Sasuke mengamati Mikoto yang masih menikmati sarapannya. Sang Ibu sudah mulai bisa sarapan tanpa diganggu rasa mual. Dia bersyukur untuk itu.Merasa diperhatikan, Mikoto memandang wajahnya dan tersenyum,"Kau tidak sarapan, Nak?"
Sasuke menggeleng,"Nanti saja. Saya belum begitu lapar." Pria itu menuangkan air dalam cangkir lalu mengulurkannya pada Mikoto.
"Terima kasih," Mikoto menerima cangkir itu lalu meminumnya. Sarapannya sudah habis. Dia meletakkan cangkir dan mangkok di lantai lalu mengelus-elus perutnya,"Hah! Ibu kenyang sekarang. Nak... tumbuh sehat ya... kau harus membalas budi kakakmu yang telah memasak." Mikoto berkomunikasi dengan janinnya.
Sasuke tersenyum. "Waktunya berbersih, Bu."
"Oh.. ya."
Mikoto mulai mencopot obi yang melilit pinggangnya. Seketika kimono bagian luarnya meregang. Sasuke membantunya mencopotnya lalu melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di lantai sementara dia mencopot kimono putih tipis dalemannya sehingga tampak tubuhnya yang tambun karena kehamilan.
Sasuke melihat itu dan merasa trenyuh. Tampak kelelahan di tubuh Mikoto. Apalagi sisa percintaannya dengan Minato semalam masih membekas. Dalam hati Sasuke mengutuk sang Ayah yang menyebabkan keluarganya bisa bernasib seperti ini, menjadi budak pangeran permaisuri.
"Sasuke, putraku. Ibu sudah kedinginan."
"Oh, maaf."
Menyadari lamunannya, Sasuke mengambil handuk yang sudah terendam dalam air hangat, meremasnya sehingga memiliki kelembaban yang pas lalu menyeka punggung Mikoto dengan handuk itu.
"Kenapa? Kau seperti tidak pernah menyibini ibu saja."
"Saya belum pernah menyibini ibu saat hamil."
Mikoto tersenyum. Dia memejamkan mata dan berkata,"Ya, tentu saja. Ini pertama kali kau melihat Ibu hamil. Kau akan jadi kakak. Apakah kau bahagia?"
"Ya, Bu. Saya bahagia."
"Syukurlah. Ibu senang mendengarnya." Mikoto membaringkan diri. Sasuke merentangkan tangan Mikoto lalu mengusapnya dengan lap basah.
"Ibu selalu mengira-ira akan seperti apa ciri fisik adikmu ini. Akankah mirip ibu atau mirip ayahnya. Ayahnya berdoa semoga dia mirip ibu tapi ibu berdoa semoga mirip pangeran permaisuri."
Sasuke menyelupkan handuk ke air lalu memerasnya lagi. "Jika dia mirip pangeran permaisuri, bukankah itu malah bahaya bagi kita?" Sasuke menyeka sepanjang paha dan kaki Mikoto.
"Ibu justru ingin dunia melihat bahwa kami berhubungan."
"Sebenarnya, itu hal yang konyol jika ibu melakukannya. Kita adalah penjahat di negara ini, hidup dalam perlindungan pangeran permaisuri dan putra mahkota. Sudah seharusnya kita hidup tanpa menonjolkan diri."
"Kami saling mencintai. Apa salahnya menunjukkan hal itu pada semuanya."
"Ibu, jangan berpikiran terlalu banyak. Untuk menemuimu saja, pangeran permaisuri harus mencuri-curi waktu. Apakah mungkin dia mencintai ibu sebesar Ibu mencintainya?"
"Kenapa kau membuat Ibu sedih? Kenapa tidak membesarkan hati Ibu?"
"Karena itu kenyataannya, Bu."
Mikoto meneteskan air matanya. Sasuke tahu itu. Dia menggenggam tangan Mikoto lalu menyeka air matanya. "Jangan menangis, Bu. Kasihan adikku." Sasuke bahkan mengelus perut Mikoto. Janin merespon dengan memberikan tendangan. Sasuke tahu itu dan berkata,"Adikku sepertinya setuju. Dia juga tidak suka jika ibu menangis."
Tangisan Mikoto akhirnya berubah menjadi tawa haru. Dia menangkup tangan Sasuke yang ada di atas perutnya. Kulit perutnya berkedut lagi, tanggapan dari sang Janin.

KAMU SEDANG MEMBACA
Desire Of Kingdom
FanfictionTak ada yang tahu sampai di mana desiran hati itu berakhir