"Jadi pacar gue, dan gue bakal bermanfaat buat lo."
-----------------------------------------------------------------------
Araina Silvanska. Cewek yang selalu ingin hidup bebas, lingkup pergaulannya yang 'dianggap' aneh oleh ayahnya. Membuat Ara in...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Ara sudah terlambat, harusnya ia pulang lebih awal dari ini. Dari gerbang depan sudah terlihat mobil kesayangan ayahnya yang terparkir. Sekarang alasan apalagi yang harus dibuatnya, ayahnya sudah melarang agar dirinya tidak ke kampung lagi.
Dengan langkah sepelan mungkin Ara menuju ke arah kamarnya. Semoga saja ayahnya tidak menungguinya seperti waktu itu.
"Ara!" Pandangannya langsung menghadap suara yang tepat di belakangnya. Napasnya terhembus lega saat mengetahui si pemilik suara.
"Ibu, aku kirain ayah."
Winda menggeleng. "Udah, kamu gak usah naik ke jendela, langsung masuk lewat pintu kamar aja, ayah lagi mandi."
Ara cepat mengangguk. Ia mengubah arah dan langsung berlari menuju kamarnya. Setelah menutup pintu, Ara dengan cepat masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Ia harus mempersiapkan diri sebelum ayahnya datang mengecek.
Beberapa saat berlalu, rasa segar menjalas di seluruh tubuhnya. Ara mengambil hair dryer, dan mengeringkan rambutnya dengan cepat.
Tok! Tok! Tok!
"Ara, ayah boleh masuk?"
Ara refleks melempar hair dryer itu ke kasur. "Iya yah."
Senyumnya Ara mengembang dengan sedikit kikuk. Ini gue udah ga keliatan kumel lagi kan?
Baron yang menepuk-nepuk samping kananya, isyarat agar putrinya duduk di sebelahnya. Ara menurut, diliat dari ekspresi ayahnya yang terlihat biasa saja, tampaknya ayahnya itu tak curiga.
"Ayah seneng, kamu nurut apa kata ayah hari ini buat gak ke kampung," ucap Baron sambil mengelus rambut anaknya itu.
Makasih ibu...
"Tapi keputusan ayah buat mindahin kamu bakalan tetap lanjut." Ucapan Baron membuat senyum Ara luntur, ia kira tidak akan ada lagi bahasan soal ini.
"Ayah udah hubungi Om Viko, di ausie nanti-"
"Ayah..." Ara mengubah posisinya menjadi duduk di lantai sambil memegang kedua tangan Baron, "Aku gak mau dipindahin. Please banget, aku mau tinggal di sini, sama ayah sama ibu."
Ara memasang muka sememelas mungkin.
"Bangun Ara."
Dengan cepat Ara menggeleng. "Gak mau, Ara 'kan udah ikutin keinginan ayah. Kenapa masih tetap dipindahin sih?"
"Denger, di sana kamu bisa terkontrol dengan baik, om Viko juga-"
"Gak mau! Lagian selain ayah sama ibu Ara gak bisa ninggalin SMA Angkasa," ucapnya.
Kening Baron mengernyit. "Ara, ayah tau bukan itu alasannya, bukan gak mau ninggalin sekolah kamu di sini, tapi karena teman-teman kamu di kampung 'kan?"