Malam Minggu, sesuai seperti rencana awal, Jihan, Kelia, Tita dan Lindri sudah sampai di Dangau. Mereka menguatkan diri sebelum melangkahkan kaki dan menduduki tempat yang sudah direservasi. Tapi tidak hanya berempat, ada Raden yang menemani Kelia tentunya dan tamu tidak diundang bernama Seno. Lelaki itu memaksa ikut saat Lindri bercerita akan ke sini.
“Lo gak kedinginan?” Seno berbisik dari arah belakang telinga Lindri, perempuan itu sampai tersentak kaget.
“Gaklah.”
Seno menggeleng melihat penampilan mereka berempat, hanya Kelia yang terlihat masih biasa saja, hanya menggunakan celana jeans dan kaos fit body. Sedangkan Tita menggunakan rok span di atas lutut, dan kaos oversized yang bagian depannya sengaja dia masukkan dan belakangnya dibiarkan keluar tidak rapi. Jihan memakai celana pendek yang panjangnya setengah paha, menggunakan tanktop dan crop top rajut yang sebenarnya hanya menutupi lengan, karena potongan badannya di atas dada. Terakhir Lindri yang menggunakan hot pants jeans dan crop top oversized.
“Yang patah hati siapa, yang paling niat lo pakaiannya,” komen Seno dan duduk di sebelah Lindri. Seno juga sudah tau awal cerita hingga mereka bisa terdampar di tempat ini.
Sebenarnya pakaian mereka biasa saja untuk ukuran tempat seperti ini, hanya saja untuk perempuan yang baru mencoba hal ini, mereka cukup berani.
Mereka memesan banyak makanan, perempuannya tidak berniat untuk minum alkohol. Sedangkan Seno memesan sebotol alkohol untuknya dan Raden tentunya.
Ternyata suasananya lumayan asik, menurut Lindri. Mungkin ini karena akustik yang mereka sajikan bukan kaleng-kaleng, lagu-lagunya pun asik-asik. Awalnya mereka duduk sambil bernyanyi dan berjoget tipis, tapi ketika semakin larut, beberapa orang di sana sudah turun ke lantai dansa yang berada di tengah. Tita sudah melirik Lindri berkali-kali, dia juga menggoyangkan tangan Jihan yang ada di sebelahnya.
“Ayo-“ belum selesai menjawab, seseorang membuka pintu yang memang berada tepat di samping mereka duduk. Sesosok laki-laki tinggi dengan pakaian kasual masuk. Matanya langsung tertuju pada Jihan. Awalnya dia berdiri langsung duduk lagi. Ketiga sahabatnya juga ikutan kaget melihat ada Riga.
“L-lo?”
Tanpa disuruh dia duduk di sebelah Jihan, bersalaman dengan semua yang ada di meja itu. Namanya Riga, lelaki yang sedang menempuh perkuliahan semester tiga, lelaki yang bukan teman Jihan tapi bukan pula pacarnya. Mereka terlibat dalam hubungan rumit perjodohan, tapi menikah saat keduanya sudah menyelesaikan pendidikan. Untuk sekarang mereka hanya sibuk masing-masing, Jihan dan Riga sama-sama tidak membatasai satu sama lain, termasuk memiliki pacar, anggap saja itu memanfaatkan waktu sebelum terikat. Tapi keduanya biasa memang memberi kabar, tadi memang Jihan memberi kabar ke Riga bahwa dia akan ke sini namun tidak menyangka dia akan datang.
“Ngapain di sini? Lo ada kegiatan kan besok?”
“Buat mastiin lo baik-baik aja di sini.”
Seorang waittres menginterupsi meja mereka dengan membawa sebotol minuman alkohol. Riga langsung menoleh Jihan dan meminta penjelasan dari matanya.
“Bukan buat kita.”
“Ini gue yang pesen, bro. Aman.” Seno tersenyum sembari membuka tutup botolnya yang memang sudah dibukakan oleh waittres itu. Riga baru bisa menghela nafas lega. “Minum bro?” Tawar Seno kepada Riga.
Riga mengangguk dengan senang hati.
“Shtt ... jadi kagak?!” Tanya Tita sedikit keras.
Jihan yang awalnya ingin jadi menggeleng, dia hanya duduk dengan kikuk di sebelah Riga. Hanya tersisa Lindri yang bisa diharap. Dia pun memberi tatapan memohon pada Lindri.

KAMU SEDANG MEMBACA
SAYEMBARA (SELESAI)
Teen FictionLindri sungguh kaget saat mengetahui poster sayembara yang dia buat disebuah aplikasi edit foto jadi menyebar di grup tim futsal sekolah! Padahal dia hanya membagikan ke grup chat yang ada tiga sahabatnya. Ini benar-benar memalukan! Awalnya Lindri s...