Saat itu Gumitir masih duduk di bangku SMP kelas tujuh, di saat ini Gumitir mulai mempertanyakan nilai dan arti kehidupannya. Di saat SMP Gumitir baru paham jika wanita haruslah cantik, kurus, putih dan pandai berdandan. Gumitir merasakan perundungan yang membuat dirinya begitu merasakan sakit dan tak bisa hidup tenang ialah saat dia masih duduk di bangku SMP. Di bangku SMP, Gumitir mulai mengenal rasa suka pada lawan jenis. Namun Gumitir tidak mengharapkan dirinya disukai oleh siapapun karena menurut dirinya dia sudah keluar dari kriteria cewek yang cocok dijadikan pacar. Dia tidak cantik, dia tidak populer, dia gempal, dia bodoh, dia merasakan banyak kekurangan dan tak pernah mengharapkan satu cowok di sekolahnya untuk mencintainya apa adanya.
Namun, itu semua berubah ketika seseorang datang dalam hidupnya dan mengisi hatinya yang kosong. Saat itu, jam istirahat Gumitir membeli makanan di kantin sendirian. Di masa SMP Gumitir sudah dijauhi oleh teman-temannya. Namun tidak selalu jadi bahan perundungan, yang paling buruk hanya mengejek keluarganya. Tak pernah membuat Gumitir merasakan begitu sakit di hatinya hanya karena itu. Tidak seburuk perundungan setelah kejadian yang akan diceritakan ini. Gumitir seperti biasa sejak SMP ia makan sendirian di dalam kelas sementara hampir semua teman sekelasnya makan di kantin ataupun nongkrong entah di mana. Gumitir menyobek roti, dan memakannya dalam kesunyian dirinya yang tak berteman. Teman sekelas yang ada di kelasnya sedang menggosipkan kakak kelas yang begitu populer karena tampan, cerdas dan anak dari pejabat pajak. Semua cewek di sekolah Gumitir mengidolakan kakak kelas yang populer itu. Ildan, begitu namanya. Gumitir tahu tentang kepopuleran Ildan, Gumitir pun sudah melihat sendiri ketampanan kakak kelasnya. Namun Gumitir tidak pernah sedikitpun berharap bahwa suatu saat nanti dengan keajaiban ibu peri, Ildan datang sembari menaiki kuda putih dan menyatakan cintanya pada Gumitir. Gumitir tidak seperti cewek lain di sekolah ini, yang begitu mengharapkan keajaiban untuk dicintai oleh Ildan.
Gumitir pernah melihat Ildan dari kejauhan dan mengagumi Ildan karena bukan hanya tampan, Ildan juga membawa karakter yang kalem dan tenang. Bahkan dia tidak perlu melakukan usaha lebih untuk bertebar pesona di seantero sekolah. Banyak yang mengagumi Ildan bahkan dari kalangan guru karena kepintarannya. Gumitir membereskan tasnya dan bersiap untuk pulang, Gumitir menunggu angkot di pinggir jalan gerbang sekolah. Namun tak kunjung datang angkot itu. Keajaiban entah datang dari mana, dengan motornya yang gagah Ildan datang menawarkan untuk menghantarkan dirinya.
"Mau bareng?" tanya Ildan dengan membuka kaca helm full face miliknya. Gumitir hanya bengong mematung melihat Ildan yang entah keajaiban apa menawari untuk mengantarkannya pulang. "Angkot mungkin masih lama, daripada nanti kesorean mending bareng, yuk!" Ildan langsung menyerahkan helm pada Gumitir sebelum Gumitir memutuskan hendak bilang apa.
"Ma— makasih" Gumitir naik ke motor Ildan yang sudah tentu belum mendapatkan SIM itu dan Ildan langsung bergabung dengan jalanan. Hati Gumitir berdebar dalam tiap meter perjalanan ia pulang, dia adalah kakak kelas yang Gumitir kagumi— semua orang mengaguminya, dan dia mendapatkan kesempatan untuk pulang bersama. Ibu peri, ternyata beneran ada? Pikir Gumitir yang lalu geli dengan pemikirannya sendiri.
"Pegangan, nanti jatuh" pegangan? Tangan Gumitir bergetar dan rasanya tak kuat melingkari tubuh tinggi Ildan dengan tangannya yang gempal dan sawo matang. Di saat Gumitir ragu-ragu untuk melingkarkan tangannya, Ildan menarik tangan Gumitir untuk dilingkarkan di pinggangnya yang sontak membuat Gumitir terkejut. Wajah Gumitir bahkan merah karenanya.
Hari itu Gumitir tidak menyangka bahwa senior yang dikagumi oleh banyak orang menghantarkan dirinya pulang. Sore itu di bawah mentari yang mulai condong ke barat, Gumitir merasakan perasaan kekaguman dirinya pada Ildan naik sampai ke langit atas sana. Begitu sampai di rumah Gumitir, Ildan langsung pergi dan bilang pada Gumitir jika dia akan menjemputnya besok pagi. Gumitir tentu menolak— walaupun di hatinya berbunga bisa sekali lagi diantar oleh Ildan. Namun Ildan memaksa dengan alasan rumah mereka satu arah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cirebon dan Pohon Balas Dendam (TAMAT)
RomantikSUDAH TAMAT Satu hari di Kota Cirebon, tumbuh pohon misterius yang dapat tumbuh tinggi sampai mencakar langit dan kala malam dedaunan pohon menyemburkan cahaya kuning yang indah dan menenangkan. Di sisi lain, Gumitir adalah gadis yang selalu dirun...