Chapter Ten: Triangle - 6

373 47 2
                                    

"Maaf, aku pasti sangat berisik tadi. Tolong, jangan salahkan aku." Dia kemudian berbisik, "kawanmu itu sangat hebat dalam seks."

Hyunjin melotot tanpa sadar, seperti tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Yerim. Melihat tatapan itu si gadis yang akhirnya menamatkan monolognya justru melayangkan tawa yang keras.

"Di balik reputasinya sebagai pria baik-baik, dia pemain seks yang hebat. Kurasa lelaki seperti itu memang berbahaya, ya? Penampilan luar sangat menipu."

Hyunjin bungkam, ekspresinya gelap sekali. Dia menunduk seperti menyembunyikan sesuatu. Yerim tidak tahu apa yang dia pikirkan, tetapi jika dia murka, maka itu bagus. Menciptakan keadaan seakan-akan Bomin lebih baik daripada dirinya tentu akan membakar api cemburu. Meski tidak punya perasaan romantis, harga dirinya pasti tercoreng.

Namun dia tidak mengatakan apapun. Seorang Hwang Hyunjin sedang melamun dengan ekspresinya yang gelap.

Yerim tidak mau bicara lagi. Dia memindahkan semua makanan ke meja, kemudian menyiapkan dua mangkuk nasi panas. Sup dihidangkan di mangkuk lainnya, sementara ikan goreng diletakkan di piring kecil. Makanan yang cukup baik, setidaknya bagi si orang sakit.

Yerim menyiapkan masing-masing dua porsi untuk dia dan Hyunjin di meja makan. Meski pemuda itu mengabaikannya, dia tak masalah. Dia sangat lapar untuk tahu diri sekarang. Makanan yang sudah ia buat dengan susah payah ini tidak akan dia sia-siakan.

"Makanlah dengan banyak, setelah itu kau minum obat. Aku yakin kau akan segera pulih," ucap Yerim dengan senyuman.

Gadis mulai lebih dulu, menyuap sesendok sup yang langsung menaikkan suasana hatinya. Ada beberapa saat di mana ia menyadari kalau Hyunjin memberikan tatapan yang sangat menggurui, tetapi ia mengabaikan itu. Pada akhirnya, tepat seperti dugaannya, dia mengambil sendok dan melahap yang tersedia di meja.

Tidak ada ekspresi berarti ditunjukkan oleh Hyunjin ketika dia makan. Tidak ada indikasi bahwa dia suka atau tidak suka dengan makanan itu. Dia hanya memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyah perlahan-lahan.

"Apa masakanku enak?" Yerim tidak apabila hanya menduga-duga.

Hyunjin mengangkat bahunya. "Acceptable."

Harga dirinya terlalu tinggi untuk memuji.

"Kau tak mau bangunkan kekasihmu untuk makan bersama?" Tiba-tiba saja pemuda itu membahas Bomin. "Kukira kalian berteman dengan baik," lanjutnya diselingi dehem jahil yang dengan sengaja mengindikasikan bahwa dia mengejek.

Yerim tentu saja tidak akan goyah akan itu. "Dan membuatnya mengganggu momen kita bersama? Ah, tidak mau. Dia akan bangun kalau dia lapar."

Hyunjin menyeringai. "Jadi kau memasak semua ini untukku? Kenapa? Kau kasihan?"

"Itu benar." Yerim mengangguk pelan, "aku kasihan. Tetapi tidak itu saja. Aku tahu kau kaya. Aku ingin mencuri hatimu. Aku butuh tempat tinggal. Kalau kau suka masakanku, kau mungkin mau membiarkanku tinggal di sini secara gratis. Atau paling tidak kau bisa berikan aku apartemen di sebelah, jadi aku bisa memasak untukmu kapan saja. Aku lelah kalau harus bekerja untuk membayar sewa. Kau kan kaya. Kau biarkan teman-temanmu tinggal secara gratis. Aku juga mau."

Hyunjin ternganga dan menatapnya tak percaya. "Kau serius?"

Pemuda itu tertawa keras, satu-satunya ekspresi paling tulus yang ia keluarkan hari ini.

"Tentu saja bercanda." Yerim ikut terkekeh, "aku tidak seputus asa itu."

Klarifikasi seperti tidak berguna karena Hyunjin masih tertawa dan tidak mendengarnya sama sekali.

THE GAMBLER 2: Big League🔞 | TXT & EN-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang