"Aku butuh istirahat, you jerk."
Hyunjin terbangun.
"Sorry, dude. I need your room a real quick." Bomin menyeringai jahil. "Or maybe for the whole night."
Yerim sangat gugup. Dia ingin melarikan diri. Tetapi ... ini kesempatannya. Hyunjin suka merebut milik Bomin. Rencana Bomin sudah sangat tepat, di mana dia harus terlihat menyukai sang kawan dari pada pemuda itu. Dia harus bersikap seperti Baby, sebagaimana layaknya seorang gadis pemberani yang melakukan siaran porno semalam. Ketakutan dan keraguan bukanlah Yerim yang pemuda itu kenali. Dia harus tetap pada peran. Yaitu si gadis nakal yang dipuja para lelaki.
Hyunjin berwajah pucat dan kusam. Yerim sedikit terkejut ketika melihat pemuda itu terlihat kacau. Amarahnya memperparah pemandangan, di mana tidak ada senyum apalagi suka cita terlukis di sana. Gadis itu masih pada posisinya menggenggam kedua lengan Bomin, tetapi matanya justru berada pada si pemilik kamar.
"Aku sudah katakan untuk tidak kemari."
"Maaf, aku tak baca pesanmu. I need this room."
"Keparat, jangan ganggu tidurku!"
Bomin cengengesan padahal Yerim sudah takut setengah mati. "Tidurlah di kamar yang lain."
Hyunjin menghambur selimutnya. "Seharusnya kau yang cari kamar lain."
Bomin menyengir, "sorry. Sudah tidak tahan." Dia merangkul Yerim yang berwajah bingung tanpa peringatan. "Kami tidak masalah kalau kau mau melanjutkan tidur. Yerim hanya butuh sedikit tempat."
Yerim otomatis menatap Bomin dengan mata membulat. Dia baru saja mengundang Hyunjin untuk tetap di sana sementara mereka ... ? Apakah dia sadar dengan apa yang dia katakan?
Hyunjin mendecih keras seraya melirik ke arahnya. "Cih, kau pikir aku ini apa?" Wajah pemuda itu buruk sejak awal, dengan pemandangan yang sama dia bangun dari tempat tidur.
Hyunjin hanya memakai kaos putih tipis dengan celana dalam! Yerim otomatis memalingkan wajah setelah dia sadar dan sempat salah fokus.
"Cepat," ucap Hyunjin tanpa berbalik. Dia menjauh menuju pintu, membanting benda itu dengan keras bagai pernyataan pendapatnya tentang apa yang terjadi sekarang.
Yerim jelas sangat murka. Choi Bomin memang sudah gila. Dia mendorong pemuda itu menjauh. Si dia yang tak fokus karena memperhatikan orang lain otomatis terjatuh ke lantai dengan dramatis. Bunyi gedebuk cukup keras terdengar ketika bokongnya menghantam marmer.
"Dasar orang gila!"
Bomin tak habis-habisnya terhibur. Tawa menutupi rasa geram karena diremehkan, suasana hatinya terlalu baik untuk menganggap umpatan sebagai perusak. "Kau harusnya bersyukur."
"Bersyukur? Kau mengusir si pemilik kamar dan ... kau baru saja mengundang dia untuk meniduriku, kan? Beruntung dia menolak!"
Bomin menatapnya tak percaya, ekspresinya sangat menjengkelkan bahkan terasa menyindir. "Bukankah kau ingin dia menyukaimu? Aku sudah membantumu, gadis tak tahu diri. Seharusnya kau menahan dia."
"Dan membiarkan kalian mempermainkanku?"
"You are a toy." Bomin bangun dan tanpa peringatan mendorong Yerim hingga terjatuh. "When you decided to approach us in the first place, you should've known that you'll become a toy."
Kepala Yerim berputar akibat hentakan yang luar biasa. Meskipun kasur empuk, kecepatan ia terjatuh tak main-main. Belum sempat dia memahami situasi, Bomin sudah menghalangi seluruh pandangannya. Dia berusaha bangun namun kedua tangannya diinvasi oleh pemuda itu. Semakin dia berusaha, dia justru tersakiti. Dia terlalu lemah untuk melawan.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE GAMBLER 2: Big League🔞 | TXT & EN-
Fanfic🚫PLAGIAT ADALAH TINDAKAN KRIMINAL🚫 HOTTER, BADDER, BRAVER Kim Yerim bersama kawan-kawan barunya memutuskan untuk membalas dendam pada orang-orang jahat di masa lalu. Namun, akankah semua berjalan sesuai rencana? .Kim Yerim (OC) .Lee Heeseung (ENHY...