Sudah sebulan, Kushina berada di Byakugan-Hyuga. Kondisinya semakin buruk sehingga perjalanan jauh tidak memungkinkan untuknya. Ratu Konoha itu masih menjalani perawatan di kamarnya.
Tabib kehabisan bahan sehingga kewalahan. Dia bertanya pada dayang setelah menusukkan jarum akupuntur di dahi Kushina, untuk meredam sakit kepala dan demam. "Di manakah pangeran permaisuri?"
"Beliau menemui raja Hiashi. Ada apa, tabib?"
"Aku harus kembali ke Konoha. Ada bahan herbal yang harus aku ambil. Di sini sama sekali tidak ada. Aku harus ijin pada pangeran permaisuri."
"Beliau pasti masih di istana raja Hiashi."
"Baiklah, aku temui beliau di sana. Kau, jagalah agar suhu tubuh ratu normal."
"Baik, apakah ratu boleh menyusui bayinya?"
"Boleh, itulah sebabnya aku perlu bahan herbal itu. Hanya bahan itu yang tidak mempengaruhi kualitas ASI nya."
"Hem, baiklah. Aku jaga ratu."
Tabib itu memgangguk, dan keluar kamar untuk menemui Minato.
Minato masih berada di isatana Hiashi. Hiashi yang sakit, berusaha duduk tegak, masih menampakkan wibawanya sebagai raja, sementara di sampingnya adalah putrinya Hanabi.
"Kami hanya ingin pangeran kami dikuburkan dengan layak di tanah kelahirannya."
Sekali lagi, Hiashi memohon demi jasad Neji. Dia tidak ingin kepala Neji dibawa ke Konoha di dalam peti, bernasib sama seperti jasad pemberontak Konoha yang lain. Minato menghela nafas dan berkata,"Neji bukanlah pangeran Hyuga lagi. Dia adalah pangeran selir Konoha yang berkhianat. Saya harap anda mengerti."
Hiashi berkata dengan gamang."Pangeran permaisuri, saya mohon. Hyuga Neji melakukan itu demi klan. Di Konoha, dia mungkin pemberontak, tapi, di sini. Di Byakugan-Hyuga, dia adalah pahlawan. Dia gugur di tanah ini dan berhak dimakamkan sebagai.pahlawan Byakugan-Hyuga."
Minato tersenyum miring,"Dia pahlawan dan kami penjajahnya, begitu?"
"Memang begitulah kenyataannya, pangeran permaisuri." Kata-kata Hiashi halus, namun mampu menusuk hati Minato.
"Jika anda tidak sedang sakit, saya bisa saja membunuh anda."
"Anda tidak bisa melakukan itu, pangeran permaisuri! Membunuh seseorang yang mengatakan kebenaran bukanlah sifat seorang kesatria." Seorang wanita tiba-tiba memasuki ruangan itu. Bintik-bintik hitam bekas cacar air menghiasi wajahnya.
"Putri Hinata,"
Semua dayang bersujud padanya. Minato melirik wanita yang duduk di samping Hiashi itu. Wanita bersujud di di depan Hiashi. "Ayahanda."
"Putriku, kau pulang? Bangkitlah."
Hinata bangkit, lalu memeluk ayahandanya. Hiashi memegang dagu Hinata lalu mengamati bintik-bintik hitam di wajahnya. "Kenapa wajahmu begini?"
Hinata tersenyum,"Saya terkena cacar air. Sudah sembuh sebenarnya. Ini hanya tinggal bekasnya saja. Maafkan saya karena penyakit ini menahan saya menemui Ayah. Saya tidak ingin ayah ketularan."
Hiashi tertawa. Dahi Minato mengernyit. Baru kali ini, dia melihat Hiashi tertawa. Putri sulung itu pasti memiliki peran tersendiri di kehidupan raja Hyuga itu.
"Ayah masih sakit? Kenapa harus menerima tamu?"
"Ayah memohon pada pangeran Minato agar Neji dimakamkan secara layak di sini."
Hinata menatap Minato. Minato merasa terintimidasi karena tatapan mata wanita itu begitu menusuk. Dia berusaha menata hatinya, dan menatap mata itu balik.

KAMU SEDANG MEMBACA
Desire Of Kingdom
FanfictionTak ada yang tahu sampai di mana desiran hati itu berakhir