Berbeda, Katanya
Perkenalkan, aku adalah orang yang selalu di tinggal dari kecil. My Mom and My Dad are workaholic. Yap, aku adalah anak kecil yang selalu di titipkan dimana pun itu, entah itu di Nenek ku, Tante ku, Pengasuh ku, atau siapapun itu. Bahkan, aku pernah dititipkan di tempat penitipan anak.
Waktu ibu ku mengandung almarhumah adik ku, aku di urus oleh Nenek. Buatku, hal itu tidak menjadi masalah, karena mengandung sambil mengurus anak dan bekerja itu sangat melelahkan.
Sampai pada akhirnya aku pindah Ke Jakarta. I dont even remember that momen. Aku pindah ke Jakarta disaat Ibu lagi mengandung adik ku yang ketiga. Lagi dan Lagi, aku selalu sendiri. Apalagi menjelang kelahiran adik ku.
Saat adik ku lahir, aku diminta untuk menginjak sebuah baskom yang berisi seperti air berwarna merah pekat seperti darah. Hal itu sangat menakutkan.
Back to my Mom and My Dad, they are still workaholics until my sister was born. Hal itulah yang menyebabkan tumbuh kembangku ditemani oleh pengasuhku.
One fact you should know, i'm the girl who always cries in the bathroom. Almost everyday. I dont want to cry in front of My Mom and My Dad, so I go to the bathroom just to cry.
I always remember one moment yang membuatku sedih di hari itu. Mungkin, karena memang saat itu aku sedang merasa lelah.
Saat itu, aku dan adik ku sedang berjalan berbarengan ke arah kamar Ibu dan Ayah. Tiba-tiba adik ku kejedot pintu karena ulahnya sendiri. Tetapi, yang terkena marah oleh Ayah dan Ibu adalah aku. Padahal, aku tidak melakukan kesalahan apapun. Adik ku sempat membelaku, berkata "Ini bukan salah Kakak", but again, they dont believe it. Perasaanku saat itu sedih sekali karena aku tidak salah dan tidak melakukan apapun.
Banyak kejadian yang memang membuatku pada akhirnya selalu berpikir, apakah semua kejadian sial yang terjadi di hidupku dan di kehidupan orang terdekat di sekitarku itu semua karena ku? I always blame myself for all the mistakes.
Jika berbicara mengenai anak pertama, mungkin banyak sekali dari kalian yang mengalami kejadian serupa denganku.
Dari aku kecil, aku memang di push untuk mandiri, diperbolehkan untuk melakukan semuanya sendiri. Ada satu momen, dimana aku merasa "oh gue ternyata sebebas itu ya". Bebas dalam arti Ibu dan Ayah tidak pernah menanyakan keadaan dan keberadaan ku, jika aku berpergian jauh. Jauh dalam arti bukan di dalam satu kota dan dengan tujuan untuk bermain ya. Oleh karena itu, aku terbiasa untuk sendiri, sehingga aku pun juga tidak menangis ketika ada hal yang mengharuskan ku untuk berpergian jauh tanpa mereka.
Saat aku duduk di bangku sekolah dasar, aku mengikuti study tour ke Jogja. Ibu dan Ayah sudah pasti tidak ikut. Saat itu, aku tidak menangis sama sekali dan bingung apakah aku seharusnya menangis? karena teman-temanku menangis. Selama aku di jogja, Ibu dan Ayah tidak menanyakan keberadaan dan keadaanku. Ah ya, hanya sekali. Saat aku mengikuti pesantren kilat, juga tidak pernah ditanyakan dan dijenguk. Memang sih, orang tua tidak diperbolehkan untuk menjenguk kesana.
Mungkin kalian bertanya-tanya, permasalahannya dimana?
Ini permasalahannya.
Berbeda halnya dengan adik ku ketika ada hal yang mengharuskannya untuk berpergian jauh. Sama halnya denganku, Adik ku ada study tour dari sekolahnya saat ia SMA. Dimana, Ibu saat itu ingin ikut dan menyusul, tetapi memang tidak jadi. Tapi kan ada niatan untuk menyusul kan? Ada lagi, saat adik ku mengikuti pesantren kilat yang sama denganku. Ia di jenguk oleh Ibu dan Ayah, aku pun ikut. Saat di perjalanan, aku sempat nyeletuk "Dulu, waktu aku pesantren kilat aku gak pernah di jenguk kayak gini". Kalian tahu apa jawaban mereka? " Ya kan beda kak" . Aku bingung, beda dari segi apa nya? Toh saat itu aku juga sama-sama duduk di bangku sekolah dasar kan? Aku kesal saat itu.
Kita lanjutkan di part selanjutnya ya..

KAMU SEDANG MEMBACA
Kalandara
De TodoHanya sebuah coretan kecil dari kehidupan seorang perempuan bernama "Kalandara" note : diary