Ancala terbangun kala wajahnya ditimpa kaki anaknya, Rian. Yang punya kaki tidak merasa bersalah, masih lelap tertidur dengan mulut yang terbuka dan memeluk boneka gajah pemberian Bentala. Pelan Ancala menyingkirkan kaki anaknya dari wajahnya, dan mulai bangkit dari kasur. Aroma bawang goreng menusuk lobang hidung Ancala. Mungkin Indah sudah masak, semenjak perintah pengungsian yang diberlakukan pemerintah Kota Cirebon— Ancala harus memutar otaknya dan memikirkan kemungkinan terburuk karena bisnis kafe yang sudah ia bangun lama. Ia bisa memulai bisnis kafe di Indramayu dengan nama yang sama, Kafe Kusuma sudah memiliki nama yang bagus dan mungkin dia tidak akan kesusahan untuk membuka kafe di tempat baru. Namun yang jadi masalah tentu biaya operasional yang tidak sedikit, dia tidak mungkin mengusik tabungan pendidikan anaknya, ataupun dana pensiunnya.
Ancala berjalan setengah tidur menghampiri kamar mandi, melewati gudang dan mendapati Bentala tengah mencari sesuatu— jika diingat-ingat dari kemarin Bentala selalu terlihat sedang mencari sesuatu dan saat ditanya "mencari apa, Tala?" akan dijawab Bentala dengan kekagetan dan jawaban yang mencurigakan.
"Ti— tidak mencari apa-apa" lalu pergi begitu saja. Ancala merasakan adiknya bertindak aneh, namun dia tidak ada waktu untuk mencurigai adiknya yang bukan-bukan— ia sudah sampai di ujung dan segera memasuki kamar mandi.
Ibu mertuanya bersama istrinya tengah ke pasar begitu selesai masak untuk sarapan, sementara ayah mertuanya duduk di teras menikmati pagi dengan perut kenyang dan segelas kopi di dekatnya. Ancala, Bentala dan Rian duduk di meja makan hendak sarapan bersama. Rian sudah pandai makan dengan sendok, sekarang pun ia tengah menyendok nasi goreng sambil memperhatikan boneka gajah di depannya. Mungkin Ancala harus memperingatkan Rian akan obsesi anaknya terhadap gajah. Tapi itu bisa lain waktu, sekarang ialah ia harus tahu apa yang sedang dipikirkan Bentala— sudah lima menit sejak Bentala mengambil sepiring nasi goreng dan bergabung di meja makan, sama sekali nasi goreng itu tak disentuh adiknya. Jika tidak ada sesuatu, adiknya tidak akan seperti ini. Ini berbeda dengan Bentala yang kehilangan Gumitir beberapa saat lalu, ini sesuatu yang berbeda— Ancala merasa yakin.
"Tala, Tala— TALA!" Bentala terkejut dirinya dibentak kakaknya, mendecakkan bibirnya lalu mulai menyendok nasi goreng miliknya "kenapa?" tanya Ancala, sudah pasti ada yang dipikirkan oleh adiknya.
"Tidak ada apa-apa" Bentala lalu dalam kebisuan makan dan dengan cepat menghabiskan sepiring nasi goreng.
Ancala berpikir mungkin Bentala merasa kesepian karena Gumitir yang tiba-tiba menghilang juga karena situasi Kota Cirebon yang mengkhawatirkan. Mungkin adiknya merasa kesepian dan ingin bertemu orang selain dirinya, mertuanya dan keluarganya. Bentala memang sudah tidak lagi berhubungan dengan dunia luar semenjak kepindahannya ke Indramayu dua minggu terakhir. Ancala pun terpikirkan satu ide, dia bisa mengumpulkan Ranting-ranting Kusuma di halaman rumah mertuanya— agar setidaknya Bentala dapat berinteraksi dengan rekan-rekannya di kafe. Ancala langsung menyambar handphone, mengabaikan Bentala yang tengah bermain boneka gajah dengan Rian dan langsung menghubungi satu per satu Ranting Kusuma. Setelah itu Ancala menghubungi Indah untuk membeli bahan makanan yang akan digunakan dalam acara kumpul-kumpul nanti malam, BBQ-an tidak pernah gagal dalam meningkatkan kedekatan antar sesama. Mungkin saja Bentala sedikit melupakan bebannya sehingga lebih terasa ringan bagi adiknya. Ini kali kedua Ancala melihat Bentala begitu gusar karena perempuan. Tidak tega Ancala melihatnya.
Bentala mencari jas hujan di gudang rumah Pak Amin, mencari beberapa masker dan mencari sepatu boot yang biasa digunakan Pak Amin untuk melihat-lihat keadaan kolam empang ikan lele kala musim hujan juga tak lupa ia membawa kacamata renang yang ia temukan di gudang dan sudah ia bersihkan. Bentala juga sudah menyiapkan tas punggung yang cukup besar sehingga dirinya bisa membawa barang-barang yang ia perlukan untuk menembus masuk Kota Cirebon dengan udara yang beracun. Bentala hendak pergi di jam malam, saat semua orang di rumah ini masuk ke ruangan masing-masing pada pukul 00:00 ia akan melancarkan aksinya— aksi nekatnya.
***
Herlambang pusing dengan ibunya yang setiap hari mengomel, segalanya ia jadikan omelan— gaji barista dirinya yang tak seberapa, dirinya yang tak kunjung menikah, dirinya yang bangun siang, dirinya yang menyisakan makan, dirinya yang kebanyakan makan, dirinya yang selalu di rumah, dirinya yang selalu keluar rumah, dan sesekali dirinya yang masih bernapas. Herlambang lebih nyaman jika dirinya kerja di kafe dan seharian dia menghilang dari pandangan ibunya. Herlambang pun suntuk seminggu ini, dia selalu di rumah— keluar hanya ngopi di tempat tongkrongan dekat rumahnya untuk memainkan game sampai pagi bersama teman-temannya dan bangun kesiangan berujung dengan menghadapi omelan ibunya.
Herlambang menyiram tanaman (dipaksa ibunya), menyapa beberapa orang yang lewat di jalanan depan rumahnya siang itu. Dirinya masih mengantuk, semalaman dia main game— entah sudah berapa gelas kopi yang dia habiskan bersama teman-temannya. Dia sendiri tidak perlu mengungsi saat himbauan pemerintah Kota Cirebon mengarahkan untuk mengungsi, Herlambang tinggal di Indramayu— hanya berbeda desa dengan Indah, masih dalam satu kecamatan. Tiba-tiba panggilan masuk dari Ancala.
"Halo, Bang? Ah, sore ini? Asyikkkk siaplah Bang, sudah tentu" setidaknya sore ini dia habiskan dengan tidak diomeli oleh ibunya, mungkin dirinya akan pulang malam— atau menginap saja seperti waktu itu? Ancala memang sering mengundang Ranting Kusuma untuk makan-makan, kadang di tempat makan yang murah, lumayan mewah atau sekadar kumpul di rumah mertua Ancala untuk membahas kafe, merayakan pencapaian dan banyak lagi acara makan-makan yang pernah mereka lakukan bersama.
p.s.
Aku juga nulis cerpen di Ig (IG: @andipati17) follow ya :)

KAMU SEDANG MEMBACA
Cirebon dan Pohon Balas Dendam (TAMAT)
Storie d'amoreSUDAH TAMAT Satu hari di Kota Cirebon, tumbuh pohon misterius yang dapat tumbuh tinggi sampai mencakar langit dan kala malam dedaunan pohon menyemburkan cahaya kuning yang indah dan menenangkan. Di sisi lain, Gumitir adalah gadis yang selalu dirun...