Disclaimer : Cerita penuh konflik. Jangan dibaca dalam kondisi hati gamang.. tapi inget ini hanya fanfiction. 💚
.
Lorong Seoul Medical Center tampak lengang, lantai 5 merupakan lantai yang dikhususkan untuk pasien ibu dan anak. Pasien yang melahirkan serta anak-anak yang sakit berada di lantai yang sama. Seorang pria berusia 32 tahun duduk di sofa salah satu ruang inap dengan kelas VVIP. Matanya menatap lurus pada ranjang pasien dengan seorang anak kecil yang kini masih terbaring dan belum sadarkan diri. Chenle.
Mark masih terngiang-ngiang dengan ucapan dari dokter spesialis anak yang baru saja bicara dengannya. Chenle sendiri baru dipindahkan ke ruang inap setelah masa kritisnya lewat.
"Benzodiazepin. Senyawa itu berada di dalam tubuh anak anda. Chenle masih terlalu kecil, pemberian obat dengan kandungan tersebut menghambat aktifitas geraknya karena efek dari penggunaannya memang menenangkan dan memicu kantuk berlebih. Sebenarnya Benzodiazepin termasuk dalam golongan obat keras, ada beberapa obat dengan kandungan Benzodiazepin di dalamnya yang dijual bebas di apotik. Namun tetap saja berbahaya bagi anak sekecil Chenle."
"Saya tidak menuduh anda, melihat dari raut khawatir anda ketika membawa pasien ke IGD. Hanya saja siapapun itu, yang mengurus dan berada di dekat anak anda, jauhkan dia. Perbuatannya ini... jika memang direncanakan dan disengaja, dapat berakibat fatal bagi buah hati anda."
Lamunan Mark terpecah kala mendengar lenguhan halus nan samar dari bibir mungil kemerahan Chenle. Mark mendekati ranjang Chenle, memperhatikan dengan seksama paras sang anak yang begitu mirip dengan kedua orangtuanya. Seakan Tuhan menciptakan Chenle dengan perpaduan dirinya dan Haechan. Mark dapat melihat pantulan dirinya sendiri maupun Haechan pada Chenle.
"M—mom.... Chann.... Mmm"
Mata Chenle masih terpejam, dokter berkata jika efeknya memang akan segera hilang setelah dinetralisir namun tetap saja membutuhkan waktu hingga Chenle sadar. Tangan Mark mengusap pelan dahi Chenle, ada sebuah perasaan yang kembali muncul di dada Mark. Rasanya begitu asing dan kentara. Ibu jari Mark masih mengelus dahi Chenle yang mulai berkeringat.
"Chenle... Chenle.. anakku...."
---
Mark kembali ke rumahnya di pagi hari, setelah semalaman berada di Seoul Medical Center menemani Chenle. Mark membuka pintu kamarnya dan mendapati Yeri yang masih tertidur lelap, nyenyak sekali. Mark menatap wajah kekasih wanitanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejurus kemudian Mark beralih ke ruang kerjanya, membuka laci dan mengambil map lalu membukanya.
Surat persetujuan perceraian. Mark belum menandatanganinya, apalagi mengirimkannya ke pengadilan Seoul. Perasaan Mark semakin tidak menentu kala mendapati tanda tangan Haechan yang sudah tertoreh di sana. Jika awalnya Mark merasa bahwa hari pembebasannya akan segera tiba, maka kali ini Mark merasakan sesuatu yang berbeda. Entah kenapa Mark merasa..... bimbang.
Mark menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, menengadah dan mengusak wajahnya kasar. Mark meminta bantuan pada Taeyong mom-nya untuk menjaga Chenle hari ini. Bisa ditebak jika Taeyong benar-benar murka. Marahnya Taeyong masih di level normal jika hanya sekedar mengumpat, mengucapkan sumpah serapah ataupun teriakan melengking hingga tamparan. Namun Mark paham bahwa bubu-nya kali ini bukan hanya marah, murkanya Taeyong itu adalah diam. Diamnya Taeyong adalah hal yang paling Mark hindari selama hidupnya.
Jaehyun mengambil alih telepon yang awalnya digenggam Taeyong dan melanjutkan pembicaraan dengan Mark dini hari tadi. Bahkan Jaehyun yang begitu kalem pun menunjukkan emosinya kala mendengar nyawa Chenle sempat terancam. Apalagi setelah Mark mengungkapkan alasannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEAVEN [END]
FanfictionHaechan Suh tidak pernah meminta untuk dilahirkan tanpa diberikan kasih sayang, tidak pernah meminta untuk menikah tanpa dicintai. Bagaimana jika hati yang begitu kuat telah mencapai batasnya? Bukankah benar yang dikatakan bahwa seseorang tidak aka...
![HEAVEN [END]](https://img.wattpad.com/cover/355391789-64-k908308.jpg)