12. (warning 18+) please skip

479 19 0
                                    


Bali, Indonesia. Setahun kemudian.

Setahun kemudian, akhirnya bisa juga mereka mendapat tujuh hari cuti yang sudah mereka ajukan sejak setahun sebelumnya. Dengan alasan berlibur, keduanya mendapat kesempatan untuk memperbaiki momen mereka dan menjalin hubungan tanpa takut diganggu. Sebelumnya, sejak enam bulan lalu, mereka sudah menyiapkan identitas palsu, yang segala sesuatunya diurus oleh kuasa hukum mereka agar tetap resmi terdaftar dan aman, dengan alasan mau mencoba merasakan berlibur ala backpacker. Dan tanpa riasan wajah atau pakaian mahal, keduanya berhasil menjalani liburan yang tenang dengan identitas palsu mereka.

Mereka benar-benar berlibur, berfoto di sana-sini, mengirimi semua foto itu ke manajer dan teman-teman mereka, dan mengatakan bahwa mereka gembira.

Bagaimana tidak? Mereka pada akhirnya menikmati momen-momen berdua saja sepuasnya.

Ada waktu dimana keduanya hanya bermalas-malasan di kamar hotel mereka yang bernuansa ukiran kayu dan batik. Hokuto bangun di pagi harinya, mendapati orang yang dicintainya masih terlelap disampingnya dan menyadari bahwa mereka berdua dalam keadaan tanpa pakaian sehelai benang pun, terbungkus bed cover, dan tentunya masih ada rasa tak nyaman di area belakang dan paha dalamnya tetapi juga semacam kepuasan yang mengaliri sekujur tubuh si pirang itu.

Dia yakin kekasihnya itu merasakan hal yang sama.

Dia mengawasi kekasihnya yang masih terlelap, melihat betapa damainya ekspresinya, lalu perlahan dia mencium keningnya dengan lembut, tak ingin membangunkannya.

Tetapi Kazuma membuka mata. Dan yang pertama dilihat oleh si pemuda berambut hitam itu adalah wajah kekasihnya, membuat seulas senyum tersungging di bibirnya. Tangannya segera terulur ke belakang kepala kekasihnya yang berambut pirang dan memaksanya menciumnya.

Hokuto tertawa tapi tak menolak ketika tangan Kazuma di belakang kepalanya memaksa wajahnya mendekat pada wajah kekasihnya itu sampai bibir mereka bertemu kembali.

Bahkan sampai terasa agak kebas di bibir mereka berdua, saking terlalu banyak berciuman semalam, sehingga mereka segera melepaskan ciuman mereka.

Sambil tertawa Hokuto memundurkan kepalanya.

"Kau bahagia?" Tanya Kazuma dengan rasa senang, melihat kekasihnya tampak berbinar-binar ceria sekaligus tampak penuh cinta.

"Tentu saja." Balas Hokuto, "Bagaimana denganmu?"

"Senang dan puas." Jawab yang ditanya. Lalu dia bergerak hendak bangun ke posisi duduk, tetapi kekasihnya menindihnya.

"Masih malam." Bisik Hokuto sambil membelai rambut sang kekasih.

Kazuma tahu bahwa sebenarnya pasti sudah siang, tapi karena gorden belum dibuka dan lampu kamar belum dinyalakan jadi rasanya seperti masih malam. Di samping itu, pasti Hokuto belum mau dia bangun.

Maka Kazuma menurut, mengangguk, dan membelai belakang kepala kekasihnya, membiarkan tubuh yang lebih mungil darinya itu menindihnya. Sesuatu yang hangat menyentuh kejantanannya sendiri yang sedang tertidur.

Hokuto mencium kening Kazuma, lalu bergerak ke pipi, dan ke telinganya. Kazuma mendengar si pirang melepaskan desahan manja sebelum si pirang itu menciumi pipinya dan memainkan lidahnya untuk menggelitiknya.

Kemudian semakin turun ke rahangnya, bagian samping. Bibir kecil indah milik Hokuto menciumi rahangnya dengan mesra, kemudian dagunya, dan turun ke lehernya.

Dirasakannya kejantanan milik pemuda yang lebih mungil darinya mulai bangun. Maka dia menyelipkan tangannya untuk menyentuh bagian privat itu, membelai dan memegang milik kekasihnya dengan cukup kuat tapi tanpa bermaksud menyakiti, memancing desahan manja dari mulut si pirang lagi.

AlwaysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang