Deringan keras ponsel membangunkan Junghwan dari tidurnya, suara itu berasal dari ponsel Doyoung karena miliknya sengaja ia sunyikan jika tidak sedang bekerja.
Dan Junghwan terkesiap begitu melihat nama Ibu Doyoung muncul di layar, masih terlalu pagi untuk sekedar bertukar kabar maka dengan cepat Junghwan menjawab panggilan itu tanpa membangunkan pemilik ponsel terlebih dulu.
"Kim Doyoung! Kenapa baru diangkat? Mertuamu sakit dan sekarang lagi ada di rumah sakit tempat Ibu dirawat dulu, sebenernya Ibu belum boleh ngabarin kamu tapi Ibu takut Ayah mertuamu kenapa-kenapa."
Junghwan mengerjapkan mata, kaget dengan informasi yang Ibu mertuanya ucap tanpa jeda.
"Ini Junghwan, Bu."
"Astaga Junghwan, mana suamimu? Belum bangun dia?"
"Doyoung lagi gak enak badan, gimana Bu tadi? Ayah dirawat di mana?"
Ibu Doyoung menyesali keputusannya sendiri, memang tidak seharusnya ia memberi informasi di jam segini karena anak satu-satunya itu bangun selalu siang hari.
"Maaf nak, gak seharusnya Ibu hubungin kamu jam segini."
"Gapapa Bu, hari ini kebetulan saya libur jadi bisa pulang. Sakitnya parah, Bu?"
"Tengah malem tadi Ibumu manggil ambulans dan bikin panik satu desa, sekarang masih diperiksa Dokter nak jadi Ibu juga belum tau sakitnya apa."
Junghwan mengangguk paham, ia mengucap terima kasih lalu berkata bahwa dirinya akan segera pulang nanti. Panggilan berakhir dan tanpa Junghwan sadari ternyata Doyoung sudah bangun dan sedang memandang dengan tatapan penasaran ke arahnya.
"Siapa?" Tanya Doyoung sambil berusaha bangun dari tempatnya berbaring.
Tangan Junghwan bergerak menyentuh ceruk leher suaminya, "Demamnya udah turun, gimana? Udah enakan? Tenggorokan kamu masih sakit?" Junghwan balik bertanya.
Doyoung mengangguk, "Tadi siapa yang telfon?" Tanyanya lagi.
"Ibu."
"Kenapa? Jam segini? Ibu gapapa kan?"
"Gapapa, Ibu kasih kabar kalau Ayah masuk rumah sakit."
"Hah? Ayahmu?"
Junghwan mengangguk sebelum menyeka keringat di dahi suaminya, suhu tubuh Doyoung memang sudah turun tapi Junghwan tahu bahwa ia belum sepenuhnya sembuh. "Iya, kamu istirahat lagi ya, nanti siang kita ke Iksan."
Doyoung menggeleng, ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan hendak turun dari kasur, tapi gerakannya dengan cepat dihentikan oleh Junghwan.
"Nanti siang kita pergi, kamu tidur dulu biar aku yang siapin semuanya."
"Aku mau mandi biar kita bisa berangkat sekarang, gak perlu ditunda-tunda Junghwan, lagian perjalanan ke Iksan butuh waktu lama."
Helaan napas berat keluar dari mulut Junghwan, Doyoung menatap suaminya yang kini tertunduk sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Ia kembali naik ke atas kasur dan mendekat ke tempat Junghwan duduk lalu mendekap tubuh suaminya dengan lembut.
"Gapapa, Ayah gak akan kenapa-kenapa." Ucap Doyoung begitu mendengar Junghwan mulai terisak. "Gapapa Junghwan..." Lanjut Doyoung lagi, ia mengusap punggung suaminya dengan lembut, mengecup atas kepala Junghwan berulang kali dan terus menenangkan Junghwan sebisanya.
Walau Junghwan tahu bahwa Doyoung juga sama paniknya.
Dengan persiapan seadanya akhirnya mereka berangkat ke Iksan, tadinya Doyoung meminta agar mereka naik kereta cepat atau Bus antarkota karena takut Junghwan kelelahan jika harus mengemudi sendirian, tapi Junghwan menolak dan berkata bahwa transportasi umum di desa masih belum lengkap dan takut jika itu hanya merepotkan mereka nantinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Buttercup [Hwanbby]✔
FanfictionBegitu banyak ingatan masa kecil yang terlintas di pikiran Junghwan begitu melihat Kim Doyoung, sahabatnya yang memilih untuk menetap di kampung halaman bahkan hingga umurnya sudah jauh dari kata remaja. Tapi hanya satu yang benar-benar tergambar je...