5 - Sick

262 30 7
                                    

.

.

.

📍Singapore

Kedua tangan keriput itu menggenggam ponselnya sejak dua puluh menit yang lalu. Wajahnya tersirat rasa khawatir sejak mendapat kabar bahwa putri tercintanya mengalami kesakitan untuk kesekian kali.

"Apakah harus kuhentikan saja? Aku tidak tega jika harus melihatnya kesakitan terus seperti itu." Pandangannya kembali pada sebuah pesan yang sudah berulang kali ia baca. Membacanya lagi dengan raut khawatir yang sama dan justru semakin bertambah.

"Aku tidak tega menyiksa gadis kecil itu dengan obat-obat yang selalu menyerang tubuhnya," ucapnya dengan penuh penyesalan.

"Kita sudah melakukannya bertahun-tahun tuan, tidak perlu merasa khawatir seperti itu," ucap seorang ajudan yang sedang berdiri di hadapannya. "Lagipula nona Lee merasakan sakitnya hanya sebentar. Tuan Lim juga sudah biasa melihatnya bukan?"

Sejenak tuan Lim memandang ajudannya dengan raut sedih. Ia menutup ponselnya kemudian menyimpannya di atas meja.

"Apa masih banyak pekerjaanku disini?"

"Iya tuan, ada masalah dengan perusahaan tuan Lee—"

"Sstt!! Hati-hati menyebut nama itu Yoon. Aku tidak mau ada yang mendengar nama itu."

Ajudan tuan Lee membungkuk sopan, "Maaf tuan. Aku akan mengingatnya."

"Tunggulah di luar. Aku akan menghubungi puteriku dulu." Tuan Lim kembali mengambil dan menyalakan ponselnya setelah sang ajudan pergi keluar dan menutup pintu ruangannya.

Tuan Lim begitu cemas ketika panggilannya tidak juga terhubung. Beliau berkali-kali melirik layar ponsel, memastikan bahwa ia tak salah menekan nomor. Keningnya kembali berkerut ketika panggilan yang ketiga tidak kunjung mendapat respon. Wajahnya mendadak pias memikirkan sesuatu yang terjadi pada Lee hingga akhirnya ia memilih menghubungi bibi Han.

"Ini aku," Tuan Lim meremas kelima jarinya ketika panggilannya langsung terhubung. "Bagaimana kondisinya?" Tuan Lim mengurut pangkal hidungnya seraya kedua matanya yang memejam rapat.

Kemudian kepalanya menengadah dan bersandar penuh pada sandaran kursi besarnya ketika bibi Han menceritakan kondisi puteri kesayangannya.

"Seperti biasa tuan ... Nona muda merasakan sakit pada kepalanya." Suara bibi Han terdengar sedih dari seberang telepon. "Kenapa tidak kita hentikan saja tuan? Lagipula nona juga tidak pernah meng"

Tuan Lim tampak menimang saran dari bibi Han untuk beberapa saat namun kemudian beliau menggeleng dengan cepat. "Tidak!" jawabnya tegas. "Kita harus mengikuti perintah dokter." Tuan Lim menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya mengakhiri panggilannya.

Pria dengan rambut yang tidak sepenuhnya putih itu memijat pelipisnya dengan lembut. Dalam hati kecilnya, ia memikirkan dan mempertimbangkan ucapan bibi Han beberapa menit yang lalu. Namun saran dari Yoon Ji ajudan pribadinya juga membuatnya bimbang.

Keinginannya agar Lee segera menikah dengan Jimin sebentar lagi akan terwujud. Mungkin dengan cara seperti itu ia tidak lagi membuat Lee merasakan sakit. Ia berharap puteri kecilnya dapat hidup dengan bebas dan bahagia setelah menikah bersama Jimin nanti.

Menurutnya, Jimin adalah pria yang tepat untuk Lee. Jimin pasti akan mampu melindungi dan membahagiakan Lee. Jimin adalah pria yang ia temui saat acara seminar di Amerika. Pria tampan, berusia matang, dan memiliki kondisi financial yang sangat baik.

PARK & LEETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang