🍭A Mouthful of Poison (Mitzu)

329 26 26
                                    

*Tzuyu POV

"Akhirnya aku kembali kesini" gumamku senang.

Saat ini aku berada di dalam Taxi. Aku kembali ke Korea setelah 4 Tahun di Taiwan. Sebenarnya, Taiwan adalah tempat kelahiranku. Namun, aku melanjutkan pendidikanku di Korea semenjak aku duduk di Sekolah Menengah Akhir. Aku benar-benar betah tinggal disini.

Sejujurnya, kala itu aku terpaksa meninggalkan Kota Seoul ini, aku ingin menyembuhkan lukaku. Luka yang digores oleh cinta pertamaku (Minatozaki Sana). Wanita yang teramat aku cintai. Namun, ia tega mengkhianatiku. 3 Tahun lamanya aku menjalin hubungan dengannya, tapi ia menyiramiku dengan seteguk racun yang mematikan. Ia menduakanku dengan Sahabat terbaikku (Kim Dahyun). Aku tidak bisa menerima pengkhianatan darinya, aku kecewa, aku marah bahkan aku tidak bisa memaafkannya.

Setiap hari, setiap bulan, bahkan hampir Setahun aku benar-benar berantakan. Aku menangis siang dan malam, wajah pucat dan tubuh kurus menjadi bukti aku tak berdaya tanpa Sana. Aku tak habis pikir, begitu dalam ia menyakitiku.

Sempat aku mencoba untuk bunuh diri, tapi itu gagal karena Mina ada disisiku. Mina adalah orang pertama yang selalu ada untukku. Ia tak pernah lelah saat aku tak mendengar nasihatnya, ia selalu merawatku dan menjagaku dengan baik. Hingga suatu masa, aku luluh dengannya. Ia menangis tulus didepanku.

"Jika kamu sakit maka aku juga sakit, Tzu" katanya dengan linangan air matanya.

Aku benar-benar ingat dengan jelas saat ia mengatakan itu padaku. Dan itu satu-satunya alasan bahwa aku harus bangkit. Aku tidak ingin menyakiti Mina. Dia adalah Sahabat yang lembut.

Selama Satu Tahun aku berada di Taiwan. Aku sudah merasa lebih baik. Orang tuaku juga selalu mendukungku untuk kembali menjadi Tzuyu yang ia kenal ceria dulu.

Selama di Taiwan juga aku merasa ada kekosongan dalam diriku. Aku merindukan Mina, sangat merindukannya. Aku tidak bisa menghubunginya, karena ia memblokir semua akunku. Aku tidak tahu kenapa? Aku juga tidak tahu bagaimana kabarnya? tapi itu tidak mengurangi kerinduanku padanya.

Hari demi hari, Minggu demi Minggu, lambat laun aku merasa ada yang aneh padaku. Aku merasa kerinduanku pada Mina semakin membuncah. Aku seakan merindukan kekasihku nan jauh dimata. Aku berpikir apakah aku mencintainya? apakah aku jatuh cinta pada Sahabatku? apakah ini benar-benar cinta?

Jujur, ketika aku jatuh cinta pada Sana rasanya hampir sama, tapi membayangkan Mina saja sudah membuatku menggila. Mina benar-benar mengambil alih pikiranku dan mungkin juga hatiku?

Beberapa Tahun berlalu dengan cepat, aku meyakinkan diriku bahwa benar aku mencintainya. Dan sekarang lihatlah, aku kembali ke Korea ini karena aku ingin menemuinya dan mengutarakan perasaanku.

"Myoui Mina aku mencintaimu" kataku dalam hati.



***

"Tuan, kita sudah sampai" kata sang Supir kepadaku.

"Ah, baiklah. Terima kasih, pak" kataku, lalu menyodorkan uang padanya, kemudian turun dari Taxinya.

Kulihat Apartemen Mina sama seperti dulu. Warna campuran abu-abu, putih dan hitam. Aku benar-benar tidak sabar bertemu dengannya.

Aku melangkahkan kakiku mendekati Apartemennya. Aku benar-benar gugup, rasanya jantungku berdetak dengan cepat. Kuhela napasku dengan kasar dan menetralkan detak jantungku agar kembali normal.

Segera kutekan bel Apartemennya.

Ding Dong

Ding Dong

Aku membalikkan badanku, aku benar-benar belum siap bertemu dengan Mina, walaupun sebenarnya aku sangat ingin menemuinya.

Aku mendengar pintunya terbuka. Aku belum membalikkan tubuhku. Aku tidak ingin Mina melihat wajahku yang sudah merah seperti merah tomat. Aku malu.

"Samchon, sedang mencari siapa?" tanya seseorang, yang sudah kutahu itu suara anak kecil.

"Kenapa seperti anak kecil?" kataku dalam hati.

Aku segera membalikan tubuhku. Kulihat benar, ada anak kecil perempuan yang sedang memeluk bonekanya.

"Apakah Mina sudah pindah?" batinku.

Aku segera berjongkok dan tersenyum padanya.

"Halo, apakah benar ini tempat tinggalnya, Myoui Mina?" kataku dengan ramah.

"Ne" katanya.

"Apakah Samchon ingin bertemu dengan Eomma" katanya membuatku kaget.

"Ha?" bingungku

Eomma? maksudnya? Mina adalah Eommanya? atau bagaimana?

"Tzumi, kenapa diluar sayang?" kata seseorang yang sangat kukenal suaranya.

"Mina?" batinku.

Mina menatapku, dia terkejut dengan keberadaanku. Otakku belum bisa memproses semua ini. Aku segera berdiri.

"Tzumi, sekarang mainnya didalam ya, ini tamu Eomma" kata Mina pada anak kecil itu.

"Ne, Eomma" katanya lalu berlalu.

Aku masih berdiam diri. Apa maksud dari semua ini? Eomma? anak kecil?

Aku melihat sepertinya Mina resah dengan kehadiranku. Apakah ia tidak merindukanku? Aku menyisihkan rasa rinduku padanya. Aku ingin ia menjawab pertanyaanku yang sedari tadi menggangguku.

"Anak kecil itu, apakah itu anakmu, Mina-ya?" tanyaku menatap netranya.

"Ne" jawabnya.

Deg!

Sakit? rasanya sakit. Kembali aku merasakan seteguk racun lagi. Ia sudah memiliki anak, tentunya ia sudah pasti menikah kan?

"Terlambat" kataku dalam hati.

Pupus sudah harapanku. Padahal aku ingin menemuinya karena aku ingin mengutarakan perasaanku padanya dan tentunya aku ingin mengajaknya menikah. Nyatanya, cinta tak selalu berpihak padaku.

"Ah, mengapa kau tak memberitahuku Mina jika kau sudah menikah?" kataku berusaha tegar.

"Putrimu sangat cantik" sambungku.

Ia sedikit tersenyum. Aku berusaha menahan tangisku, rasanya benar-benar sesak saat kau tahu bahwa orang yang kau cintai sudah berkeluarga.

"Ah, sepertinya aku harus segera pergi sekarang. Aku ada urusan" kataku, lalu meninggalkan Mina diam seribu bahasa.

Lebih baik diam seperti ini kan? dari pada ia bicara namun menyayat hatiku. Bagaimana jika aku tidak bisa menerima bahwa ia sudah berkeluarga? Sial, mengapa cintaku selalu bertepuk sebelah tangan?

*Tzuyu POV end


******

Bahu lebar sudah tak nampak lagi dalam pandangan Mina. Tzuyu sudah pergi dari Apartemennya. Ia tersenyum kecut.

"Dia adalah putrimu, Tzu" katanya.

Tes

Cairan bening pun  mengalir dipipinya.





ONESHOT (SATZU/MITZU/JITZU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang