37. Missing Cracks: Kidnapped

4.2K 265 8
                                    

"Reo !"

Alza masuk ke dalam laboratorium. Langkahnya semakin melebar saat mendekati ruang kantor laboratorium. Tangannya bergerak memutar gagang pintu tapi seketika itu juga ia mundur menjauh.

"Alza, ada apa?" tanya Nao yang baru menyusul. Ia panik melihat pria itu diam membeku, buru-buru ia mendekat juga dan melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Hal yang sama terjadi, Nao juga terdiam dengan apa yang ia lihat. Ruangan itu kacau berantakan. Meja dan beberapa peralatan berserakan bahkan ada beberapa bercak darah di sana, dan juga ada hawa aneh yang ada diruangan itu. Hawa dingin yang mencekam dan sangat dominan.

"Ini kan..."

"Feromon... Enigma..." desis Alza pelan. Ia langsung mundur menjauhi ruangan itu sambil menutup hidung dan mulutnya. Ia terduduk lemas di sisi lorong dengan napas yang sesak.

"K-kok bisa? Bukannya Alva udah nggak ada."

Alza diam tak bersuara. Ia masih berusaha mengatur napas setelah terkena feromon Enigma. Hawa dingin dan mencekam itu benar-benar membuatnya melemah, berbeda dengan pemuda di depannya yang masih terlihat baik-baik saja.

"H-hubungi Reo."

Tanpa banyak bertanya, Nao segera menelepon nomor Reo, tapi setelah beberapa kali percobaan, telepon itu tak terjawab bahkan tak masuk.

"Nggak bisa, di luar jangkauan."

"S-Sofiee atau Ayah, siapa aja, telepon siapa aja!"

Nao langsung mencari nomor lagi dan ia memilih nomor sang Ayah, tapi telepon itu juga tak tersambung, beralih pada Sofiee tapi suara telepon terdengar ada di dalam ruangan itu.

Nao kembali mendekati ruangan itu dan benar saja. Ada handphone milik Sofiee yang tergeletak di sana. Ia masuk dan mengambil handphone itu.

Saat di dalam Nao memang merasakan hawa dingin dan mencekam. Persis yang pernah ia rasakan saat di bar waktu itu. Tubuhnya merinding, tak ingin berlama-lama ia langsung keluar dari ruangan itu.

"Handphone Sofiee di dalem, yang lain nggak bisa dihubungi juga."

"Fuck! Apa-apaan lagi ini?!" umpat Alza geram. Ia berusaha bangkit perlahan dengan bertumpu pada dinding lorong. Dengan Nao langsung sigap membantu dan memapahnya keluar dari laboratorium dan membawa pria itu masuk ke dalam mobil lagi.

"Alza tenang dulu, atur napas," ucap Nao pelan berusaha membantu Alza tenang. Tapi tiba-tiba ia didorong pelan dan pria ini terlihat ingin turun lagi.

"Hei, mau ke mana?"

"Vila... Ke vila, aku harus ngecek ke sana," ucap Alza berusaha keluar.

Nao paham pria ini hendak turun dan berpindah ke kursi kemudi. Tentu ia takkan membiarkan pria ini mengemudi dalam keadaan sekarang. "Biar aku aja, bahaya kalau kamu nyopir begini."

"Nggak, aku aja... Harus ke vila."

"Iya aku tau, biar aku aja, nggak baik kalo kamu maksain diri begini," balas Nao masih berusaha mendorong Alza untuk tidak mengemudi. Tapi pria itu masih besikeras hendak beralih kemudi. Tentu saja Nao tak akan tinggal diam melihat itu, untuk pertama kalinya ia membentak Alza sampai pria itu terdiam karena suaranya.

"Alza!" bentak Nao sambil mendorong pria itu masuk.

Alza langsung membeku mendengar itu. Ia memalingkan pandangan sambil memegangi kepalanya, deru napasnya masih berat dengan keringat yang membasahi kening.

Tak ingin berlama-lama, Nao langsung masuk ke mobil, dan mengemudikan mobil itu meninggalkan area laboratorium.

Saat dalam perjalanan, Nao berusaha menghubungi Ann. Beberapa kali ia mencoba tapi telepon itu juga tak terjawab. Ada rasa kesal yang juga muncul dalam benaknya hingga tak sadar Nao menginjak gas cukup dalam dan menaikkan kecepatannya.

I'm not Enigma [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang