33. Missing Cracks: I Remember

4.1K 295 18
                                    

"Alva!" teriak Ann dengan riangnya, pemuda itu langsung berlari menuju ruang tengah dan memeluk tubuh pria yang ada di depannya.

"A-Ann?"

"Alva, gendong~" ucap Ann sambil memasang wajah cemberut.

"Ann, aku Alza bukan Alva." panik Alza bingung melihat tingkah Ann yang tiba-tiba bermanja padanya. Sofiee yang masih duduk di sofa hanya diam menatap dua orang itu.

"Gendong!" ulang Ann lagi.

Sekarang pemuda itu menarik kerah leher Alza. Mau tak mau ia menggangkat Ann dengan kedua tangannya. Ia sedikit keberatan saat mengangkat pemuda badan dua ini bahkan hampir terjatuh. Tapi kedua tangan Ann langsung memeluk erat lehernya, bahkan kedua kaki kecil itu juga ikut melingkar di pinggangnya.

"WTF, kenapa dia? Lu apain anjir!" teriak Alza menatap heran pada Sofiee, tapi yang ditatap hanya diam dan menggeleng pelan.

"Tidak ada, aku hanya bersih-bersih tadi."

"Lah terus ini kenapa, buset sesek! Ann lepasin," keluh Alza berusaha menurunkan dan melepaskan tangan kecil yang mencekiknya itu. Tapi bukannya lepas Ann malah semakin mengerat.

"Aku... Kangen Bunda...."

"Oh, y-yaudah ayo ke sana, tapi ini lepasin dulu."

"Nggak mau."

"Lah, mana bisa aku nyopir sambil dibekap gini," balas Alza heran ia masih berusaha melepaskan tangan itu. Tapi ia langsung sadar saat Ann diam menatapnya, mata pemuda itu seakan sedang mengatakan sesuatu.

Sontak Alza menelan salivanya kasar. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia sadar Ann sedang menganggapnya sebagai Alva. Tentu ia tahu jika wajahnya sangat mirip dengan saudara kembarnya, tapi bukan berarti ia bisa menggantikan peran Alva. Apalagi jika berkaitan soal Ann, tidak akan pernah.

"Eh itu... Anu, agrh yaudah, Sofiee ayo cepet, ini keknya kagak bakal lepas kalo belum ketemu sama Bunda," ucap Alza tidak nyaman, dan Sofiee langsung mengangguk. Setelah membereskan berkas dan laptop. Mereka langsung berangkat ke vila keluarga dengan mobil Alva.

Tak berselang lama mereka sampai di vila keluarga. Beruntungnya Ann langsung melepaskan dekapannya dan lari ke dalam meninggalkan mereka di luar.

"Anjir, tu anak kenapa, dah?" gumam Alza sambil menyentuh tengkuknya yang memerah karena terus dicengkeram sejak tadi.

Sofiee diam sejenak. Tak lama ia menarik kerah baju Alza mendekat. "WTF, ngapain anj—"

"Baumu sama seperti Alva."

"Y-ya jelaslah emang aku kembarannya, paling bedanya dia Enigma doang," gumam Alza memalingkan wajahnya kesal. Ia membenahi kerah bajunya yang baru saja ditarik paksa. Lalu berjalan masuk ke vila.

"Dah... Masuk yok, dah tengah malam banget ini, aku mau mandi dulu, gerah."

Alza berjalan masuk sambil mengibaskan bajunya. Rasa panas setelah didekap membuatnya ingin segera menyetuh air dingin. Tapi tak lama ia sadar dengan Sofiee yang masih diam di tempat.

"Woy, ngapain? Masuk."

Sofiee masih diam dan mau tak mau Alza berbalik mendekatinya.

"Kenapa?"

"Aku mau ketemu Ayah dulu, beliau dirumah sakit, kan?"

"Oh, mau nanya soal itu?" tanya Alza dan langsung dibalas anggukan.

Alza menghela napas sejenak. "Terserah sih, aku kurang tahu soal anti-Enigma gitu, tapi tungguin aku mau mandi dulu ntar anterin ke vila Alva ngambil mobilku."

I'm not Enigma [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang