Sumbu Bakar (2)

17 4 0
                                    

Gumitir lalu diajak untuk menikmati es durian yang juga tidak jauh dari alun-alun Kota Cirebon. Gumitir menyukai es durian, dia belum pernah mencoba es durian sebelumnya. Es durian itu disajikan di mangkuk dan berisi es serut, susu kental manis, durian, es krim vanila dan ditaburi remah roti— rasanya lembut, manis dan segar. Sangat cocok dengan udara kota yang sedang memanas.

"Kamu tahu tidak, kenapa durian disebut raja buah?" Gumitir tahu Bentala akan bercerita hal konyol lagi, dia bahkan sudah sedikit tertawa sebelum mendengarkan cerita Bentala.

"Suatu hari seorang petani menanam pohon aneh dengan buah yang berduri, sang petani mendapatkan bibit pohon itu dari kawan lamanya. Tahun demi tahun akhirnya pohon itu berbuah juga namun hanya satu dan berwarna kuning keemasan, berduri dan besar sekali— kulitnya pun keras, oleh karena itu sang petani menjuluki buah itu raja buah— karena dia sendirian, gagah dengan durinya, juga karena ukurannya yang besar" ucap Bentala terdengar meyakinkan, seolah itu adalah cerita yang sebenarnya.

"Wah cerita yang bagus" ucap Gumitir datar lalu menyendok es durian, entah cerita karangan Bentala itu sudah lama disiapkan atau sesaat lalu cerita itu dibuat.

"Kamu ga percaya? Nanti aku bawa kamu ke petaninya langsung" ucap Bentala kesal lalu menyendok es durian.

"Iya-iya, aku percaya" Gumitir tertawa melihat sikap Bentala yang terkadang seperti anak kecil, kadang Bentala seperti orang yang sudah tua dengan semua nasehat dan pemikiran bijaknya, kadang Bentala seperti... Bentala.

Mereka lalu berputar-putar Kota Cirebon dengan motor Bentala, mereka mendatangi banyak tempat seperti Gua Sunyaragi, Keraton di Cirebon, juga beberapa kali mampir ke tempat jajanan yang belum pernah Gumitir coba sebelumnya. Malam pun jatuh dengan cepat saat mereka bersenang-senang, mereka memutuskan untuk mampir di pohon yang bercahaya— pohon itu semakin tinggi saja dari yang pernah Bentala lihat terakhir kali. Malam ini pun pengunjung yang datang dari berbagai daerah bahkan luar kota meramaikan pelataran gedung negara. Orang berlalu lalang sembari menikmati jajanan yang mereka beli juga sembari menikmati keindahan pohon yang bercahaya. Cahaya dari daun berbentuk kepingan kerang dara mengeluarkan sinar kuning keemasan yang indah.

Di bawah sinar dari daun pohon bercahaya, Gumitir dan Bentala duduk di bangku taman yang disediakan untuk pengunjung. Gumitir merasa bahagia hari ini, dia jadi lebih dekat dengan Bentala dan memahami Bentala lebih baik. Juga Bentala yang bahagia melihat Gumitir yang sudah keluar dari ruang kegundahan dalam hidupnya, Bentala jadi lebih merasa hangat dan dekat dengan Gumitir. Mungkin karena nama Gumitir pula yang membawa kehangatan bagi dirinya, dia pun merasa diberikan kehangatan oleh Gumitir. Lalu perasaan Bentala kembali berbenturan— perasaan antara dirinya yang menyukai Gumitir, dan perasaan dirinya yang belum siap untuk sakit hati— dia belum siap jika perasaannya lebih kuat dan dalam pada Gumitir lalu di masa entah kapan dia kembali merasakan sakit karena dikhianati. Untuk itu, apa Bentala bunuh saja perasaannya? Mumpung belum terlalu kuat dan terlalu dalam— jika perasaannya begitu kuat dan dalam, ia akan merasakan sakit yang tak bisa ia bayangkan— apalagi jika dia berharap terus bersama di masa depan, dia tidak bisa membayangkan sakit yang akan dia rasakan.

Suasana yang sendu membuat Gumitir terdorong niatnya untuk mengungkapkan perasaannya pada Bentala malam ini. Gumitir ingin memastikan, apa sebenarnya yang Bentala rasakan pada dirinya? Untuk apa sebenarnya selama ini Bentala menemani dirinya? Bentala pun tak mengatakan apa-apa tentang apa yang dia rasakan padanya, hal itu membuat Gumitir jadi gusar karena semakin hari perasaan yang ia pupuk semakin subur— perasaan Gumitir pada Bentala semakin kuat. Gumitir menelan ludahnya, apakah dia harus menyampaikan perasaannya? Tapi, bagaimana jika Bentala tidak merasakan apa yang dia rasakan? Apakah hubungan pertemanan ini akan hancur begitu saja karena dirinya mengatakan apa yang dia rasa selama ini? Gumitir ketakutan kala ia memikirkan dibenci Bentala karena ia menyampaikan perasaannya, Gumitir takut mengakhiri kebersamaan mereka sebagai teman dekat. Tapi jika tidak begitu, Bentala tidak tahu apa yang dirinya rasakan— jika tidak dikatakan sekarang, perasaannya mungkin tak pernah tersampaikan pada Bentala.

"Tala" Gumitir memantapkan hatinya untuk menyampaikan perasaannya, dia tidak ingin perasaannya terus ia pendam— dia memberanikan diri "kita, kita sebenarnya apa sih?" ucap Gumitir memilih kata yang tepat.

"Kita?" Bentala dengan wajah bodohnya yang menggigit batang es krim "maksudnya kita?" Gumitir menganggap kadang cowok di depannya ini terlewat bodoh untuk beberapa hal.

"Ya kita, kita ini apa? Kita bareng ke mana-mana, kita berjalan-jalan— seolah jauh tapi nyatanya kita tidak ke mana-mana. Aku siap jika kita melangkah bersama" Gumitir menatap wajah Bentala yang masih kebingungan.

"Kita?" lalu Bentala sadar apa yang dimaksudkan Gumitir, Bentala tahu jika dirinya akan dihadapkan akan hal ini suatu saat nanti— dia pernah beberapa kali menghadapi ini "aku... aku tidak tahu kita ini apa— aku mungkin hanya belum siap" Bentala mengalihkan pandangannya berusaha menghindari tatapan Gumitir.

"Kamu... kamu belum siap jika kita bersama?" ucap Gumitir ingin mencari kejelasan dari perkataan Bentala.

"Ini soal hatiku yang belum siap menerima kamu, Gumitir" kini Bentala menundukkan matanya merasa bersalah karena dirinya mungkin dianggap mempermainkan perasaan Gumitir— padahal bukan begitu yang dia maksud, dia sendiri rumit untuk menjelaskan "maaf jika kesan ku padamu membuatmu menggantungkan harapan—"

"Kita pulang, aku sudah mengantuk" ucap Gumitir, dia mencoba untuk menahan tangisnya. Dia benar-benar tidak memahami apa yang Bentala sampaikan, jika dia tidak menginginkan mereka bersama, lalu apa sebenarnya sikap yang Gumitir terima selama ini? Sudah, Gumitir tidak ingin memperburuk keadaan. Mungkin memang Bentala tidak siap untuk melangkah bersama dirinya.

Mereka pun pulang dengan rasa kecanggungan satu sama lain. Tidak ada obrolan remeh sepanjang jalan mereka pulang, mereka saling diam. Bentala tidak tahu harus mengatakan apa, begitupun dengan Gumitir— dia bahkan sekarang merasa malu mengatakan perasaannya lebih dulu dan meminta Bentala bersama dengannya. Dia memperlihatkan harapannya untuk bersama dengan Bentala, hal itu yang membuat dirinya merasa malu— dia ingin hilang saja dari bumi karena merasa malu.

Setelah menghantarkan Gumitir, Bentala terbaring lemas di kamarnya dan memikirkan apa yang ia sampaikan malam ini pada Gumitir. Mungkinkah dia menimbulkan harapan besar pada Gumitir untuk bersama dirinya? Pikir Bentala Gumitir akan menganggap dirinya teman semata, sehingga dia bisa memikirkan perasaannya pada Gumitir lebih lama dan menyiapkan hatinya untuk menerima orang baru. Namun Bentala salah sangka, kini dia tahu Gumitir menggantungkan harapannya padanya— dia tidak boleh menyakiti hati orang lain kan? Dia tahu bagaimana rasanya disakiti orang lain. Namun bagaimana dengan kesiapan hatinya? Bentala malam itu jadi tidak bisa tidur, apa Gumitir sekarang membenci dirinya?


p.s. 

Aku juga nulis cerpen di Ig (IG: @andipati17) follow ya :)

Cirebon dan Pohon Balas Dendam (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang