19

164 8 11
                                    

Minato murung di kamarnya. Jasad Kushina masih berada di ruang duka. Sementara dua bayi yang masih memerlukan ASi ibunya terlantar.

Kushina sudah meninggal. Meninggalkan duka mendalam pada negara. Iruka sebagai panglima kepercayaan Minato hanya bisa berjaga di depan istananya. Tabib tiba-tiba datang dan mendekati Iruka.

"Ada apa, tabib?" Tanya Iruka.

"Saya ingin memastikan sesuatu pada pangeran permaisuri."

"Ada apa sebenarnya?"

"Ini hanya bisa dibicarakan dengan pangeran permaisuri."

"Baiklah, aku kabarkan pada beliau. Tapi aku tak janji bahwa kau bisa masuk."

Tabib itu mengangguk. Iruka masuk ke dalam istana. Tabib itu menunggu dengan harap-harap cemas. Iruka kembali lagi dan tabib itu pun lega.

"Kau boleh masuk."

Tabib langsung memasuki istana Minato. Minato tampak menggunakan kimono putih. Duduk di depan meja dan menunduk.

"Hormat saya, pangeran permaisuri." Tabib itu bersujud, lalu duduk bersila.

Minato menatap tabib dengan pandangan gamang,"aku apresiasi kemampuanmu, tabib. Kau telah berhasil mempertahankan ratu. Kini beliau sudah tiada. Kau tak perlu kuatir. Aku tidak menyalahkanmu."

"Pangeran permaisuri, maaf." Tabib itu mengeluarkan sesuatu dari tas dan menyodorkannya pada Minato.

"Apa ini?" Minato heran melihat sesuatu yang dibungkus kain putih.

"Janin. Maaf, apakah anda dan Ratu.. sebelum meninggal... "

Tabib itu agak tidak enak menanyakannya, namun Minato tahu arah pembicaraannya. Minato menghela nafas. Tabib itu menarik kesimpulan.

"Beliau selalu merasa dikhianati. Beliau bahkan sering memaksakan kehendak di saat terakhirnya. Termasuk hal ini. Janin ini adalah anak kami. Kuburkan dia bersama ratu. Ratu pasti sangat bahagia."

"Baiklah, permaisuri... lalu... permintaan ratu yang lainnya? Anda harus melakukannya, bukan? Anda tidak bisa mengurung diri terus menerus."

"Aku akan keluar jika memang harus keluar."

Tabib itu mengangguk. Dia mengambil kembali bungkusan itu lalu keluar istana Minato. Dia menuju ruang duka dan meletakkan jasad janin di sana. Sementara itu, suara tangisan dua bayi terdengar. Tabib itu menghela nafas ,"Semoga kalian bisa bertahan, bayi-bayi yang malang."

Upacara pemakaman Kushina pun digelar. Dewan sidang memberikan penghormatan terakhir pada Ratu merah Konoha. Seluruh negeri berduka. Bahkan negeri takhlukan Konoha pun hadir menghormati kematian ratu. Hiashi hyuga hadir dengan tubuh lemahnya bersama putri bungsunya. Sementara Hinata pergi entah kemana karena dia tidak tahu.

Hingga dibacakan dekrit terakhir ratu. Sebuah dekrit yang ditulis di masa pejabat negara menderita kritis, sudah sangat yakin dengan kematiannya. Dekrit yang ditulis di depan pemuka agama, anggota dewan, saksi dan beberapa orang yang tertulis di dalam dekrit.

Dekrit yang tentu saja membolak-balikan sejarah Konoha.

"Saya... sebagai ratu Agung Konoha, Uzumaki Kushina... begitu yakin bahwa usia saya sudah sangat pendek. Ingin rasanya mengakhiri penderitaan ini, namun segala penghianatan membuat saya waspada.

Saya mengakui kesalahan saya. Pangeran selir Hyuga Neji telah membahayakan kedaulatan negara. Dan saya begitu berduka atas kematiannya. Kami saling mencintai sebelumnya. Kenji Uzumaki bahkan lahir sebagai buah cinta kami. Dia akan sendirian setelah ini, jadi... saya mohon kepada Konoha... sayangilah putra saya Uzumaki Kenji sama seperti kalian menyayangi Uzumaki Naruto dan Uzumaki Eiji.

Desire Of KingdomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang