17. Something Different About You

7.9K 586 10
                                    

Seminggu kemudian, pagi itu di laboratorium yang sama dengan suasana yang tenang. Nao duduk di pinggir kasur menghadap sang Ayah yang sedang memeriksanya.

"Kamu bisa kembali sekarang. Tapi kalau ada apa-apa segera hubungi nomor ini ya," ucap sang Ayah sambil memberikan kartu nama yang tertera nomor telepon khusus.

"Iya, terima kasih, Pak... Edgar," balas Nao sambil membaca nama yang ada di jas putih milik sang Ayah.

"Panggil ayah saja," balas sang Ayah langsung diiyakan oleh Nao. Setelah mengganti perban jadi lebih tipis, Nao turun dari kasur dan langsung disambut tangan Alza.

"Udah? Mau kuantar pulang?" tanya Alza.

"Nggak papa, aku pulang sendiri aja."

"Udah ayo, tenang aja aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kalo tahu alamatmu. Aku anter aja. Aku maksa," balas Alza dengan senyuman kecil dan langsung membawakan pakaian Nao serta handphone-nya.

Setelah berterimakasih dan pamit dengan sang Ayah. Akhirnya Nao diantar sampai ke rumahnya. Lebih tepatnya di apartemen yang tak jauh dari gedung apartemen Ann.

"Oke, makasih banyak, ya," ucap Nao lalu keluar dari mobil Alza sambil membawa barangnya.

"Yoi, besok masuk kerja ke ruanganku dulu, ya."

"Ngapain?" balas Nao curiga. Sekarang ia sedikit enggan dengan Alza jika berkaitan soal pekerjaan kantor, sebab ia sudah tahu posisinya sebagai bawahan.

"Besok juga tau. Sekalian mantau keadaanmu. Ayah udah nyerahin kamu ke aku. Kalau kamu kenapa-napa, entar aku yang digorok sama Reo," balas Alza tersenyum kecil. Setelah perbincangan itu, Alza langsung pergi dari area apartemen.

---

Di tempat lain, mobil Alva berhenti dan terparkir di depan vila keluarga. Ann turun lebih dulu menunggu pria itu di depan vila. Ia datang ke vila ini atas permintaan sang Ayah.

Mau tak mau Ann memenuhi permintaan itu sebagai 'calon' keluarga. Saat mengedarkan pandangan terlihat sang bunda yang sedang menyiram tanaman di samping villa. Ann langsung berinisiatif menyapa sang Bunda terlebih dahulu.

Baru saja ia melangkah masuk ke teras, sang Bunda sudah menyadari kehadirannya.

"Ann Sayang!" panggil sang Bunda langsung meletakkan selang airnya dan berlari ke arah Ann.

Melihat seorang Bunda yang sudah berumur lari membuat Ann panik dan ikut mendekat dengan cepat. Tangan sang Bunda langsung memeluk erat tubuhnya dan terlihat sang Bunda juga menitikkan air mata.

"Ann Sayang. Bunda kangen banget. Bunda bikin kamu nggak nyaman ya, sampai nggak mau jalan sama Bunda. Bunda minta maaf ya, Sayang," ucap sang Bunda sambil terus memeluk dan mengusap surai gelap itu lembut.

Ann yang mendengarnya tentu saja kebingungan. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi di vila sampai sang Bunda berkata seperti ini. Tiba-tiba Xici muncul dari dalam vila.

"Bunda, ajak kakak ipar masuk yok, omeletnya udah siap tuh," ucap Xici langsung diiyakan oleh sang Bunda.

"Ann Sayang, yuk kita makan dulu bareng-bareng. Kalau Ann ada mau sesuatu bilang sama Bunda ya, Sayang."

"I-iya, Bunda," balas Ann bingung, ia menatap Xici bertanya apa yang terjadi dengan bahasa isyarat, tapi sang Bunda sudah menariknya duluan ke dalam vila sebelum Xici bisa menjawab.

Di dalam vila, Ann langsung disuruh duduk di meja makan dan di sana sudah ada sang ayah, Reo, Alza dan Alva yang baru saja masuk. Tak lama Xici datang terburu-buru.

"Kakak Ipar," panggil Xici dengan sedikit berbisik dan Ann langsung menoleh. "Maaf ya, waktu kita sibuk sama Rexer kemaren. Xici bilang ke Bunda kita lagi pergi liburan bareng diajakin sama Kakak Ipar. Xici bilangnya Kakak Ipar malu kalau jalan sama Bunda dan Ayah, jadi heheh... Maaf ya."

I'm not Enigma [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang