12; The Relation

470 47 0
                                    


"Tempat terbaik untuk mencintai seseorang adalah menjadi teman.,"


Jalan Pridi Banomyong No. 23
Wathana, Phra Khanong Nuea
Ruang Tamu

Pukul 08.00


Cinta tidak memiliki batasan. Selagi tidak tampak, ia melintang di antara ruang dan waktu. Menelusup di antara tempat - tempat di hati manusia, mengakar, tercabut, dan tumbuh lagi dengan subur seiring dengan waktu. Cinta tidak menua, apalagi kadaluarsa karena cinta hanya berseberangan dengan waktu. Bukan berjalan bersama dan mengakhirinya bersama. Cinta tidak memiliki aturan. Cinta melalui apa saja tanpa memandang siapa yang berusaha dihinggapinya. Cinta selalu adil. Sekaligus egois karena meraup segalanya. Cinta berada di atas apa pun. Dan di saat bersamaan, cinta melakukan pengorbanan. Seperti matahari mencintai bumi. Maka ia tak akan sekalipun mendekati bumi agar tidak melukainya. Dan sebagaimana bumi mencintai bulan di setiap kali ia memandang. Dan bulan yang selalu membuat kesempatan untuk bertemu matahari di antara waktunya yang ia serahkan untuk bumi. 

Cinta memiliki dimensinya sendiri. Setidaknya begitu menurut Ohm setelah selama tiga puluh tahun ia hidup berjelajah di antara hati manusia. Laki - laki bertubuh gagah pemberani, penuh semangat dan karir yang baik, tidak mungkin tidak ada yang naksir. Ada banyak perempuan yang terpikat padanya. Tak pandang bulu, dari ujung kantor kriminal sampai rumah sakit forensik sangat pasti ada saja yang meliriknya dengan pandangan kagum. Entah secara fisik, atau karena jabatannya keren. Ohm sendiri tidak begitu peduli. Ia terlihat biasa saja. Mungkin karena belum ketemu yang membuatnya tertarik atau memang tidak ada yang membuatnya tertarik. Bisa jadi ada yang sudah tertambat di hatinya, jadi ia tidak melihat ke mana pun lagi. 

Ya. Ohm mematenkan hatinya pada satu arah, pada seseorang yang selalu merebut semua atensinya, sosok yang terus bernilai indah kapanpun ia memandang. Yang ia jagai dari jauhnya jarak perasaan mereka. Seorang teman akrab sejak sekolah menengah, sama unggulnya dengan dirinya, Nanon Korapat. Ohm tau, sadar betul kalau sahabatnya itu laki - laki. Tapi tak ada yang salah dengan itu. Ia tetap bisa mencintai Nanon sebanyak yang ia bisa. Cinta  tak memiliki batasan. Tak peduli siapa pun itu, Ohm berhak mencintai siapa pun yang ia sukai. Ia juga tidak peduli entah Nanon menyukainya atau tidak. Toh tidak semua cinta harus memiliki. Terbukti, mau berlalu setelah sepuluh tahun lamanya, perasaannya tetap sama. Utuh, tidak kalong sama sekali. 

Kekuatan cintanya begitu kukuh. Bahkan saat Nanon menikah dengan salah satu temannya, Ohm tetap menghadiri pernikahan itu. Tetap bercanda dan tertawa bersama di sana, ikut menyambut dengan bahagia. Ohm tidak merasakan sakit. Cintanya tidak harus berbalas. Yang dilihatnya adalah Nanon yang bahagia. Yang bangga dengan pencapaiannya. Pemandangan yang menyegarkan hatinya. Dan bagian paling pentingnya, Nanon tetap sama. Di posisi yang sama. Di sampingnya, sebagai temannya. Ada untuknya. Selama semua masih tetap sama, Ohm tidak peduli yang lain. Ohm tetap mencintainya. Ia bahkan sering berkhayal jika dirinya dan Nanon adalah pasangan tinggal bersama selama puluhan tahun. Khayalan itu terbantu dengan Nanon yang sering menginap di rumahnya ketimbang pulang. Seperti di pagi ini, Nanon membangunkan Ohm yang tertidur di sofa, mengguncang tubuhnya agar ia bangun. 

"Ohm, bangun.," ujar Nanon masih mengguncang tubuhnya. "Ohmm. . . . ., bangunlah cepat! Ini sudah pukul delapan pagi, kau harus bangun dan kerjakan tugasmu!!!"

Ohm hanya menggeliat. "Ada apa, sih sayang? Buru - buru sekali.," gumamnya. 

"Sayang pala bapakmu, sialan. Bangun! Dunk menelepon, tuh! Ini saatnya bertugas sungguhan!,"

Ohm terperanjat, matanya melebar seketika. "Hah!? Kau bercanda!?,"

"Tidak! Cepat bangun! Harus aku siram dulu atau gimana!?,"

HOLD ME TIGHT  a joongdunk alternative universeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang