Ceritanya sangat random karna aku lagi kurang ide jadi maaf ya kalo aneh atau ada kesamaan sama ceritanya author lain (note: typo dimana mana)
-----------------------------------------------------------Saat itu seven dan zero sedang mengalami pertengkaran (lagi), pertengkaran itu cukup hebat karna para ultra yang sedang lewat ruang seven saja bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi di tengah perdebatan zero ga sengaja keceplosan untuk mengatakan pertanyaan yang lama dia sembunyikan,
"Kalau begitu kenapa oyaji dulu setuju untuk mengasingkan aku?!" Kata zero dengan keras,seven yang mendengar itu hanya diam dia masih kecewa dengan dirinya saat dia melakukan itu dan zero yang sadar apa yang dia lakukan langsung terkejut,
"Oyaji...aku minta maaf..aku tidak sengaja bilang" kata zero yang melihat ayahnya terdiam
"Oyaji? Maafkan aku" kata zero lagi
"Kau tadi mau keluar dari ruanganku kan? Keluarlah" kata seven nadanya datar
"Oyaji ma-"
"Keluarlah"Akhirnya zero keluar dari ruangan seven dengan perasaan bersalah dengan apa yang ia bilang ke ayahnya. Seven hanya pergi ke tempat duduknya dan diam tanpa dia sadari dia perlahan mulai menangis sedikit, dia selalu merasa kecewa,marah,dan bersalah dengan apa yang dulu dia lakukan ke zero dan selalu mencoba untuk menjadi ayah yang lebih baik tapi saat zero mengatakan itu dia rasa seperti dia telah gagal.
Para ultra kyodai mendengar apa yang terjadi dari taro dan zoffy mulai sedikit khawatir karna zero itu ultra yang jarang merasa bersalah dan kalau dia merasa bersalah, dia sudah melakukan kesalahan cukup besar,
"Jadi begitu zoffy-nii" kata taro yang baru saja selesai menceritakan apa yang dia dengar dan lihat
"Hmm..baiklah Ace kau cek seven dan mebius kau cek zero" saya zoffy
"Baik niisan!" Kata Ace dan mebius bersamaan
"Tapi zoffy-nii,zero dimana?" Tanya mebius
"Kemungkinan di taman karna saat itu mereka bertengkar juga aku menemukannya disitu" kata jack
"Baik terimakasih jack-nii" kata mebius yang lalu pergi bersama dengan Ace untuk pergi ke zero dan seven.Ace pergi ke ruangan seven dimana disana sangatlah sunyi yang ada hanya suara orang melangkah dan berbisik, Ace pun sampai di ruangan seven dan mengetuk pintu,
"Seven-nii, apakah aku boleh masuk?" Tanya ace tapi tidak ada jawaban
"Seven-nii? Apakah kau didalam?" Tanya ace lagi yang sedikit bingung
"Apa yang kau mau?" Tanya seven dari dalam
"Apakah aku boleh masuk?" Tanya ace
"{Menghela nafas} baiklah" kata seven akhirnya Ace masuk keruangan seven dan menutup pintu, dia melihat seven yang sedang duduk di kursinya terlihat entah kecewa, marah, kesal, atau sedih,"Seven-nii,aku dengar apa yang terjadi apakah niisan baik baik saja?" Tanya ace
"Ya sepertinya,apa intinya kau kesini?" Tanya seven
"Zoffy-nii memintaku untuk mengecek niisan" kata Ace
"Untuk apa? Aku baik-baik saja" kata seven
"Niisan,kalau niisan mau menangis tidak apa-apa" kata Ace
"Aku? Menangis? Untuk apa?" Kata seven
"Niisan,kau tahu niisan kecewa dengan diri niisan di masa lalu tapi niisan sudah mencoba untuk menjadi ayah yang baik untuk zero" kata Ace
"Tapi aku tetap gagal" kata seven
"Sebenarnya aku juga sering merasa gagal menjadi ayah yang baik bagi Z, aku masih mengingat saat dia menangis dan aku tidak bisa melakukan apapun karna kebingungan" kata Ace
"Aku juga ingat saat itu taro datang ke aku,merasa kecewa karna dia merasa gagal menjadi ayah yang baik untuk Taiga" kata Ace
"Lalu? Setidaknya kalian tidak mengasingkan anak kalian" kata seven
"Itu adalah satu satunya pilihan kita saat itu, sudahlah niisan semuanya sudah berlalu biarkan itu menjadi masa lalu dan fokuslah ke masa depan" kata Ace yang akhirnya membuat seven perlahan menangis lagi, Ace terkejut dia tidak pernah melihat seven menangis dan entah kenapa saat melihat seven menangis dia merasa kasihan akhirnya Ace pun mencoba menenangkan seven.Mebius sampai ke taman dan melihat zero yang sedang duduk di bangku, zero terlihat kesal, bersalah, dan sedih akhirnya mebius pun mendekatinya,
"Zero-san" panggil mebius
"Mebius-san,apa yang kau inginkan?" Tanya zero
"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya mebius
"Tidak sama sekali,aku tidak sengaja mengatakan hal buruk di depan oyaji" kata zero
"Zero-san..aku yakin seven-nii akan memaafkanmu jika kau inta maaf karena dia adalah ayahmu" kata mebius
"Tidak mungkin dia akan sangat marah kepadaku" kata zero
"Pasti seven-nii akan sedikit kecewa,tapi saat niisan mengasingkanmu seven-nii merasa kecewa pada dirinya sendiri selama bertahun-tahun hingga terkadang seven-nii berharap untuk ke leo-nii untuk menjemputmu tapi tau waktunya belum tiba" kata mebius
"Tidak mungkinlah" kata zero
"Itu benar zero,aku tidak berbohong" kata mebius dan zero akhirnya marah
"APA YANG KAU PAHAM MEBIUS-SAN ?! Kau hanya disini karna paman zoffy memintamu kan?! " Kata zero marah sambil mencengkram lengan mebius dengan sangat keras
"Zero-san...sakit" kata mebius yang kesakitan
"Aku tidak mau tau! Yang penting aku sudah tidak mau berurusan denganmu yang hanya menjadi beban!" Kata zero marah yang akhirnya mendorong mebius hingga dia terjatuh,
"Aku...beban?" Tanya mebius
"Ya! Kau harus selalu diselamatkan sementara kita yang kewalahan menyelamatkanmu!" Kata zero marah yang tanpa sadar membuat mebius menangis,
"Maafkan aku kalau kau berpikir begitu" kata mebius yang menangis sambil memegang lengannya yang sakit karna dicengkeram zero keras, zero yang akhirnya sadar apa yang dia lakukan pun terkejut,
"Zero-san..apa yang kau lakukan?" Tanya seseorang di belakang mereka
"Taiga-san..X-san...." kata zero terkejut taiga pun ke mebius yang ditanah menangis sambil memegang lengannya yang sakit,

KAMU SEDANG MEMBACA
Ultraman fanfic
Fanfictionini versi Indonesia dari buku yang itu, tapi ceritanya sama (kemungkinan?).... dah lah (Ultraman milik Tsuburaya production aku hanya meminjam karakternya)