"Tak ada manusia di dunia ini yang bisa kau remehkan, Ohm."
Jalan Pridi Banomyong 22
Phra Khanong Nuea
WatthanaPukul 22.08
Enam orang pria dewasa bertukar gelak tawa di ruang kerja mereka. Piring, gelas, dan panci yang tadi digunakan untuk makan malam sudah tercuci bersih tertata di atas rak. Satu di antara mereka menggelar karpet. Satu lagi memengumpulkan bantal dari kamar - kamar dan dihamburkan di atas karpet. Kemudian empat lainnya menyerbu bantal - bantal itu, berebut dengan tawa. Terjadi perang bantal tak lama setelahnya.
Mereka tidak ingin lembur untuk hari ini. Semua begitu melelahkan. Mereka memilih untuk istirahat, makan enak, dan tertawa sebelum melanjutkan pekerjaan di esok hari. Sekaligus relaksasi bagi Joong dari rasa dukanya kehilangan ibu tercinta.
Berbeda dengan yang lain, Dunk tidak begitu ingin istirahat. Ia bangkit dari tidur, berjalan keluar ruangan lalu turun ke dapur. Diambilnya ketel, diisinya dengan air lalu letakkan di atas kompor, nyalakan. Selagi menunggu air matang, ia menggapai rak untuk mengambil cangkir, dituangnya satu sachet kopi bubuk instan. Tepat setelah ia menuang bubuk kopi, ia rasakan sesuatu bergetar di sakunya. Ponselnya berdering nyaring. Diambilnya dari saku untuk melihat siapa yang menelepon malam - malam begini. Nomor tidak dikenal tertampil di layar.
Ini pertama kalinya Dunk menerima panggilan dari orang yang tak dikenalnya. Jarang sekali orang mau menyimpan nomor teleponnya. Sebaliknya Dunk banyak menyimpan nomor telepon milik orang - orang. Dan saat ini giliran ia menerima panggilan asing, perasaannya sedikit curiga. Ia yakin sekali nomor itu bukan nomor iseng.
Dijawabnya panggilan tersebut.
"Halo? Dengan siapa?," tanya Dunk.
Penelepon itu tertawa. Suaranya disamarkan."Apakah kau berpikir semua manusia berhak hidup bahagia di dunia ini?,"
Dunk terdiam seketika. Kecurigaannya benar. Penelepon ini bukan sekedar iseng - iseng minta pulsa.
"Aku yakin setidaknya ada segelintir orang yang berpikiran sama denganku.,"
"Apa maumu?," tanya Dunk datar.
"Aku tidak menginginkan apa pun darimu, Natachai.,"
"Untuk apa kau menghubungiku?," Ketelnya berbunyi nyaring.
"Aku hanya ingin memastikan sudah seberapa jauh kalian mengerjakannya. Tapi sayang sekali kalian bahkan tidak mencurigaiku. Ini sangat lucu dan asik. Melihat betapa kalian kompak tidur bersama di satu ruangan. . . begitu sejahtera. Oh, kenapa kau tidak ikut tidur?,"
Ketelnya berbunyi makin nyaring. Seketika ia matikan lalu segera menuju ke lantai dua, berniat membangunkan setidaknya satu di antara mereka untuk ikut mendengarkan apa yang penelepon itu coba katakan.
"Sedang mencoba melindungi seseorang, Natachai?,"
Dunk diam sebentar. "Di mana kau?,"
Penelepon itu tertawa. "Let's guess! I can see you stuck there.,"
Dunk berjalan pelan - pelan melongok lewat jendela keluar. Terlihat olehnya sosok tubuh tegap nan tinggi serba hitam menatap ke arahnya. Dunk balas menatapnya tajam.
"Hello, Dunk Natachai. Nice to meet you.," Penelepon itu tertawa lagi. "Oh, aku punya tebak - tebakan. Wanna bet?,"
Dunk tidak merespon. Ia diam, mendengarkan dengan seksama apa yang orang itu coba jelaskan.
"Siapa di antara kita yang melangkah paling jauh? Aku, . . . atau kau dan bala - balamu? Satu lawan lima loh. Eh, lima atau enam, ya?," Dunk mengepalkan tangannya erat - erat, ia tersulut emosi. "Hm hm hm, semangat, Natachai. Jangan banyak berpikir. Semoga malammu selalu indah."

KAMU SEDANG MEMBACA
HOLD ME TIGHT a joongdunk alternative universe
FanfictionDunk tidak pernah berniat kembali ke Bangkok setelah ia tinggal dengan nyaman di Cambridge. Ia punya flat yang sudah lunas, pekerjaan yang menyenangkan, aman, tenteram, dan teman baik yang akrab. Namun pada pukul tiga pagi di hari Jum'at, keputusan...