#10

138 17 6
                                        

Hari pertama kuliah di kampus Bratajaya sungguh diluar prediksi Fathan. Ia kira berada di lingkungan kampus akan memudahkannya untuk kabur, tapi ternyata keamanan di lingkungan kampusnya sama saja dengan dirumahnya. Setiap penjuru pasti ada tim keamanan yang berpatroli, entah dia tidak beruntung atau sang kakak sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.

"Hei!" ucap seorang pemuda sambil menepuk pundak Fathan

Fathan berbalik, menatap pemuda itu bingung.

"Loe Fathan kan, Mahasiswa pindahan itu?" tanyanya

Fathan menggangguk, "Sorry, Apa kita pernah ketemu? Muka loe gak asing buat gue,"

Pemuda itu tertawa sedikit keras, "Loe lucu ya kalau lagi bingung. Kenalin Gue abang sepupu loe. Nama gue Zaidan, gue adiknya Bang zafran. Loe bisa panggil gue Bang Idan, atau kak idan," ucap zaidan sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Pantesan bau badan loe kaya bau rumah sakit. Ternyata loe adiknya dokter sikopat itu,"

Tawa Zaidan pecah seketika, pemuda dihadapanya ini membuatnya gemas. apalagi saat mendengar julukan baru sang kakak.

Ditertawakan seperti itu, bola mata Fathan memutar sinis. Zaidan yang melihat itu bukannya berhenti tertawa malah tawanya semakin pecah.

"Kalau loe masih mau ketawa silahkan. Gue gak punya waktu buat liat loe ketawa kaya orang gila!"

Zaidan menghentikan tawanya, berdehem untuk menormalkan suara.

"Oke...oke, gue gak akan ketawa lagi. Gue kesini di suruh kak zafran. Katanya loe kemarin sempet gak enak badan. Ada yang masih kerasa gak nyaman?" tanya zaidan sambil memegang dahi Fathan, memastikan suhu tubuh anak itu normal.

"Gak usah lebay. Gue oke kok. Lagian loe mau aja di suruh-suruh sama abang loe itu," sungutnya sambil menepis tangan zaidan.

"Gue bukan lebay tapi khawatir cil. Tapi kok badan loe agak dingin padahal cuaca lagi panas. Loe ngerasa lemes atau pusing gak?" tanya zaidan khawatir, sedangkan yang di khawatirkan memutar bola matanya malas.

----

Arsha menatap adiknya dengan tatapan menusuk.

"Zaidan bilang suhu badan kamu dingin dek?"

Fathan menghela nafas berat saat mendengar pertanyaan kakak ketiganya.

"Gue oke kak, kenapa pada parnoan sih. Gue ini cowok bukan cewek yang harus diperhatiin terus!" ucap Fathan kesal. Nafsu makanya tiba-tiba hilang begitu saja.

"Bicara dengan sopan pada yang lebih tua" ucap Arsha dingin.

Fathan sedikit menahan nafas berusaha menahan rasa kesalnya.

"Fathan minta maaf kak. Fathan oke, gak usah khawatir"

"Kamu yakin?"

Fathan tak menjawab. Hanya mengangguk yakin di depan kakaknya itu. Ia terlalu malas berdebat. Bohong kalau dia merasa badannya baik-baik saja. Jujur, badannya terasa tak nyaman kepalanya pusing dan badannya lemas luar biasa.

Fathan merasa akhir-akhir ini badannya selalu tidak bisa di ajak kompromi. Padahal saat tinggal sendiri ia jarang sekali sakit.

"Kak Arsha, Fathan masih ada kelas, Fathan pamit duluan" ucapnya

"Hubungi kakak setelah kelasmu selesai"

Fathan hanya berdehem dan berlalu dari hadapan sang kakak.

---

"Gilaaaa capek banget" ucap Fathan membanting dirinya ke atas kasur.

Fathan berdecih pelan saat mengingat pertemuannya dengan Zaidan dan berlanjut di hujani pertanyaan oleh abang ketiganya.

Sempat terlintas dibenaknya bahwa semua orang di keluarga ini tidak beres. Bagaimana tidak, semua yang dia lakukan benar-benar di pantau 24 Jam tanpa henti.

"Rasanya hari-hari gue kaya neraka. Semuanya di patau dan dikontrol sama abang-abang gue. Gue harus cepet-cepet lari dari rumah ini, sebelum semuanya berubah." gumamnya

Fathan perlahan bangkit dari atas tempat tidur. Tapi pusing itu datang lagi. Ia mencoba memejamkan mata menetralisir rasa pusingnya. Perlahan Fathan berjalan ke arah nakas untuk mengambil air minum.

Prang sial tangannya lemas. Gelas itu meluncur ke lantai begitu saja.

"Anda baik-baik saja Tuan Muda?" Dari luar Rama datang dengan dua orang bawahannya.

"Jangan mendekati pecahan kacanya tuan muda, biar kami yang bersihkan"

Fathan hanya berdiam patuh. Dia cukup tau diri untuk tidak berdebat saat kondisi badannya tidak baik-baik saja.

"Maaf gue repotin loe lagi Bang Ram" ucap Fathan lirih.

Niat hati ingin mengistirahatkan badannya di sofa, tapi rasa lemas membuat ia kewalahan. Rasanya ia tak sanggup berjalan meski posisi sofa  hanya berjarak beberapa meter di depannya.

Namun Fathan memang punya sifat keras kepala dan sok kuat. Ia tetap berusaha berjalan sendiri ke arah sofa tanpa meminta bantuan Rama yang berada di dekatnya. Baru beberapa langkah Fathan berjalan, pandangannya tiba-tiba kabur dan semuanya menjadi gelap.

Hai apa kabar? Semoga selalu sehat ya. Maaf baru update lagi setelah sekian tahun berlalu. Sebetulnya sudah ada di draft, tapi jujur aku kurang Percaya diri untuk lanjut cerita ini. Tapi saat melihat komentar kalian di cerita ini, tiba-tiba jadi termotivasi lagi untuk up lagi ceritanya. Terima kasih banyak ya🥰

Semoga kali ini bisa konsisten dan tidak hilang motivasi. Sekali lagi terima kasih banyak bagi yang sudah mau menunggu dan menjadi pembaca setia.

Maaf juga untuk komentar kalian yang belum aku balas.. Maaf ya. Thank you so much pokoknya 🥰

Sukabumi, 18 Oktober 2025


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MENDADAK SULTANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang