Ujian memang selalu menjadi penyiksaan yang berulang-ulang. Kadang terbersit dipikirannya, jika dirinya sedikit lebih pintar apakah ia tidak perlu belajar dengan susah payah. Rasanya semakin hari akhir-akhir ini ia menjadi seorang masokis. Bangun-belajar-bekerja-belajar saja yang dia lakukan. Menghela napas berat, pemuda bersurai putih keperakan itu menuntun sepedanya menanjaki jalanan bukit. Sesekali memandang lemah langit malam tak berawan pun tak ditemani rembulan. Bukankah sekarang hampir memasuki musim panas? Mengapa tidak ada satupun bintang terlihat? Hatinya benar-benar tidak mendapat hiburan.
Menghentikan langkah di depan tangga batu diantara dinding batu, ia menimbang-nimbang untuk naik atau lanjut berjalan pulang. Diam cukup lama, ia akhirnya memarkir sepeda di dekat dinding batu dan melangkah menuju kuil. Dia bukan pemuda yang alim. Kalau boleh jujur ia bahkan mempertanyakan apakah Tsukuyomi dan keluarganya itu bekerja dengan baik di alam dewa. Akan tetapi, ia tetap butuh berkah mereka agar dapat jaminan untuk kenaikan nilai ujiannya. Toh, para dewa disana mungkin akan memandangnya sebagai satu dari sekian manusia yang sedikit kurang ajar dan tidak tahu diri karena berdoa hanya ketika butuh. Tapi dia sendiri juga ingin protes pada para dewa mengapa mereka begitu pilih kasih dengan menciptakannya memiliki kapasitas otak yang terbatas.
Sampai di puncak tangga, iris delima itu menatap bangunan kuil shinto yang sepertinya sudah dibersihkan oleh para kannushi sebelum ditinggalkan. Melewati gerbang tori dan dua patung binatang suci yang mulai hilang bentuknya, ia yang berjalan di jalan setapak batu itu dikejutkan oleh sayup bisik-bisik yang membuat bulu kuduknya merinding.
Manusia ... itu manusia ...
Bodohnya dia, hihihi! Kuil ini sudah kehilangan dewanya! Hihihi! Manusia bodoh!
Dia tidak dengar, dia tidak dengar.
Manusia ... Manusia bodoh ... hihihi!
Ini bukan hal baru untuknya dimaki-maki oleh makhluk tak kasat mata. Akan tetapi, berkat itu ia jadi ingat akan satu hal lagi yang ingin ia tuntut pada para dewa. Yaitu telinga pasirnya yang tidak berguna. Kemampuan yang membuatnya bisa mendengar kekehan hantu-hantu itu benar-benar menjengkelkan. Tidak hanya membuat masa kecilnya menjadi suram, ia sampai harus pergi merantau dengan harapan takkan diikuti oleh makhluk-makhluk itu. Entah dunianya yang sampah atau keberuntungannya yang sampah, kemanapun dirinya pergi akan ada makhluk-makhluk seperti itu berada didekatnya. Menginjakkan kaki di tangga kuil, ia merogoh saku dan menggenggam satu koin erat-erat. Begitu sampai diatas tangga, tempat altar doa berada, ia melempar koin ke kotak persegi besar di depannya dan menepuk tangan tiga kali. Dengan khusyuk ia memejamkan mata, untuk kemudian berdoa begitu tulus dari lubuk hati terdalamnya.
Saya Aikawa Mafuyu, satu dari sekian manusia yang kalian ciptakan hendak memanjatkan doa. Tapi sebelum itu, saya ingin protes lagi mengenai hidup saya yang menyedihkan dan berpotensi tidak memiliki manfaat di masa depan. Dan juga, mengapa sampai hari ini saya masih bisa mendengar suara-suara mereka, Ya Dewa? Apa kalian semua tuli? Saya sudah memanjatkan protes yang sama sejak saya memiliki kesadaran penuh akan suramnya dunia. Mengapa kalian masih tidak menghilangkan kemampuan telinga tak masuk akal ini, huh? Apa kalian tercipta tanpa telinga?
Sekian menit berlalu, ia menyudahi doa dengan hati lega dan lapang. Berbalik meninggalkan kuil, ia menepuk telinganya beberapa kali dan menuju tangga batu. Menuruni tangga sambil memikirkan menu makan malamnya hari ini sambil belajar untuk ujian harian besok. Begitu ia tiba di tangga terakhir, ia dikejutkan oleh kabut tebal yang sebelumnya tidak ada. Menatap sekitarnya bingung, ia pun mendapati sepeda yang harusnya terparkir di dekat dinding batu sudah tidak ada. Ia mengucek matanya berkali-kali. Yakin sekali jika kesadarannya masih terkumpul. Baru ia akan hendak naik kembali keatas tangga, pemandangan tangga batu yang sebelumnya bersih tanpa ada lumut telah berubah hancur seolah telah terkikis hujan selama bertahun-tahun.
“Apa-apaan—“ cicitnya.
Dua belas tahun ia mencecar dewa, apa baru sekarang mereka membalas kekurang ajarannya? Jika iya, itu artinya para dewa sialan itu memiliki telinga. Hanya saja mereka yang nampaknya tidak ingin mendengar doanya. Ia langsung tenggelam dalam pikiran. Mencari cara untuk lolos dengan ilmu yang pernah ia baca di novel-novel supranatural. Namun, suara gemerisik bak benda berat diseret kain sukses membuat bulu kuduknya berdiri. Sekujur tubuhnya pun langsung panas dingin seiring kepalanya patah-patah menoleh kearah sumber suara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kioku no Sora || SoraMafu [ END ]
FantasyUtaite Fanfiction First book of Sore wa Ai to Yobudake Series Achira no Sekai, atau yang disebut sebagai dunia lain dimana makhluk selain manusia tinggal menjadi sebuah dunia yang tabu bila dimasuki manusia. Mereka yang tak sengaja menginjakkan kaki...