Datang dan Pergi

33 10 2
                                    

Pijar pertengahan bulan September redup akibat fenomena equinox

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pijar pertengahan bulan September redup akibat fenomena equinox. Cuaca ekstrem berkat matahari yang melintasi garis khatulistiwa pada bagian utara ibu kota Kulipa membuat provinsi Itya menjadi susah. Sudah dua bulan cuaca tidak menentu, pasokan ikan untuk seluruh negeri menipis, menyebabkan kelangkaan ikan lokal.

Pemerintah mengekspor ikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lewat jalur lain. Nelayan sibuk menurunkan muatan pada kontainer dari dalam kapal yang malam tadi datang melalui pemberhentian luar dermaga.

“Malam tadi ada badai lagi, syukurlah tidak ada yang melaut semalam,” Ken menyeka keringat dengan lengannya sendiri, semua orang melakukan kesibukan yang sama. Selama tidak berlayar, otomatis Ken harus membantu resto keluarganya mendapat jatah ikan langsung dari kapal.

Terkecuali masyarakat Leguwa, semua ikan akan dimuat pada satu peti penuh es dan disortir berdasarkan surat kelayakan pangan oleh pihak penjual, kemudian baru akan dikirim ke seluruh penjuru negeri yang berpusat di ibu kota Kulipa.

“Kudengar ada perahu nelayan rusak di pesisir pantai, orang gila mana yang nekat melaut pada cuaca begini?” ucap Per setelah menumpuk tiga peti secara vertikal.

“Nah, ini milik keluargamu, Ken. Sudah kuperiksa, ikannya lengkap dan segar, seperti biasa pembayarannya lakukan di muka, ya?”
Laki-laki itu menghela napas, beberapa pekan ini, ada banyak nelayan yang tidak pulang. Harga ikan persis melonjak tinggi untuk kalangan bawah, nelayan yang tidak mampu mempertahankan usahanya menjadi bangkrut, jangankan untuk menjual ikan, memenuhi kebutuhan sendiri pun sekarang sulit. Beruntung Ken masih memiliki usaha keluarganya.

“Aku akan membawanya ke bagian pembayaran, terima kasih Per, aku pergi dulu.” Per mengangguk, kulitnya menjadi sawo matang sebab tersengat matahari terlalu sering, tetapi wajah pria itu cerah, sudah lima tahun dia menjadi pegawai di dermaga, sejak saat itu Per bahkan bisa menilai ikan segar hanya dari melihat kepalanya saja.

Ken mendorong troli di selasar menuju kantor pembayaran khusus masyarakat lokal, sedang loket untuk pelancong dari luar kota dipisah dengan sekat kaca. Di antara antrean yang sudah panjang, Ken mendapati Lui yang juga sedang menunggu giliran.

“Hei,” Lui menyapa Ken lebih dulu, mata gerhananya berbinar, sedang lelaki itu tersenyum, Lui mencondongkan wajahnya untuk mendapat ciuman.

“Apa aku bau keringat?”

“Tidak, keringatmu harum,” jawab Lui lugas tetapi sambil menutup hidung.
“Konyol seperti biasanya, Kau hanya membawa ikan teri, kan?” Ken menjawabnya dengan mencubit sisi perut Lui dengan gemas. Mereka baru menikah tiga bulan yang lalu, dan Lui sekarang sedang mengandung anak mereka.
Perempuan itu mengangguk, meski dilarang bekerja, Lui tidak mau mati bosan di rumah, akhirnya Ken mengizinkan Lui pergi dengan beberapa syarat.

“Lui, kau dengar ada perahu di pesisir pantai?”

“Ya, semua orang sedang membicarakannya, katanya seorang anak laki-laki,” terang Lui tenang. “Kudengar dia lusuh seperti gelandangan, tidak ada yang tahu dari mana dia berasal, sudah pasti dia bukan dari desa kita, sekarang dia sedang ada di kantor pengawas dermaga, dia pingsan dan belum sadar.”

Tora : The Thief & The Lost PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang