu mudah dikuasi oleh nafsu. Sebut saja salah satu nafsu yang sering sekali membuat manusia terjerumus ke dalam jurang kebodohan, amarah. Berkali-kali Gumitir melihat bagaimana amarah menelan manusia bulat-bulat, bagaimana amarah menyesatkan manusia dan bagaimana amarah menyakiti manusia satu sama lain. Manusia tidak hanya membawa kehancuran bagi dirinya tapi juga bagi makhluk lain dan bagi bumi. Berkali-kali manusia entah sengaja atau tidak berusaha menghancurkan bumi, membuat bumi tidak nyaman ditinggali. Mereka terlalu banyak mengambil dari alam, terlalu banyak yang mereka habiskan. Gumitir membenci manusia, oleh karena dirinya juga manusia— dia membenci dirinya sendiri.

Gumitir benar-benar membenci manusia, segala bentuk manusia. Dia membenci kemunafikan mereka, arogansi mereka, dan dia membenci rasa tamak mereka. Namun apa yang perlu Gumitir perbuat dengan rasa benci dirinya itu pada manusia? Tidak ada. Lagipula dia hanya remaja yang suka dirundung, apa yang perlu dia perbuat? Meratakan dunia? Dan pikirannya pun dipengaruhi akan bacaan dari banyak novel yang ia baca, ia mengambil pemikiran dari beberapa penulis dan mengaitkannya dengan kehidupan dan pengalamannya. Karena dia selalu dirundung, wajar dia membenci manusia, lebih khusus manusia yang tidak ia suka. Dan lagipula ia masih remaja, ada banyak babak yang harus ia lalui dalam hidupnya yang dapat mengubah pemikirannya. Jika selama ini hidup yang indah dan kasih sayang dari seseorang telah direnggut dari kehidupan Gumitir yang membuat dirinya membenci manusia, mungkin dia hanya perlu seseorang yang memberikan kenyamanan untuknya, memberikan ia sekali lagi untuk merasakan keindahan hidup. Novel tidak benar-benar membantunya dalam mencari keindahan hidup, itu hanya semu dan sementara. Dia benar-benar membutuhkan sentuhan langsung dari seseorang yang dengan tulus menyayangi dirinya. Tapi siapa?

Dengan rambut yang basah dan lepek, Gumitir berjalan kaki. Tatapan matanya kosong, dia diam saja meski klakson angkot memanggilnya untuk pulang, ataupun tawaran dari ojek offline maupun online. Dia hanya diam, bertatapan kosong dan berjalan pulang. Tidak merasakan pegal, tidak merasakan sakit di kakinya, dalam kepala dan hatinya hanya kehampaan yang mengisi sampai penuh. Tidak ada alur dari salah satu novel yang mengisi pikirannya, tidak ada dialog karakter favorit yang biasa terlintas dalam pikirannya. Tidak ada apa-apa baik dalam pikirannya maupun di dalam hatinya.

Suasana kota yang sudah gelap masih ramai, suara jalanan, suara dari kedai-kedai makan dan suara aktivitas malam perkotaan lainnya. Lampu-lampu kendaraan seperti serangga bercahaya di dalam kegelapan, juga lampu-lampu dari gedung-gedung perkantoran yang menyiksa pekerjanya dengan lembur tiada henti. "Dr. Philips, saya ingat Anda pernah menyatakan mengenai pohon bercahaya yang berhenti tumbuh karena cuaca yang mulai panas? Namun dalam tulisan tim peneliti Anda yang terbaru, tim peneliti Anda menyatakan pohon bercahaya mulai kembali tumbuh dan intensitas cahaya yang dikeluarkan oleh daun-daunnya lebih terang. Bisa Anda mengenai hal itu, Dr. Philips?" Dr. Philips mengatur duduknya dalam acara talk show di TV, belakangan kabar mengenai pohon yang kembali bertumbuh menjadi trending topik di semua media khususnya di Cirebon "Ya, aku rasa memang ada kekeliruan dalam mengidentifikasi pohon bercahaya. Ya, sekarang kami memanggilnya dengan pohon bercahaya seperti orang kebanyakan memanggilnya. Namun yang pasti, dari segi ukuran dan intensitas cahaya yang dikeluarkan, pohon ini bisa terus tumbuh dan mengeluarkan cahaya yang lebih terang. Begitu perhitungan kami."

Gumitir melewati pos satpam salahsatu gedung bank yang tengah menyalakan TV yang membahas pertumbuhan pohonbercahaya bersama Dr. Philips. Gumitir refleks melihat pohon yang tengahbercahaya di malam hari, sedikit tersenyum karena keindahannya. Bagi Gumitirpohon itu tidak terlalu menunjukan pertumbuhannya, sama seperti beberapa harilalu. Gumitir! Kau, jangan menangis lagi! Ada aku di sini! Suara lembutnan indah itu kembali terdengar oleh Gumitir jangan sedih hanya karenamanusia, aku bisa menjadi temanmu lalu pohon yang tengah Gumitir nikmatikeindahannya bersinar lebih terang yang membuat takjub Gumitir "kau, kau pohonitu? Kau yang berbicara dengan ku?" iya! Jawab pohon bercahaya dengansuaranya yang lembut dan bersahabat aku selalu mengawasi kamu lho Gumitir!Jangan sedih lagi ya, aku selalu ada untuk kamu. Jadi tidak perlumenangis lagi. Terdengar suara tawa yang mencoba menghibur Gumitir, Gumitirmenyadari dirinya dihibur oleh pohon yang bercahaya, merasa lebih baik"Terimakasih" ucapnya senang.

Cirebon dan Pohon Balas Dendam (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang