36. Missing Cracks: Unread Message

4.1K 254 11
                                    

Sebuah mobil berhenti di area laboratorium, Reo keluar dan langsung masuk ke dalam sana. Ia melewati lorong dan beberapa pintu ruangan lain, menuju ruang kantor pribadi sang Ayah. Ia membuka pintu itu dan pandangannya langsung mengedar mencari sesuatu.

"Cari apa?" tanya sebuah suara. Reo kaget bukan main dan langsung menoleh pada suara itu. Sudah ada Sofiee di belakangnya, gadis itu sudah bersedekap sambil bersandar pada bibir pintu.

"Aku cari kamu."

"Hm? Ada apa?"

"Aku ingat... Ada orang lain di rooftop waktu itu. Aku ingat orangnya, dia—"

"Yang ribut dengan Ann kemarin malam, kan?" potong Sofiee dengan nada datar. Ia menatap serius pada Reo yang terkejut dengan ucapannya.

"Dari mana kamu tahu?"

"Aku ada di sana kemarin malam. Aku sengaja mengikuti orang itu sejak awal karena aku curiga dengannya dan ternyata memang benar. Ann sendiri yang mengatakan dia 'jahat' dan langsung mengamuk saat melihatnya, dan sekarang ingatanmu juga kembali, berarti sudah bisa dikonfirmasi dialah orangnya."

Reo diam sejenak. Ia baru tahu jika Sofiee sudah memiliki kecurigaan sejak awal. Ia merasa tidak ada yang perlu, ia jelaskan lagi.

"Jadi sekarang bagaimana? Apa kita harus bergerak sekarang? Aku merasa orang itu terlalu berbahaya jika menunggu dia bergerak, firasatku terlalu buruk saat mengingat orang itu."

Suasana menjadi hening sejenak. Sofiee diam menatap raut tidak nyaman itu. Wajah adik tiri di depannya ini benar-benar gelisah, dan berbeda dari biasanya.

"Apa ada yang salah?" tanya Sofiee.

"Tidak, aku hanya merasa cemas saja, mungkin cuma karena baru ingat kejadian itu."

"Mau minum?" tawar Sofiee.

"Tidak... Tidak perlu, aku ke sini cuman mau memberitahukan itu saja," balas Reo pelan. Ia menatap tangannya yang gemetar dan napasnya terasa sedikit sesak. Ia menghela napas sejenak berusaha menetralkan diri.

Sofiee hanya diam melihat itu. Ia keluar dari ruangan sebentar dan kembali dengan membawa segelas air. Saat kembali ke ruangan itu Reo sudah duduk di kursi dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.

"Apa ini sering terjadi?" tanya Sofiee sambil meletakkan segelas air di dekat Reo.

"Tidak, aku tidak pernah seperti ini secara tiba tiba... Apa ruangan itu bocor, ya?" gumam Reo sambil mengambil gelas itu dan meminumnya perlahan.

"Ruangan kedap udara?" tanya Sofiee.

"Oh kamu tahu?"

Sofiee mengangguk pelan. "Iya, Alza yang bilang. Katanya itu untuk menahan penyebaran feromon milik Alva saat dia rut. Aku juga menemukan ruangan semacam itu di vila pribadinya."

"Vila pribadi?"

"Iya, aku menemukannya saat membersihkan tempat itu. Ruangan kedap udara dan ada beberapa buku lama. Laboratorium minimalis dan juga ada banyak bekas injeksi yang sudah terpakai. Tapi... Ada yang aneh. Semua isi injeksi itu hampir sama dengan anti-Enigma," jelas Sofiee sambil berjalan ke sisi lain di dekat peralatan laboratorium. Ia mengambil sebuah kain putih lalu kembali mendekati Reo dan membuka kain itu.

"Apa kamu pernah lihat dia menggunakan ini?" tanya Sofiee sambil menunjukkan sebuah injeksi di tangannya. Reo diam sejenak menatap itu.

"Tidak, aku tidak pernah melihat dia menggunakan apapun, saat Alva remaja frekuensi kami bertemu memang jarang dan aku juga terlalu sibuk," balas Reo masih menatap injeksi itu. "Apa maksudmu ini digunakan sebagai suppressant?"

I'm not Enigma [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang