💌 : Jangan lupa vote dan ramein komentarnya yaaa.. Biar aku makin semangat nulisnya.
---------------
---------------Believe ...
"Kenapa kau menerima permintaan ayahku?" Lee menyesap americanonya yang sudah dingin.
Jimin menusuk potongan strawberry lalu menyuapkannya pada Lee. "Tidak tau," jawab Jimin sekenanya. "Lalu kenapa kau akhirnya menerimaku?" Jimin menarik satu tisu untuk mengusap sudut bibir Lee.
"Aku lelah menentang ayah," Lee membiarkan Jimin terus menyuapinya dengan potongan buah.
"Jangan berbohong," Jimin mengulum senyum. "Ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku tau!"
Jimin menarik tubuhnya untuk bersandar di punggung sofa. Sesekali mengedarkan pandangan di cafe yang katanya adalah tempat favorit calon istrinya ini.
Hari ini mereka memutuskan untuk melakukan kencan. Berbicara dari hati ke hati. Kata Lee, dia ingin mengenal calon suaminya lebih banyak.
"Sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya dulu." Lee menatap kedua mata Jimin dalam-dalam. Mencari sebuah kesungguhan disana.
"Tanyakan apapun yang ingin kau tau. Aku akan memberitahumu tanpa menutupi satupun."
"Apa kau mencintaiku?" tanya Lee tiba-tiba. Jimin bahkan belum sempat menarik napasnya. Pertanyaan Lee benar-benar cepat dan nyaris membuatnya tersedak.
"Dari sekian banyak pertanyaan kau memilih pertanyaan itu?" tanya Jimin tidak percaya.
"Jawab saja!"
"Aku menyayangimu."
"Sayang? Bukan cinta? Apa itu cukup membuatmu yakin untuk menikahiku?" Lee tertawa tanpa sadar. Sampai ia harus menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Karena kau tidak punya ibu," jawaban Jimin membuat Lee menghentikan tawanya. Seketika ia terpaku menunggu Jimin melanjutkan kalimatnya. "Sejak tuan Lim menceritakanmu masa kecilmu tanpa seorang ibu. Aku menyayangimu. Ingin menemanimu. Ingin melindungimu. Dan ingin membuatmu baha-"
"Stop!" Lee menyisir rambutnya dengan jari-jarinya yang lentik.
"Karena aku juga tidak punya ibu Lee. Aku sendirian. Tanpa ibu dan ayah. Rasa sayangku muncul begitu saja," Jimin terus berusaha menjelaskan pada Lee meskipun gadis itu memintanya berhenti. "Tapi kau memiliki ayah yang menyayangimu, jadi-"
"Ayahku ingin membunuhku."
Jimin terdiam selama dua detik. Jantungnya berpacu dengan cepat ketika mendengar sesuatu yang tidak ia percaya sama sekali.
"Tunggu!" Jimin memajukan tubuhnya. Kedua sikunya bertumpu di atas paha. "A-ayah siapa maksudmu?"
Lee memutar kedua bola matanya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghelanya perlahan. Ia meraih gelas tinggi milik Jimin berisi jus strowberry yang tinggal setelah lalu menyesapnya sampai habis.
"Ayahku. Kau tidak bodoh kan?" Lee menyilangkan kaki setelah meletakkan gelas yang sudah kosong.
"Ayahku ingin membunuhku. Entah apa alasannya."
"Apa ini berhubungan dengan rasa sakit yang sering kau rasakan? Kata bibi Han itu hal yang biasa," suara Jimin kian lirih saat melihat mulai banyak pengunjung yang datang.
"Kau mau kita pindah ke tempat lain?" tanya Jimin ketika melihat Lee mulai tidak nyaman. "Ayo kita pindah."
Jimin sudah berdiri dan mengulurkan tangannya. Tapi Lee masih menahan diri untuk tidak menyambut tangan Jimin.

KAMU SEDANG MEMBACA
PARK & LEE
FanfictionJimin bertekad mencari manusia yang sudah menghancurkan hidupnya lima belas tahun yang lalu. Hingga akhirnya ia membangun sebuah firma hukum dibantu oleh Hae Mi dan teman-temannya. Siapa sangka di tengah pencarian itu Jimin justru bertemu dengan se...