A-12

8 1 0
                                    

Semakin malam, salju terasa lebih banyak dibanding kali pertama Gil keluar dari pintu pusat perbelanjaan. Kemuraman jatuh lebih dalam di antara pemuda asing yang bersikukuh mengenal Nou—lebih tepatnya Ean, karena secara bentuk fisik, mereka berdua mirip, hanya berbeda warna mata dan warna rambut saja.

Gil masih bersikap waspada dengan mendorong Nou jauh di balik badannya, menggenggam erat tangannya di antara trotoar dan teras bangunan tua di pusat kota.  Sedangkan Nou makin serius melilitkan mantel bulu naik ke posisi menutupi leher dan mulut.

“Kau salah orang,” sahut Gil dengan suara rendah.

“Benarkah?”

Gil mengangguk, kemudian berinisiatif untuk berbalik ke arah taman dan melesat ke gang-gang sempit menuju rumah Laura di ujung jalan. Tetapi pria berambut sebahu dengan setelan jas—yang Gil tahu akan membuatnya kedingian—persis tidak memedulikan Gil yang ia rasa tidak terlalu penting.

Sekarang ia hanya perlu memastikan gadis di belakang Gil memang bukan orang yang ia kenal.

“Nou, kita harus pergi,” suara Gil hampir berbisik, dengan separuh kepalanya menghadap ke belakang membuat tanpa sadar hidung Gil merapat ke kulit pipi Nou yang dingin.

“Tunggu!” Kataku pada Gil.

Tidak, maksudku, aku tahu pria itu adalah orang asing, tidak ada jaminan bahwa dia bukan antek-antek Jen yang sedang menyamar atau bisa lebih buruk daripada itu. Namun kenyataan bahwa barusan ia menyebut nama kakakku ialah seperti sebuah kunci kompas ajaib.

Kompas yang ini bukan hanya menunjukkan padaku arah mata angin, atau bentang alam yang paling dekat dengan negeri kutub. Lebih dari pada itu, mungkin dari sekian banyak kemungkinan dan hal-hal yang kurang pasti, dia sengaja datang padaku.

“Maaf tapi aku bukan Ean,” ucapku padanya.

“Benarkah?” Kulihat ujung matanya basah dan ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan.

“Kau mengenalnya?”

Pria itu mengangguk, sedetik kemudian dia tersenyum. “Barangkali aku memang salah orang, maaf sudah mengganggu waktu kalian berdua.”

Dengan tanpa selamat tinggal, laki-laki itu lenyap dilahap kerumunan masa di malam natal yang kupikir, membawa sedikit jawaban. Bahwa ada yang mengenal Ean di sini.

Lalu kami memutuskan pulang, Gil sama sekali tidak mengomentari aksiku mewawancarai orang asing tadi, dia juga tidak berspekulasi atau marah karena laki-laki itu tiba-tiba memelukku. Namun di sepanjang gang yang dilengkapi lampu jalan dan membuat kepingan salju menjadi kuning turun ke jalan, Gil tidak melepaskan pegangan tangannya.

“Kau tahu Gil, terima kasih sudah menjagaku.”
Sungguh aku tulus dengan yang satu ini, “setelah apa yang kita lalui, kuharap kau dapat melihatku menjadi lebih baik lagi.“

Dia tersenyum, tidak tahu sedang memikirkan apa.

Ketika pintu rumah Laura diketuk, terdengar bunyi gerendel dibuka setelah beberapa detik. Farah menyambut Gil dan Nou dengan tersenyum sambil membuka lebar pintu. Membuat ruang tengah terekspos memperlihatkan kelompok Savior yang kelihatannya tengah memulai rapat serius.

Di rumah ini setidaknya sepuluh orang asing datang, kecuali Zex, Zed, Wei, Sam dan tentunya keluarga Laura sendiri. Jika dihitung dengan Gil dan Nou, totalnya sembilan belas orang. Beberapa sudah tidak asing untuk Nou, terutama Zed si dukun pedalaman itu.

Selebihnya Nou pikir jika ia baru pertama kali melihat yang lainnya.

“Syukurlah kalian pulang dengan selamat,” kata Farah menuntun Nou masuk. Gil mengekor di belakang.

“Bagaimana jalan-jalanmu?”

“Kami bertem—“ Sebelum Nou menjawab, Gil sudah menodongnya dengan perkataan bahwa jalan-jalan yang tadi amat menyenangkan, lebih menyenangkan daripada malam pesta di pulau, jadi semua orang tersenyum mengira mereka menikmati perjalanannya.

Nou menatap Gil serius, tetapi tidak ada yang bisa dia jelaskan karena kebetulan Zex bangkit dan langsung mengambil suara.
Bersamaan dengan itu, ternyata masih ada satu orang dengan rambut menutupi dahi di tambah kaca mata berbingkai kotak yang turun ke pangkal hidung, area matanya hitam dan cekung yang berlebihan, selain wajahnya, yang lain masih enak dipandang karena setelan jasnya yang mahal. Dia muncul dari lantai dua membawa kertas-kertas yang membuat Nou bertanya-tanya.

“Perkenalkan, ini Peta.”

“Pemimpin kelompok Savior.”

Tiba-tiba Gil maju, meraih kerah laki-laki itu, sama sekali tidak ada keraguan meski Peta jauh lebih tua. “Sedang apa kau di sini?”

Zex buru-buru melerai, kemudian berdiri di antara Gil yang ingin meluapkan amarah entah karena apa, dan Peta yang tidak mengerti mengapa Gil tiba-tiba menyerangnya. “Hey, bung!”

“Kenapa ada anggota kerajaan di sini? Apa dia sedang kampanye?” Kata Gil sarkas menunjuk-nunjuk wajah Peta.

“Rupanya kau sudah kenal dia,” jawab Wei mencoba menenangkan Gil. Perempuan itu segera memberi jarak, mencoba meminta Peta duduk agak lebih jauh karena tahu Gil sulit dikendalikan.

“Jen pernah memberitahuku soal dia! Semua anggota partai sama saja, berdiri di atas kepentingan sendiri!”

Peta terkekeh ketika Gil menyebut perempuan jangkung itu, “aku benar-benar meremehkanmu, anak muda. Kau bahkan sudah bertemu Jen, Kelan benar-benar sudah berbuat terlalu jauh. Dia bahkan berpura-pura menjadi orang lain untuk bertemu denganmu.”

“Aku sama sekali tidak menyalahkanmu karena berbuat begitu, keluarga yang memberimu identitas itu pasti memang berniat menolongmu. Tetapi, sejak kau berada di kantor pengawas pelabuhan waktu itu, Tora sudah dihantui keberadaan kalian, jadi mata-mata pemerintahan tidak akan diam.”

“Ken dan Lui maksudmu?” Tanya Gil.

Peta mengangguk cepat menyadari bahwa Gil setidaknya mengerti situasi yang terjadi sekarang. “Kelan meminta seluruh bawahannya di Depara untuk mencari kalian berdua, termasuk Jen.”

“Bagaimana dengan Ian?” Sahutku pada Peta.

“Ian?”

Aku benar-benar tidak bisa melupakan bagaimana nasib Ian ketika melihat aku hilang setelah makan malam bersama keluarganya. Tetapi aku juga tidak bisa percaya diri bahwa dia akan mencariku. Namun, terlepas dari semua itu, aku hanya ingin tahu apakah Ian bagian dari semua ini, atau..

“Anak tunggal Jen, ya? Dia korban.”

“Syukurlah,” kataku.

“Jadi,” Zex bicara lagi, mungkin menurutnya pembicaraan tadi sudah buang-buang waktu.

“Peta punya informasi untuk kita semua.”

“Bagaimana kita bisa memercayainya,” kata Gil lagi-lagi menatap Peta tidak suka. Sepertinya Gil sama denganku, tidak tahu siapa yang harus dipercaya sekarang. Namun, kemudian Zed mengetuk-ngetuk cawan perunggu di pangkuannya. “Kau bisa percaya pada kami semua, jika itu yang kau khawatirkan.”

Dan semua orang di rumah ini mengangguk.
“Jadi katakan, Peta, apa yang kau dapatkan?”

“Mereka akan melancarkan pandemi jilid ke-dua”

Mata Zex seketika membulat, semua orang ikut berbisik dan saling pandang, aku tidak tahu ini pandemi apa, tetapi aku bisa merasakan bahwa itu buruk. “Apa itu?” Jika pertanyaan itu yang ingin semua orang tanyakan, maka aku juga ingin tahu.

“Tidak, Nou kau tak—“

“Nou, kau sudah di sini, jadi kau tahu caranya menerima kenyataan, bukan? Bahwa itu yang membunuh kakakmu.”

“Pandemi buatan, A-12.”

***

Butuh waktu seberapa banyak untuk menghitung jumlah kepingan salju yang duduk di tanah? Dari jarak setinggi ini, mereka terlihat seperti kapas di jalanan sepi menuju dini hari. Tetapi kepulan asap dari teko yang baru saja datang itu mengingatkan beberapa orang untuk tidak tidur.

“Apa kau benar-benar akan melakukannya?”
Jen menyesap teh oolong panas karena perjamuan ini tidak menyenangkan.

“Kau tidak bisa menyelesaikan apa pun tanpa mengorbankan sesuatu. Lagi pula, aku seharusnya menyalahkanmu karena kehilangan mereka. Tempat macam apa yang kau gunakan sampai mereka bisa menjebol dinding, dasar tolol!”

“Kau kurang uang, Hah?!”

“Kelan, tutup mulutmu,” Jen mengepalkan tangannya yang sudah mulai keriput, “kau pikir apa yang kau katakan dapat membuat hal ini menjadi lebih baik! Kau bahkan tidak melakukan apa-apa.”

Jadi sambil membelakangi tubuh Jen, Kelan mencengkeram kuat-kuat teralis jendela, “akan kulakukan apa saja untuk menghentikan mereka,” Kelan berhenti sejenak.

“Dan menjadi Raja.”




Tora : The Thief & The Lost PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang