58. Benarkah Impoten? (18+)

1.4K 48 0
                                    

"Tu-tunggu!" Larry berteriak panik saat dia merasa sesuatu hendak menerobos bokongnya.

Geremi yang berkonsentrasi penuh memasukkan penisnya seketika berhenti dan mengangkat wajahnya, "Ada apa?"

Larry terlihat frustasi, "Bi-bisakah tunggu sebentar? Aku masih gugup"

Pria diatasnya menaikkan kedua garis bibirnya, "Ini sudah yang ke sekian kalinya kamu berkata seperti itu, Apa kamu takut?"

Pemuda itu melebarkan kelopak matanya, "Tidak! Aku tidak takut!" Sanggahnya tegas.

"Jika kamu takut, Cakar saja bahuku" Geremi mengecup lembut tangan yang bertengger di lehernya.

"Siapa yang takut huh? Aku hanya gugup, Itu saja!"

Lagi, Geremi mengulas senyum manis, "Baiklah, Kalau begitu aku akan melanjutkannya" Dia menegangkan tubuh bawahnya sebelum menekan kemaluannya ke dalam lubang kecil berkerut kemerahan milik suaminya.

"Nghhh!"

Dia sangat geli melihat ekspresi Larry yang meringis kaku. Kenapa pemuda ini begitu keras kepala?

"Tunggu!! Pe-pelicinnya, Kamu belum memakainya!" Larry berkata dengan gelisah.

Hela nafas, Geremi berhenti lalu mengambil pelicin untuk diaplikasikan pada penisnya, "Selesai, Bisa kita lanjutkan?"

Bola mata Larry bergerak cemas, "Y-Ya..."

Namun ketika Geremi mendorong, Larry memekik keras, "Berhenti!"

Geremi tidak bertanya lagi, Dia langsung merebahkan tubuhnya di samping pemuda itu dan berujar, "Ayo lakukan saat kamu benar-benar siap, Aku tidak ingin memaksamu terlalu jauh"

"Tapi aku siap! Aku hanya gugup saja" Bantah pemuda itu sambil melirik pasangannya.

Tersenyum lebar, Geremi membalik Larry jadi membelakanginya untuk kemudian merengkuhnya seerat yang dia bisa, "Aku tahu, Tapi hari ini kamu tidak bisa jadi aku memakluminya"

Larry merinding merasakan hembusan nafas di belakang lehernya, "Aku bisa, Ayo coba lagi"

"Tidak, Lain kali saja. Lebih baik tidur, Ini sudah larut malam" Tolak Geremi.

Penolakan itu entah mengapa membuat Larry semakin merasa tidak enak hati, Bahkan tidurnya ikut tidak nyaman sehingga pemuda itu bergerak-gerak di pelukan Geremi.

Diam-diam Geremi menyeringai manis.

"Cukup!!" Larry spontan bangun lalu menoleh pada Geremi, "Aku sudah siap, Ayo kita mulai!"

Membuka matanya, Pria itu bertanya, "Benarkah? Jika kamu masih bersikeras untuk ini, Aku tidak akan menoleransinya lagi"

Larry terdiam dalam raut keraguan cukup lama begitu dia mendengar ini. Kemudian mengangguk mantap, "Baik"

Keduanya melakukan kontak mata selama beberapa menit sebelum Geremi bangkit membanting Larry menjadi terlentang di ranjang, "Diterima" Dia mengambil bantal dan menyelipkannya di bawah pantat Larry.

"Ah! Apa yang kamu lakukan?!" Larry refleks memegang bahu Geremi.

"Agar aku mudah masuk"

"Tapi-AARGHHH!! NNNGH!" Larry mengejang kesakitan akibat sesuatu yang berhasil menembus bokongnya. Dia bahkan mencakar punggung Geremi dengan kuku-kukunya yang kuat.

"Ssshhh!" Geremi mengerang pelan, Dia merasa kulit belakangnya agak terkupas, "Benar-benar ngh! Sempit sekali"

"Hah... Hah... Sa-sakit! Cabut, Cabut saja aku tidak tahan eghhh!"

HOT YOUNG PAPA, WILL YA MARRY ME? (Mpreg) (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang