6. Dewo Menjadi Begitu Pasrah, Kehilangan Kendali Atas Dirinya

9.7K 140 5
                                    

Ruang itu tiba-tiba penuh dengan denyutan, rentangan, dan hembusan nafas yang terpotong-potong

Rama dengan hati-hati menggerakkan jemarinya, memetakan kontur puting Dewo seperti seorang pianis yang memainkan simfoni yang mendalam. Dia merasakan tekstur puting Dewo yang keras, bagaikan batu permata yang tersembunyi di antara dua gundukan gunung berotot.

 Dia merasakan tekstur puting Dewo yang keras, bagaikan batu permata yang tersembunyi di antara dua gundukan gunung berotot

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dewo, meski kuat, merasakan tubuhnya yang besar dan berotot itu bergetar tak terkendali. Jantungnya berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari dada. Ia merasakan adrenalin, yang biasanya ia rasakan saat mengangkat beban di gym, kini mengalir dengan deras hanya dengan sentuhan dari Rama.

Rama, dengan tatapan yang penuh determinasi, membiarkan jemarinya terus menari melalui puting Dewo, seolah-olah dia sedang berusaha menghidupkan mesin yang paling berbahaya dan paling sensitif di dunia. Ia merasa puting Dewo yang keras dan kenyal di bawah sentuhan jemarinya, seolah-olah dia sedang bermain dengan tombol peledak.

Merasa seolah ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk dadanya setiap kali Rama menyentuhnya. Tubuhnya merespon dengan refleks yang tak bisa dikendalikan, tercabik oleh sensasi mirip sengatan listrik yang menjalar dari dadanya hingga ke ujung kaki, binaragawan itu bergerak ke sana-sini mencoba untuk menghindari sentuhan itu, namun tetap tak bisa lepas dari cengkeraman ikatan yang membelenggunya.

Rama merasa tubuh Dewo bergetar di bawah berat badannya. Ia merasakan otot-otot Dewo mengejang dan berkontraksi, merasakan denyut jantung Dewo yang bertambah cepat dan kuat dalam dada Dewo yang tebal dan berotot. Ia merasa tubuh Dewo berkelana di bawahnya, seolah-olah mencoba melemparkan Rama dari atasnya.

Meskipun ada rasa takut akan kemungkinan Dewo bangkit dan mengambil alih kendali. Kontol Rama belum pernah sengaceng ini, demikian juga kontol Dewo yang menyundulnya dari belakang. Tangan Rama tak bisa berhenti. Pemuda itu terus mengeksplorasi, mencari tahu sejauh mana dia bisa mendorong batas Dewo.

Jemarinya mulai bergerak dengan lebih berani, dengan lebih yakin. Ia memegang puting Dewo dengan ibu jarinya dan telunjuknya. Mereka bertemu di tengah, menekan dan meremas puting Dewo dengan kekuatan yang cukup untuk membuat Dewo menjerit dan menggigil.

Dewo merasakan sensasi perih yang menusuk-nusuk, namun ada juga rasa nikmat yang aneh mendera tubuhnya. Merasakan bagaimana Rama meremas putingnya membuatnya meronta-ronta, tetapi ikatan di pergelangan tangannya menghalangi usahanya.

Tubuh Dewo yang berotot mulai dilapisi keringat tipis, membuat Rama semakin terpikat dan bernafsu untuk menjelajahi setiap inci dari tubuh Dewo.

Rama memilin puting Dewo, jemarinya berputar di sekitar puting Dewo, seperti ingin memolesnya sampai mengkilap seperti batu akik. Dewo yang awalnya berusaha menahan, kini kewalahan, ia menjerit, meminta Rama untuk berhenti.

'Enak aja!' pikir Rama.

Ia meremas dan memutar puting Dewo dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya membelai dan meraba otot-otot Dewo yang mengeras karena menahan rasa sakit dan kenikmatan. Dewo merasakan tubuhnya seolah-olah terbakar, ditambah dengan perasaan malu karena merasakan sensasi yang aneh dan baru bagi dirinya.

PENTIL DEWOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang