09

2.1K 198 4
                                    




Jingga makin menggelap, Renjun sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya hari ini. Berkas-berkas dan dokumen di meja kerjanya sudah tersusun rapi, siap ditinggal pulang ke rumah. Namun niatnya yang ingin segera pulang harus sirna, saat melihat sosok Jeno berdiri menunggunya di depan ruang kerja.

Setelah mengumpulkan keberaniannya, Renjun putuskan keluar dari dalam ruang kerjanya yang langsung disambut dengan tubuh tegap Jeno yang berada tepat di depan pintu.

Mata keduanya sempat beradu, Renjun lebih dulu berkata, "Aku pulang bersama, Doyoung hyung."

"Benarkah?"

"Perlu aku telepon?" balas Renjun cepat.

Jeno menyeringai, "Telepon saja. Dia tidak akan menjemputmu."

Dahi Renjun mengernyit menatap Jeno. Tadi siang, kakaknya itu sudah berjanji akan menjemputnya sepulang kerja. Dan hari ini Renjun memang tidak membawa mobilnya ke kantor, sebab ia pergi ke kantor diantar oleh Doyoung.

"Halo," sapa Renjun ketika panggilannya tersambung.

"Ya, ada apa?"

"Jadi menjemputku kan?"

Doyoung menghela nafas dari seberang sana, "Tidak bisa, tiba-tiba ada klien yang ingin bertemu."

"Tiba-tiba sekali?" tanyanya heran, "Jadi bagaimana?"

"Pulang sendiri atau aku pesankan taksi? Maaf, ya."

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Renjun menghela nafasnya kasar kemudian memutuskan panggilan itu. Dilihatnya Jeno yang kini menyeringai sambil menatapnya. "Aku pulang sendiri." Renjun berjalan lebih dulu melewati pria itu, namun Jeno dengan sigap mencengkram pergelangan tangannya.

Renjun meringis merasakan pergelangan tangannya yang dicengkram kuat, "Sakit.. lepaskan." Renjun menarik tangannya berusaha lepas dari cengkraman itu. Jeno lalu menghempaskan tangannya kasar. "Menurut saja denganku," titahnya.

Pergelangan tangannya kini memerah, Renjun menggigit bibir bawahnya merasakan perih. Kasar, salah satu dari banyaknya sifat buruk milik pria itu yang ia benci.

"Ikut aku ke parkiran." Jeno berjalan lebih dulu menuju lift yang berada di lantai ini, menekan tombol akses lift ke area parkir yang berada di basement.

Renjun mencoba untuk menurut kali ini, sebab ada satu hal yang selama ini ia takutkan pada pria itu. Matanya masih menatap awas Jeno yang melangkah lebih dulu di depannya.

Renjun ingin segera pulang, tapi tidak dengan berakhir bersama Jeno di dalam mobil milik pria itu. Seperti saat ini, musik diputar keras di dalam mobil membuat Renjun merasa sedikit terganggu. "Bisa kecilkan saja?" ucapnya. Renjun mengusap lengannya pelan, merasa tidak nyaman.

"Baiklah."

Setelahnya hening, tak ada yang berbicara di dalam mobil. Renjun juga sama sekali tak berniat untuk berbicara dengan Jeno. Ia memilih untuk bungkam sepanjang perjalanan menuju rumahnya.

"Kau mau tahu sesuatu?"

Renjun hanya berdeham sebagai respon.

"Kemarin aku bertemu dengan Jaehyun," ucapnya mengawali pembicaraan.

Renjun menoleh pelan tanpa menjawab. Keringat dingin mengalir melewati pelipisnya begitu nama seseorang yang membuat hatinya berdebar disebut.

Between Us | JaeRen✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang