Supporter

195 16 6
                                    

Sorak-sorai terdengar semakin keras kala salah seorang pemain berhasil memasukkan bola ke dalam ring dan menambahkan skor untuk tim nya. Ricuh suasana oleh gemuruh sorak penonton yang berpadu dengan suara sepatu berdecit di atas lantai kayu. Teriakan pelatih dari pinggir lapangan membakar semangat para pemain. Suara dari para komentator juga turut meramaikan suasana.

"Argh! Dray mencetak angka lagi!" teriak seorang pemuda berkacamata bulat dari arah tribun penonton. Ia berseru heboh dan jingkrak-jingkrak guna menyemangati pemuda berambut pirang di tengah lapangan.

"Ayo sayang! Cetak angka yang banyak untuk sekolah kita, dan kalahkan mereka semua!" teriaknya lagi, hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Pendukung tim lawan sampai melirik heran, mereka hanya khawatir jika pemuda manis itu akan kehilangan suaranya.

Pemuda manis itu bernama Harry, salah seorang siswa dari Hogwarts High School, yaitu sekolah yang saat ini sedang bertanding, dan tim sekolahnya diwakili oleh seseorang yang sejak tadi namanya Harry sebut-sebut, yaitu Draco.

Draco dan tim nya mewakili sekolah di ajang kejuaraan basket yang diikuti oleh banyak sekolah lain dari berbagai kota, dan saat ini mereka sudah berada di babak penyisihan Semifinal melawan sekolah dari kota lain, yaitu Durmstrang.

Tiada henti dan lelah bagi Harry menyemangati pujaan hatinya. Pujaan hati? Iya, Harry sudah lama menyukai pemuda tampan itu. Namun, sayangnya dan menyedihkannya, cintanya tak terbalaskan.

Jika Draco sangat kompetitif dalam hal olahraga basket, maka Harry sangat kompetitif dengan perasaannya, walaupun sudah ditolak berpuluh-puluh kali, namun tiada henti baginya berusaha mengejar hati putra tunggal keluarga Malfoy tersebut.

Satu Hogwarts pun tau mengenai perasaan Harry pada Draco. Ya, jangan heran bagaimana mereka bisa mengetahuinya, jikalau kelakuan Harry saja sangat di luar perkiraan.

Seperti saat Harry masih berada diawal tahun sekolahnya, Harry pernah berteriak dari atas gedung sekolah dan menyatakan perasaannya pada Draco, yang kala itu sedang sibuk berlatih basket di lapangan outdoor.

Atau seperti di tahun keduanya, Harry kembali melakukan aksi gila, yaitu membawa spanduk besar dan memasangnya di depan gerbang sekolah. Spanduk itu berisikan ungkapan betapa cintanya ia pada Draco, dan rasa syukurnya sebab pemuda tampan itu telah lahir ke dunia.

Atau-atau, seperti bulan lalu, ketika Harry mengukir nama Draco disertai emoji hati menggunakan cat semprot di lapangan tempat dimana Draco biasa menghabiskan sebagian waktunya di sekolah, dan hal itu jugalah yang membuat Harry harus di skors selama tiga hari karena dianggap telah merusak properti sekolah.

Cinta dalam diam? Cih, itu bukan Harry sekali. Menurutnya hanya orang-orang payah sajalah yang melakukannya, dan prinsip hidup Harry itu adalah, 'Cintailah orang yang kau cintai sampai seluruh semesta ini mengetahuinya! Jangan pernah malu untuk menyatakannya pada dunia betapa kau mengaguminya!'

Menyerah? Itu juga tidak ada dalam kamus hidup Harry. 'Ditolak? Ungkapkan cinta lagi! Di hiraukan? Katakan cinta lagi! Di acuhkan? Nyatakan lagi sampai bibir ini tak mampu lagi berkata cinta!'

Tapi, apakah semua usaha yang Harry lakukan untuk Draco membuahkan hasil? Oh, tentu saja tidak. Bukannya tersentuh dengan kegigihan serta keteguhan hati si manis, Draco malah merasa malu dan risih dengan semua kelakuannya.

Contohnya seperti saat ini, Draco hanya bisa menghela nafas panjang ketika netra nya tak sengaja melirik Harry yang berdiri di tengah tribun penonton. Pemuda manis itu berseru sembari mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang memegang poster bertuliskan, 'Semangat bertanding Dray-ku sayang!' Oh, dan jangan lupakan bagaimana poster itu juga dilengkapi foto Draco yang sedang menggiring bola karet berwarna jingga.

Random Story (Drarry)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang