“Malapetaka membawa malam tunduk di matanya, kejayaan membawa siang berlutut di kakinya,” ucap Zex dua kali untuk membuatku paham. Sudah satu minggu kami tinggal di rumah keluarga Laura, tidak ada pergerakan serius dari kelompok Savior dan juga Jen, setidaknya itu kata mereka, aku tidak mengerti mengapa semua orang sukarela membuang-buang waktu berada di sini, maksudku, bukankah kita bisa pulang?
“Zex, cukup, telingaku mah pecah!”
“Kau bukan anak berumur lima tahun lagi Nou, kenapa kau tidak mau mencoba untuk mengerti?”
“Apa kau sadar dengan apa yang barusan kau katakan, Zex? Kenapa separuh hidupku hanya ditujukan untuk mengerti! Mengerti keadaan, mengerti seseorang, kenapa aku harus mengerti ketika tidak banyak orang di pulau? Kenapa aku harus mengerti ketika Ean diperbolehkan bersekolah di tempat ini? Kenapa Ean mati dan aku tidak boleh tahu alasannya! Kenapa aku dan Gil terdampar di sini dengan alasan aneh bahwa aku seorang puteri? Oh, Zex. Di mana mahkotaku! Kurasa aku lupa meletakkannya!”
Lalu aku menangis sejadi-jadinya.
Zex mendekat, meraup kepalaku menuju dadanya. Kenyataan bahwa dia bukan ayahku mulai mengembalikan perasaan kecewa, betapa aku dibesarkan dalam sebuah kebohongan besar.Perasaanku seperti air dalam gelas yang pecah, berapapun mereka ingin menambalnya, yang ingin kulakukan hanya tumpah.
“Aku minta maaf, tidak seharusnya aku memaksamu,” ucap Zex menepuk punggungku.
“Kau mau pulang? Kalau itu maumu, ayo kita pulang.”
Nou mundur selangkah, melepas pelukan Zex yang nyaman, dia tidak percaya dengan tawaran Zex kali ini. “Bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa, kau sudah bertemu anggota Savior yang lain, Jos dan isterinya, mereka akan membantu menyiapkan kapal."
Benar, sedetik kemudian Nou mengingat penjaga pantai yang menyelamatkannya waktu itu, dan juga teh bunga krisannya yang harum.
“Mereka akan dengan senang hati membantu jika aku meminta,” sahut Zex lagi ketika beberapa saat Nou tidak menjawab apa-apa.
“Tidak, maksudku, bagaimana dengan Tora? Bagaimana dengan kerajaan dan ramalan?”
Zex mengedikkan bahu, “sudah kubilang, kan? Aku tidak akan memaksamu.”
Seketika kebingungan melanda wajah Nou, Gil dan ibunya datang dari arah pintu belakang, membawa karton-karton belanjaan yang dibeli dengan rekening orang tua Laura. Wei tidak mau kehilangan kesempatan untuk menjadi cepat berbaur, begitu pula dengan Gil.
“Dengar, Nou! Salju sudah turun!” Suaranya menghambur ke ruangan, merambat cepat menyelimuti rona gelap di antara Zex dan Nou.
Seketika Gil berhenti tersenyum ketika melihat sahabatnya menangis, buru-buru ia meletakkan belanjaannya di meja makan kemudian menghampiri gadis itu. Ibu jarinya dingin ketika menempel di kulit pipi Nou, sebentar ia meringis.
“Ada apa ini Zex?”
“Sahabatmu merengek, memintaku membawanya pulang.”
Gil mencoba mencari jawabannya dengan menatap wajah Nou dengan saksama, “kau mau pulang?”
“Dengar Nou, aku sangat mengerti jika ini terlalu berat untukmu, juga untukku, untuk kita semua. Tetapi dengar, tidak akan ada yang akan memaksamu untuk tinggal di sini dan menjadi seorang pahlawan, membiarkanmu menderita. Jadi tolong, jangan lukai dirimu sendiri untuk siapa pun ya?”
Mendengar Gil bicara begitu, mau tidak mau sisi lain di dalam hatiku menghangat, aku tahu semua orang berada di sini untuk membantuku. Mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang tidak pasti, untuk lebih banyak kemungkinan yang dapat aku berikan, meskipun itu yang terburuk.
“Apa yang akan terjadi jika aku tidak di sini? Dan kenapa harus aku?”
“Apa kau akan mencoba mengerti kali ini, Nou?” Kata Zex yang sekarang lebih tenang.
“Katakan saja,” jawabku.
“Tidak buruk, hanya seperti kiamat kecil saja. Tora seperti tanah terkutuk, atau jika kau tidak percaya sihir, tempat ini seperti sebuah biskuit di mangkuk susu. Terlihat kokoh seperti pulau, tetapi bisa tenggelam kapan pun. Aku percaya kau juga pernah mendengar soal Atlantis dari negri dongeng.”
“Dan alasan kedua adalah, kau bukan yang pertama Nou. Selama kutukan dan ramalan itu hidup, kami semua menjaga keturunan Raja Armen. Mereka akan dikirim ke Tora untuk melakukan tugasnya, termasuk Ean, kakak kandungmu. Tetapi semua pengkhianat tetaplah seekor rubah yang licik. Dan kita selalu kalah, oleh karena itu, aku tidak akan memaksamu, aku tidak ingin kau bernasib sama seperti Ean.”
Meskipun penjelasan Zex bisa kuterima tetapi itu tetap tidak masuk akal, aku berusaha menepis semua perkataan Zex bahwa yang seperti itu tidaklah mungkin. Namun, bibi Wei segera meraih tanganku.
“Karena kau keturunan yang terakhir Nou, kau belum punya anak, jadi kau adalah harapan terakhir kami, kami tidak akan sanggup jika kehilanganmu lagi. Aku ingat karena kau sering mengeluhkan Zex menyebutmu mirip ibumu, dia benar, kalian berdua keras kepala, kau tahu Nou!”Mata bibi Wei basah, tidak butuh waktu lama untuk membuatnya menjatuhkan airnya.
“Dia bersikeras pergi ke Tora setelah melahirkan kalian berdua, dan dia tidak pernah kembali lagi. Itulah alasan Ean pergi lebih dulu meski Zex sudah melarang, bahwa keturunan kerajaan tidak boleh meninggalkan pulau sebelum ia bisa melahirkan. Untuk mencari ibumu.”
Kenyataan macam apa ini?
“Lalu siapa ayahku?” Aku bertanya-tanya karena jika aku memang punya ibu, setidaknya mungkin ayahku masih hidup."Seperti apa rupa ibuku?"
Tetapi, semua orang di ruangan ini terdiam, Gil cepat-cepat menggeleng menandakan bahwa kali ini dia benar-benar tidak tahu. Sekarang, aku harus mencari tahu asal usulku lebih dulu, ketika aku mengetahuinya, aku baru akan memutuskan untuk pergi atau tetap di sini.Benar. Aku akan melakukan hal yang Ean lakukan, perbedaannya kali ini aku tidak boleh mati.
Aku akan mencari tahu, semua yang disembunyikan dariku.
Jadi untuk menebus kesalahan semua orang, Gil meminta izin Zex untuk membawa Nou keluar, ini akhir bulan menuju tahun baru. Tora ramai sekali dihiasi ornamen natal dan—laki-laki itu sempat membaca soal festival Tebar Bunga—Wei bilang, jika saja semua orang sedang tidak memusingkan soal Nou, mereka pasti sudah ikut menghiasi jalanan.
Terlebih saat menemani Wei berbelanja, salju mulai turun. Anak-anak di sekitar pusat perbelanjaan berteriak senang sambil berseru, “aku akan dapat hadiah natal!”
Di sepanjang blok menuju rumah keluarga Laura, semua toko dihias dengan bunga peony merah muda atau merah tua, jadi Tora menjelma kebun bunga sementara waktu. Beberapa orang juga menghias lilium dan bunga forget-me-not .
“Kau tahu kenapa kau punya tato itu?” Sela Wei waktu Gil terlalu serius memerhatikan rangkaian bunga. Sambil membetulkan posisi tomat yang hampir jatuh.
“Bunga itu simbol kerajaan, mekar dan harum, indah dipandang. Kau sudah punya tato itu sejak lahir, ayahmu yang membuatnya langsung.”
Gil diam saja, nasibnya tidak jauh berbeda dengan Nou. Tetapi Gil sama sekali tidak ingin penasaran siapa ayahnya. Alasannya tidak muluk-muluk, hidupnya di pulau sudah rumpang sejak awal, dan Gil tidak mau ambil pusing.
“Kenapa aku baru tahu ketika sampai di sini? Sedangkan milikmu tidak hilang.”
Wei memerhatikan tato bunga di pergelangan tangannya. “Aku tidak ingin Zex menyembunyikannya. Aku ingin selalu ingat siapa aku.”
“Siapa sangka kita adalah anggota kerajaan, tahu begitu aku tidak akan memandikan babi paman Sam!” Kata Gil menggoda ibunya.
“Dasar anak nakal.” Wei terkekeh sambil menggandeng puteranya. “Aku bersyukur kau tidak dimakan hiu.”
“Jadi katakan padaku, apa kau menyukainya?”
“Apa maksudmu?”
“Ayolah, kau tahu yang kumaksud adalah Nou.”
Dan aku melewati jalan ini lagi, bedanya sekarang bukan dengan ibuku. Nou persis seperti orang igloo dengan topi rajut dari wol berwarna merah dan sweater yang ada bulunya di sekitar leher.
“Kau menertawakanku?”
“Tidak.” Gil menoleh ke arah lain, karena Zex bilang kita tidak boleh pergi lebih dari sepuluh blok, aku memutuskan untuk berbelok ke sebuah taman di samping pusat perbelanjaan tadi, tempat anak-anak berseru soal santa di bawah pohon natal setinggi sepuluh kaki.
“Ayo ke sana.”
Nou menyusulku dengan kaki pendeknya yang payah, tetapi ia tersenyum, seperti sudah lama aku tidak melihat wajahnya yang seperti itu. Kenapa perempuan suka tidak sadar bahwa mereka cantik?
“Wah, ramai sekali,” katanya.
“Sayang sekali kita tidak bisa lebih jauh dari ini, padahal di pusat kota ada festival,” kataku menjelaskan soal acara itu pada Nou.
“Lagi pula kita tidak akan ke sana, untuk apa melihat orang bermesraan?” Sambungku lagi sambil duduk di bangku panjang di ujung jalan, di belakang pagar-pagar tertutup salju.
“Ayo kita ke sana! Seberapa jauh?”
“Mau apa?”
“Tentu saja cari pacar!”
Nou menarik tanganku menjauh dari taman, keluar dari blok pusat perbelanjaan dan keluar dari balik jajaran toko yang sudah dihias. Dia harus berlari kecil untuk cukup membuatku berjalan cepat. Orang-orang ikut hilir mudik dari berbagai arah, aku berusaha tidak menabrak satu pun dari mereka karena Nou mulai tidak sabaran.
“Nou, kita tid—“
Benar saja, sudah kuduga Nou akan menabrak seseorang.
“Dasar ceroboh, sudah kubilang kita tidak boleh ke sana! Maaf Tuan, kami akan berhati-hati.”
Sesaat ketika Nou membetulkan posisi topi rajutnya, pemuda itu justru—tunggu—pemandangan apa ini? Laki-laki itu memeluknya.
“Eh!”
“Ean?” Katanya lirih.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tora : The Thief & The Lost Princess
Abenteuer[Writora : Take Your World 2023] Nou ditemani sahabatnya, Gil. Menjelajahi negara baru setelah terombang-ambing di samudera pasca badai aneh yang menerpa laut bagian selatan pulau Hilang. Zex, si kepala desa kebingungan mencari mereka. Sementara Tor...