Chap 5: Aku Mau Suka Dia Diem-Diem Aja, Ssst!

180 23 13
                                    

Jeongin tengah sibuk di dapur bersama Ibunya, dia dipaksa serius, Jeongin mana mau masuk dapur bisa-bisa tidak berbentuk dapur kesayangan sang Duchess dan koki keluarga. Jeongin itu tidak bisa gunakan pisau dengan ahli, tidak mau terciprat minyak panas, atau tidak mau cemong wajahnya karena tepung. Dia ingin terima bersih. Tapi pagi ini agak beda, Ibunya sudah membangunkan semua orang untuk melakukan kegiatan masing-masing satu jam lebih awal. Bahkan ayah Jeongin sampai kebingungan melihat semangat istrinya, Jeongyong yang hari ini memang tidak ada kesibukan selain membantu pekerjaan sang ayah juga sama kagetnya, Jeongsuk memang ada kelas sastra jadi laki-laki itu satu-satunya yang tenang.

"Aduh Yang Jeongin, kenapa potongnya besar kecil begini, sih!" seru Ibunya melihat hasil potongan Jeongin yang acak adut. Besar kecil tidak jelas, ada yang berbentuk lidi atau yang dadu.

"Ibu kenapa juga suruh aku memasak, kan aku gak bisa," bukannya meminta maaf Jeongin malah beralasan.

"Keluar sana, belikan bumbu ini di pasar!"

"Ibu, aku kan gak pernah ke pasar,"

"Sama Dahye," Duchess mulai memanggil salah satu pelayan khusus dapur untuk menemani anaknya. Jeongin mencebikkan mulutnya karena kalah berdebat dengan sang ibu. Tapi mau tidak mau dia memang harus tetap berangkat.

Jeongin keluar bersama dengan Dahye menuju pasar dengan jalan kaki. Pasar rakyat dekat sekali dengan kediaman Duke di ibu kota. Satu keluarga itu hari ini memang menghabiskan waktu di ibu kota karena diundang oleh raja untuk menghadiri pesta perayaan panen. Pesta perayaan panen bagi bangsawan adalah pesta jamuan dari kerajaan untuk bangsawan yang berperan besar terhadap kesuksesan panen tahun ini. Sedang rakyat menikmati pesta panen ini dengan perayaan di balai kota dengan aneka macam hiburan tidak lupa juga beberapa bangsawan akan ikut menjual panen kebun mereka dengan harga lebih miring. Rasa bahagia dan syukur rakyat bisa dirasakan pagi ini di pasar. Pasar ramai dengan semua orang bahkan dari kerajaan lain—karena perayaan dengan harga miring ini pasti juga menjadi incaran pedagang dari kerajaan lain untuk dijual di kerajaan mereka.

Jeongin berjalan beriringan dengan Dahye mencari bahan-bahan yang dibutuhkan oleh sang ibu untuk memasak. Walaupun sebenernya Jeonginlah yang mengekori Dahye kemana gadis itu berhenti di setiap stan. Dahye tampak sangat hafal dengan seluk beluk pasar yang membuat Jeongin kagum sekaligus membuatnya terlihat seperti anak bebek yang hilang arah tak lama perumpamaan bebek itu menjadi nyata alias Jeongin nyasar. Dia kehilangan sang teman belanja, dan kini dirinya tidak tau ada dimana atau posisi jelasnya. Jeongin hanya melihat hiruk pikuk orang berjualan. Laki-laki itu bahkan terdorong kesana kemari oleh kesibukan orang-orang.

"Minggir, jangan menghalangi jalan sedang sibuk," Jeongin bahkan dimarahi karena dia hanya diam di tempatnya.

"Maaf," laki-laki itu meminta maaf dengan suaranya yang mirip cicitan. Jeongin memilih menuju pinggir jalan agar tidak mengganggu lalu-lalang orang pasar. Hingga tidak sadar posisinya yang terlalu pinggir penabrak seseorang yang sedang berhenti di salah satu kios perhiasan

"Ngapain di pinggir begini? Anak duke sekarang mau jadi bebek hilang kah?" Jeongin yang awalnya berniat meminta maaf malah merasa kesal dengan pertanyaan sosok yang saat ini menahan tubuh Jeongin yang oleng karena menabrak sosok ini.

Alamak, Hwang Hyunjin, Jeongin segera menjauhkan tubuhnya dari posisi awalnya yang agak ambigu. Jeongin terjatuh ke dada bidang sang putra mahkota Corti. Tangan kanannya dan tangan kanan Hyunjin bertaut karena Jeongin menyeimbangkan tubuhnya.

"Maaf, Hyung," Jeongin segera memperbaiki dirinya.

"Mana pelayanmu?"

Jeongin memperhatikan sekitarnya—padahal dia tau bahwa dirinya sudah kehilangan sosok Dahye daritadi. "Gak tau, kayaknya aku tertinggal."

Hanya Figuran yang Mengagumimu Dalam DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang