"Belakangan aku jadi susah bernapas" ucap seorang bapak berusia lima puluh tahunan yang telah menghabiskan mangkok bakso dan duduk di pinggir alun-alun Sangkala Buana "aku juga sering merasa pusing akhir-akhir ini. Apa karena usia tua ya?" keluhnya sekali lagi. Dia lalu meminum es teh manis.
"Bapak kurang tidur barangkali" ucap tukang bakso keliling menanggapi keluhan pelanggannya, walaupun keluhan itu tidak berhubungan dengan bakso dagangannya. "Ya faktor usia juga berpengaruh Pak Kasim" nampak sudah kenal lama penjual bakso keliling ini dengan pelanggan paruh baya itu.
"Masa sih Mang?" Pak Kasim mengusap mulutnya dengan tisu yang diberikan penjual bakso keliling yang mungkin lebih muda dari dirinya "aku tidur cukup, anakku Ratna yang selalu bawel tiap aku begadang" ucapnya membayangkan bagaimana anaknya Ratna selalu marah ketika dirinya begadang untuk menonton bola.
"Anak Bapak masih jadi peneliti di gedung negara itu pak?" tukang bakso keliling itu ingat jika Pak Kasim pernah bercerita mempunyai anak seorang peneliti yang sekarang meneliti di gedung negara.
"Masih Mang, sekarang saja dia lagi repot. Ya bagaimana tidak repot, tiba-tiba muncul pohon di tempat-tempat yang berjauhan. Itu juga" Pak Kasim menunjuk pohon di tengah alun-alun dengan beton yang berhamburan namun sudah sedikit lebih rapi karena sebelumnya dibereskan petugas lingkungan kota "anak saya sering mondar-mandir ke tempat-tempat tumbuhnya pohon bercahaya" jelasnya.
"Sudah konsultasi ke dokter belum Pak? Mungkin bisa saja penyakit lain yang Bapak belum tahu" tukang bakso keliling itu menengok karena mendengar ada yang memanggilnya, begitu dia melihat angka telunjuk diacungkan ke atas dari orang yang memanggilnya dia langsung paham dan segera membuat pesanan.
"Entahlah Mang, aku takut jarum suntik" wajah Pak Kasim terlihat linu mengingat jarum suntik, sedangkan tukang bakso langganannya hanya tertawa mendengarnya. "Aku pulang dulu lah Mang, jadi berapa tadi?" begitu Pak Kasim bangkit dari duduknya tiba-tiba kepalanya diserang pusing yang hebat lalu dia jatuh pingsan.
***
Begitu Ratna mendapatkan telepon dari rumah sakit, Ratna segera meminta izin Dr. Philips untuk menemui ayahnya yang tiba-tiba pingsan di alun-alun. Ratna menggenggam tangan ayahnya yang tak sadarkan diri dan terbaring di ranjang rawat rumah sakit. Ratna sempat menangis karena panik namun dokter yang merawat ayahnya segera menenangkan dirinya. Ayahnya sering keluar untuk melihat-lihat suasana kota hanya dengan bermotor saat tidak mengajar sebagai dosen hukum di salah satu universitas di Cirebon. Yang Ratna tahu, ayahnya sering berada di alun-alun Sangkala entah itu bersama temannya atau sendirian untuk sekadar menikmati suasana alun-alun. Ratna tidak melarang ayahnya untuk berpergian, Ratna pun paham sesekali ayahnya membutuhkan udara segar dan mengobrol dengan teman-temannya. Sejak ibunya tidak ada, Ratna dibesarkan oleh ayahnya seorang diri. Jadi Ratna dengan ayahnya lebih dekat, Ratna sering berkeluh kesah mengenai kehidupan di sekolah maupun di perkuliahan pada ayahnya.
Ratna melihat mata ayahnya perlahan terbuka dan menyadari dirinya berada di rumah sakit, Ratna merasa lega ayahnya lekas sadar. Ayahnya mencoba untuk duduk namun Ratna mencegahnya. Ayahnya terlihat begitu kebingungan, lalu Ratna menjelaskan jika ayahnya tiba-tiba pingsan di alun-alun siang itu.
"Ayah tidak ingat?"
"Ayah ingat sedikit, ayah habis makan bakso di alun-alun"
"Apa yang ayah rasakan?" Ratna menggenggam tangan ayahnya.
"Entahlah— eh, kamu kok di sini?" sadar Ratna pasti izin untuk menemani dirinya dan meninggalkan penelitiannya di gedung negara, Pak Kasim jadi khawatir.
"Aku sudah izin kok, Dr. Philips mengizinkan dan titip salam semoga ayah lekas membaik"
"Begitu ya? Entahlah, ayah merasa pusing waktu itu— terus ayah pingsan" Pak Kasim menjelaskan apa yang dia rasakan sebisanya. "Kamu mungkin harus segera kembali ke gedung negara, ayah kan bisa sama suster" Ratna hanya diam saja, tidak menanggapi.
Dari yang Ratna dengar dari dokter yang memeriksa ayahnya, ayahnya telah menghirup terlalu banyak karbon dioksida ataupun udara yang kotor. Di dalam tubuhnya tidak cukup oksigen sehingga terus merasakan pusing dan puncaknya adalah saat ia pingsan karena tidak cukup mendapatkan oksigen. Dan setelah diperiksa, terdapat banyak karbondioksida dan udara kotor yang hinggap di paru-paru Pak Kasim. Dokter mengatakan Pak Kasim untuk berhenti merokok, Ratna merasa aneh— justru ayahnya tidak merokok sama sekali.
Kasus Pak Kasim yang tiba-tiba pingsan di tempat umum menjadi awal dari gelombang orang-orang pingsan di tempat umum di Kota Cirebon. Ada yang pingsan saat mengajar, ada yang pingsan saat makan bahkan ada yang pingsan saat mengendarai kendaraan sehingga terjadi banyak kecelakaan di Cirebon. Pemerintahan Kota Cirebon menghimbau warga kota untuk menjaga kesehatan dan minum vitamin, tenaga kesehatan mulai kewalahan mencari sebab terjadinya fenomena orang pingsan kekurangan oksigen di dalam tubuhnya juga kewalahan karena banyaknya korban yang berjatuhan. Namun korban terus berjatuhan dan tidak hanya pingsan di tempat umum, bahkan ada yang tiba-tiba meninggal di tempat umum. Ini mengingatkan akan pandemic Covid-19 beberapa tahun lalu. Jalanan mulai sepi karena orang-orang takut untuk keluar rumah. Dr. Philips menerima laporan bahwa korban orang pingsan ini berjatuhan paling banyak di area tempat pohon bercahaya tumbuh dan sekitarnya, data menunjukan bahkan sampai delapan puluh persen orang-orang jatuh pingsan di sekitar tempat pohon bercahaya tumbuh. Dr. Philips menyadari jika kelima pohon bercahaya mulai menghisap oksigen dan membuang karbondioksida saat mereka fotosintesis. Dan tidak dalam kadar yang sedikit, kadar oksigen yang mereka serap begitu tinggi dan kadar karbondioksida yang mereka keluarkan sama tingginya. Hal ini merusak kesehatan pernapasan orang-orang sehingga mereka pingsan karena kekurangan oksigen. Kelima tempat itu semakin sepi kala warga kota mendengar kabar tersebut, bahkan sempat terjadi kepanikan di mana-mana.
Setelah kabar buruk tersebut, keadaan Kota Cirebon semakin buruk dengan banyak tanaman yang layu mati, bahkan di sekitar tempat pohon bercahaya tumbuh sudah layaknya tanah yang kering bertahun-tahun sampai tidak ditumbuhi rumput. Unsur hara tanah pun jadi terasa berpasir dan tidak solid. Tidak hanya itu, sekarang jadi lebih sering burung jatuh dan mati saat terbang. Banyak orang mulai mengungsi pindah ke kota lain karena keadaan Kota Cirebon yang semakin memburuk. Jalanan kota semakin sepi saja. Toko-toko di Cirebon mulai tutup dan mulai ditinggalkan.
p.s.
Aku juga nulis cerpen di Ig (IG: @andipati17) follow ya :)

KAMU SEDANG MEMBACA
Cirebon dan Pohon Balas Dendam (TAMAT)
RomanceSUDAH TAMAT Satu hari di Kota Cirebon, tumbuh pohon misterius yang dapat tumbuh tinggi sampai mencakar langit dan kala malam dedaunan pohon menyemburkan cahaya kuning yang indah dan menenangkan. Di sisi lain, Gumitir adalah gadis yang selalu dirun...